100100 Voting: 999,879,658

Rasa Cinta Pada Dunia Part 2

Peringatan sekaligus ancaman bahwa akan menderita kerugian dan ditunggu siksa neraka bagi orang yang memikirkan dunia dengan sedikit mengingat akhirat, tertuang dalam firman Allah berikut :

وَأَثَرَالحْيَوَةَالدُّنْيَا - فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوَى ( النازعات : 38 - 39 )
Artinya: Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia - Maka neraka jahimlah tempatnya (Qs.79 : 38 - 39).

Ayat tersebut kiranya mampu menyadarkan kita bahwa saat ini hampir semua orang terancam neraka jahanam. Betapa tidak, manusia yang lalu lalang di jalan di kantor, bekerja di pabrik, sawah, belajar di sekolah dan perguruan tinggi, adalah untuk mempersiapkan bekal dunianya. Dan kehidupan akhirat hanya menempati urutan nomor sekian dalam persiapan hidupnya, bahkan sama sekali tidak terpikir. Memang kebiasaan mereka ketika diingatkan, berdalih dan berucap dunia - akherat, tapi prakteknya hanya dunia yang mereka bahas dan persiapkan.

كَلاَّ بَلْ تُحِبُّوْنَ الْعَاجِلَةَ - وَتَذَرُوْنَ اْلاَخِرَةَ ( القيامة : 20 - 21 )
Artinya: Sekali-kali tidaklah keadaan seperti yang kamu katakan! Tetapi sebenarnya kamu mencintai kehidupan dunia, - dan meninggalkan kehidupan akhirat. (Qs. 75 : 20 - 21)

Manusia sangat khawatir melarat dan miskin di dunia, tapi tidak pernah takut melarat dan miskin di akhirat. Mereka berusaha agar tidak diremehkan dan terhina di dunia, sementara kehinaan dan kesegsaraan ahirat yang mengancam sedikitpun tidak gentar. Orang berusaha mati-matian untuk mendapatkan kemewahan dan mencapai kesejahteraan dunia (yang fatamorgana), sedangkan kemewahan dan kebanggaan akhirat yang ditawarkan Allah sama sekali tidak menarik perhatian mereka.

اِنَّ هَؤُلآَءِ يُحِبُّوْنَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُوْنَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيْلاً (الانسان : 27 )
Artinya: Bahwasannya mereka orang-orang yang kafir itu menyukai kehidupan dunia, dan tidak mempedulikan timbal belakangnya, yaitu `hari yang sangat berat`. (Qs. 76 : 27)

Kala seseorang tersandung masalah pidana atau perdata, mereka rela berkorban harta untuk menyewa pengacara, menyuap hakim atau jaksa dengan uang sekian puluh bahkan ratusan juta agar terhindar dari kekalahan atau hukuman. Tapi ketika (tanpa disadari) mereka terancam kemelaratan dan hukuman siksa akhirat karena kelalaian dan pelanggaran agama yang dilakukan, mereka tetap tenang seolah ancaman itu tidak ada. Manusia tidak menggubrisnya sedikitpun. Pada mulanya sifat dan pola pikir ini hanya dimiliki orang-orang (kafir) yang tidak percaya hari akhirat. Tapi jika orang yang lahirnya mengaku beriman, ternyata juga berpola hidup seperti itu, maka berarti ketularan sifat-sifat kafir.

Semuanya berpulang kepada diri kita masing-masing, kesejahteraan mana yang kita pilih, dunia atau akhirat. Allah memberikan kebebasan untuk memilih, mengekang nafsu kebebasan di dunia untuk menuai kebebasan di akhirat, atau melepaskan nafsu bebas, mewah di dunia dengan konsekwensi menanggung hasil hampa di akhirat. Besakit-sakit dahulu besenang-senang kemudian atau bersenang-senang dahulu bersakit-sakit kemudian. Inilah tawaran yang diberikan Allah itu :

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيْهَا مَانَشَاءُ لِمَنْ نُرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلهَا مَذْمُوْمًا مَدْحُوْرًا (الاسراء : 18)

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan sementara ini*) Kami berikan sekarang juga, berapa saja kami kehendaki dan kepada siapa saja yang Kami sukai. Kemudian Kami sediakan baginya neraka yang akan membakarnya sebagai orang yang nista dan terbuang.
*) Kehidupan duniawi atau keuntungan duniawi, sebagai tuntutan yang mendesak. (Qs, 17 : 18)

وَمَنْ اَرَادَالاَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَتْ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (الاسراء : 19)

Dan siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dia berjuang dengan gigih untuk mencapai cita-citanya sebagai seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang terpuji. (Qs. 17 : 19)


كُلاًّ نُّمِدُّ هَؤُلاَءِ وَهَؤُلاَءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُوْرًا (الاسراء : 20 )

Kepada masing-masing golongan, baik golongn ini maupun golongn itu, Kami limpahi terus karunia dari Tuhanmu. Karunia itu diberikan tanpa pilih bulu 1).
1)Didakam perlombaan mencapai kebahagiaan hidup di dunia ini, terdapat dua golongan yang bersaing ialah ; Golongan kebendaan (Materialis) dan golongan kerohanian (idealis, keagamaan). Terhadap dua golongan ini Tuhan tidaklah pilih kasih dalam memberikan karunia-Nya, apaklah itu golongan meterialis atau golongan idealis (keagamaan), tidak perduli. (Qs. 17 : 20)
اُنْطُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلْلاَخِرَةَ اَكْبَرُ دَرَجَتٍ وَاَكْبَرُ تَفْضِيْلًا (الاسراء : 21
Perhatikanlah bagaimana Kami melimpahi yang sebagian berlebih dari yang lain. Sudah pasti dalam kehidupan akhirat jauh lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar kelebihannya. (Qs. 17 : 21)


Setiap saat kita harus selalu menyempatkan diri untuk menengok kembali sudah seberapa jauh kesiapan kita menghadapi kehidupan tersebut. Jika untuk dunia yang masa hidupnya hanya beberapa puluh atau ratus tahun saja manusia jungkir balik untuk memenuhi kebutuhannya. Maka akhirat yang abadi tentu membutuhkan waktu, konsentrasi dan usaha yang lebih banyak daripada waktu dan konsentrasi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dunia. Kalau di dunia kita sudah punya rumah, sudahkah kita berikan sedekah untuk rumah di akhirat ? Di sini tiap hari kita butuh makanan untuk mengisi perut, sudah adakah paket makanan yang dikirimkan ke akhirat (dengan memberi makan kepada fakir miskin, yatim piyatu) untuk keperluan perut kita di sana ? Kita selalu mempersiapkan untuk anak-anak kita kehidupan duniawinya, terpikirkah oleh kita untuk mempersiapkan bekal hidup akhiratnya ? Perlulah kiranya memberikan ruang berpikir yang seimbang dalam hidup kita antara kebutuhan dunia dan akhirat, agar tidak menemui penyesalan nantinya. Menumbuhkembangkan ingatan yang terus menerus dan sungguh-sungguh terhadap kondisi kