100100 Voting: 999,879,658

Ahn Hyang-yeon


Nilai kecantikan dapat berbeda-beda menurut orang dan zaman. Tetapi, satu hal yang tidak akan berubah adalah bahwa perempuan bisa berbuat apa saja demi menjadi cantik. 
 
Masyarakat kuno Korea sering mengatakan bahwa wanita cantik tidak panjang umur. Ini artinya bahwa kecantikan sering tidak sesuai dengan keberuntungan. Dalam perjalanan sejarah, terdapat banyak kisah tentang wanita cantik yang menderita gara-gara kecantikannya. Ada seorang wanita yang cantik dalam bidang Pansori Korea.

Penyanyi master Ahn Hyang-yeon (안향연) menikmati masa kejayaannya pada tahun 1970-an, lalu meninggal usia muda pada awal tahun 1980-an. Dia lahir di Gwangsan, Provinsi Jeolla Selatan pada tahun 1944. Ayahnya Ahn Gi-seon adalah seorang guru nyanyian Sori yang terkenal pada saat itu. Berkat ayahnya, dia bisa belajar Sori sejak usia dini.

Pada tahun 1960, dia menjadi seorang murid penyanyi master Chung Eung-min yang terkenal dengan Sori Boseong dan dia mengembangkan ketrampilan bernyanyi Sorinya. Pada masa awal, Ahn Hyang-yeon belajar bernyanyi Sori dari penyanyi pria di daerah. Seorang penyanyi master wanita Kim So-hui terpesona akan suara khas Ahn, lalu menawarkannya untuk menjadi muridnya. Dengan demikian, Ahn Hyang-yeon pindah ke Seoul dan memperoleh ketrampilan dan teknik bernyanyi sebagai penyanyi Sori wanita. Bersamanya dia dapat memahami aliran Pansori modern juga.

Pada umumnya, orang-orang berpikir seorang penyanyi Pansori atau nyanyian narasi tradisional Korea bersuara serak. Beberapa cerita tentang penyanyi Pansori menjelaskan bagaimana seseorang harus berlatih bernyanyi sampai sebatas meludah dengan darah untuk menjadi seorang penyanyi Pansori. Tetapi, suara penyanyi Ahan Hyang-yeon memecahkan prasangka kebanyakan orang tentang penyanyi Pansori. Suaranya merdu dan jelas. Selain itu, dia berparas cantik. Oleh karena itu, dia berperan sebagai tokoh utama dalam opera tradisional Korea yang disebut Changgeuk yang disiarkan dalam televisi pada tahun 1970-an. Pada tahun 1981, Ahn Hyang-yeon merupakan penyanyi Sori yang paling banyak dicari oleh stasiun penyiaran bersama dengan penyanyi Sori Cho Sang-hyeon.

Tetapi pada usia 30-an, Ahn melakukan bunuh diri. Meskipun ada berbagai spekulasi mengapa dia mengakhiri hidupnya sendiri, nampaknya dia tidak tahan menyaksikan posisi musik tradisional menurun dalam penyiaran dan peranan musisi klasik makin hari makin berkurang. Melalui kehidupan Ahn Hyang-yeon ini, kita bisa menduga kesulitan yang dialami oleh musisi klasik Korea pada masa lalu.



Source : KBS world
Shareby TR@IniSajaMo
Baca Selengkapnya..
Artikel "Ahn Hyang-yeon" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori alat musik koreasejarah. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2012/03/ahn-hyang-yeon.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Selasa, 27 Maret 2012, pukul 18.57. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Orang Goguryeo Yang Menguasai 'Jalur Sutra,' Go Seon-ji

  
Pahlawan Di Dalam Sejarah Dunia
Seorang ahli purbakala merangkap penjelajah yang berasal dari Inggris bernama Aurel Stein mengevaluasi lebih tinggi terhadap seorang Goguryeo bernama 'Go Seon-ji' daripada pemimpin perang terhebat dari Kartago, Hannival atau pahlawan dunia Napoleon. Alasannya adalah karena Go Seon-ji berhasil menguasai daratan di Asia Tengah sekitar 'Jalur Sutra' atau jalur perdagangan pada abad ke-8. Kalau begitu, bagaimana Go Seon-ji dapat menjadi pahlawan yang menguasai Jalur Sutra?


Melakukan Ekspedisi Sebanyak 5 Kali Sebagai Jenderal Cina Ke Asia Tengah
Walaupun diperkirakan Go Seon-ji adalah keturunan Goguryeo yang diruntuhkan oleh kerajaan Tang, Cina pada tahun 668, tahun lahir atau informasi lebih tepat mengenai keluarga belum diketahui secara pasti. Namun, lewat catatan sejarah dari buku kuno Cina, Go Seon-ji adalah keturunan dari orang Goguryeo yang dikirim ke kerajaan Tang secara paksa setelah Goguryeo runtuh.

Ayah Go Seon-ji, yaitu Go Sa-gye menjabat sebagai jenderal di lembaga kepemimpinan 'Anseo Dohobu' yang terletak di bagian barat dari Jalur Sutra dan dijadikan pintu gerbang menuju negara Barat. Dengan kata lain, 'Anseo Dohobu' bertugas untuk mengontrol para pedagang yang pergi ke negara Barat lewat Jalur Sutra dan mencegah invasi dari negara Barat. Oleh sebab itu, pertempuran terus terjadi di daerah tersebut, sehingga Go Seon-ji yang tumbuh di wilayah tersebut belajar seni bela diri sejak masih kecil dan telah menjadi jenderal dalam usia 20 tahun.

 Mengibarkan Namanya Di Jalur Sutra
Jenderal Go Seon-ji berhasil menguasai sebuah daerah 'Dalhaebu' yang menantang kerajaan Tang pada tahun 741. Namun, itu hanya awal dari kejayaannya. Pada abad ke-8 ketika kekuatan atau persaingan antara dunia Islam dan kerajaan Tang terasa sangat ketat, dunia Islam yang menguasai Asia Barat ingin menyampaikan budayanya ke arah Timur, serta kerajaan Tang yang menguasai Asia Timur juga ingin menyampaikan budayanya ke arah Barat. Di tengah-tengah keadaan serupa itu, jenderal Go Seon-ji dikirim ke pegunungan Pamir untuk bertempur. Sebenarnya, pegunungan Pamir sulit untuk ditempuh, namun Go Seon-ji berhasil menaklukkan pasukan Tibet dan berhasil menguasai bagian utara dari Pakistan.

Selain itu, jenderal Go Seon-ji menaklukkan 72 negara di Asia Tengah, sehingga mampu menyebarkan kekuatannya. Setelah itu, dia berhasil bertempur di daratan Asia Tengah sebanyak 3 kali, sehingga dijuluki sebagai 'Raja di Jalur Sutra'. Demikianlah, dia cukup mengibarkan namanya, namun kejayaannya tidak begitu lama berlangsung.

Keturunan Goguryeo Membuka Pintu Budaya Antara Dunia Barat Dan Timur
Sejalan dengan tersebarluaskannya kekuatan kerajaan Tang, Cina sampai daerah Turkestan, kerajaan Abbasiyah melakukan serangan terhadap kerajaan Tang dengan mengirimkan pasukan Islam pada tahun 751. Peperangan itu dikenal sebagai Pertempuran Talas yang dicatat sebagai perang pertama dan terakhir antara dunia Arab dan Cina. Namun, pasukan Go Seon-ji yang hanya beranggotakan 30.000 prajurit dikalahkan oleh pasukan Islam yang berjumlah 300.000 orang.

Walaupun jenderal Go Seon-ji berhasil memadamkan pemberontakan dari Ahn Nok-san pada tahun 755, namun akibat pengkhianatan dari jenderal Tang yang cemburu terhadap Go Seon-ji, akhirnya dia dieksekusi di dalam medan perang. Meskipun kematiannya sangat memilukan, setelah Pertempuran Talas, pertukaran budaya antara dunia Islam dan kerajaan Tang dilaksanakan secara aktif. Dari segi itu, kehidupan Go Seon-ji menorehkan tinta emas dalam sejarah pertukaran budaya antara dunia Timur dan Barat.



Source : kbs world kr.co.
TR@IniSajaMo

 

 

Baca Selengkapnya..
Artikel "Orang Goguryeo Yang Menguasai 'Jalur Sutra,' Go Seon-ji" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori sejarah. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2012/03/orang-goguryeo-yang-menguasai-sutra-go.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Jumat, 23 Maret 2012, pukul 18.13. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Loyalis Park Je-sang




Teladan Sebagai Loyalis

Para sarjana atau ilmuwan pada masa lalu berupaya untuk mengibarkan namanya dengan menimba ilmu dan memimpin rakyat. Namun, menjadi loyalis sejati tidak begitu mudah dilaksanakan, karena tidak boleh ragu-ragu memberikan ungkapan yang benar kepada raja dan kadang-kadang harus menyerahkan jiwanya. Namun, ada seorang loyalis sejati yang rela menyerahkan jiwanya di era kerajaan Shilla.

 Menuju Ke Negara Musuh

Menurut biografi Park Je-sang dari buku sejarah 'Samguksagi', Park Je-sang yang lahir pada tahun 363 adalah keturunan dari pendiri Shilla Park Hyeokgeose dan juga keturunan dari raja ke-5 dari Shilla. Sejak masih kecil, Park Je-sang sangat pintar dan gagah. Saat dia memenuhi tugasnya sebagai pejabat negara di pemerintah daerah, dia disuruh oleh raja Nulji untuk masuk ke istana.

Pada waktu itu, raja Nulji merasa cemas akibat dua orang adik yang menjadi tawanan di negara musuh. Sebenarnya, ada kebiasaan di Shilla dimana mengirimkan anggota keluarga raja ke negara musuh untuk mencegah serangan dari negara kuat. Ayah dari raja Nulji, yaitu raja Naemul juga mengirimkan adik sepupunya bernama Shilseong ke Goguryeo, maka Shilseong tinggal di sana selama 10 tahun, sampai dia naik tahta menjadi raja pada tahun 401 sebagai pengganti putra mahkota yang masih kecil yang nantinya merupakan raja Nulji. Setelah Shilseong menjadi raja, dia juga mengirimkan dua putra dari raja Naemul ke negara lain, yaitu Misaheun ke Jepang dan Bokho ke Goguryeo untuk melakukan tindakan balasan kepada raja Naemul yang mengirimkan dia ke Goguryeo sebagai tawanan. Akibatnya, raja Nulji merasa cemas terhadap peristiwa itu, maka dia melakukan curhat kepada Park Je-sang. Setelah mendengarkan kecemasan dari raja, Park Je-sang langsung menuju Goguryeo, walaupun tidak ada perintah raja.

Menyelamatkan Bokho Dan Misaheun

Park Je-sang yang menghadapi raja Jangsu di Goguryeo pada tahun 418 bernegosiasi dengan bijaksana, sehingga berhasil membawa adik raja Nulji, yaitu Bokho ke Shilla. Setelah itu, dia langsung bertolak ke Jepang untuk menyelamatkan Misaheun, namun Jepang bukanlah negara mudah untuk dibujuk seperti halnya Goguryeo. Oleh karena itu, Park Je-sang sengaja memohon kepada raja Nulji untuk menyebarkan desas-desus bahwa 'Park Je-sang melarikan diri ke Jepang dengan mengkhianati Shilla'. Akhirnya, Park Je-sang berhasil memperoleh kepercayaan dari raja Jepang.

Pada waktu itu, Jepang siap untuk menyerang Shilla terlebih dahulu. Sehingga, Jepang ingin memanfaatkan Park Je-sang sebagai pelaku utama untuk menyerang Shilla. Di tengah-tengah kekacauan Jepang yang siap untuk berperang, Park Je-sang mengungkapkan jati dirinya untuk Misaheun, yang telah disandera selama 30 tahun sejak berusia sepuluh tahun, dan membantunya melarikan diri ke Silla dalam kabut.

Saya Bawahan Dari Shilla

Di depan raja Jepang yang marah, dia mengatakan, "Saya adalah orang Shilla dan datang ke Jepang untuk menyelamatkan putra demi raja saya. Tugas saya telah selesai, maka bunuhlah saya.' Penampilannya malah membuat raja Jepang terharu, sehingga raja Jepang minta kepada Park Je-sang untuk menjadi bawahannya. Namun, Park Je-sang menolak dan akhirnya dieksekusi.

Raja Nulji yang mendengarkan hal tersebut memberikan jabatan tinggi kepada Park Je-sang dan menjadikan putri kedua dari Park Je-sang sebagai isteri Misaheun. Namun, isteri dan 3 putri lain dari Park Je-sang meneteskan air mata di bukit Chisulryeong dengan memandang ke arah Jepang. Setelah itu, katanya 3 putri itu terbang dengan menjadi burung, dan isteri menjadi batu di lokasi itu. Park Je-sang memiliki kesetiaan untuk tanah airnya dan isterinya membatu, karena dia menunggu sang suami yang tidak kembali ke sisinya. Mereka semua menunjukkan kesetiaan konsisten.
 


Source : kbs world

Baca Selengkapnya..
Artikel "Loyalis Park Je-sang" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori sejarah. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2012/03/loyalis-park-je-sang.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Jumat, 16 Maret 2012, pukul 00.27. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :
 
Is Hosted by Blogger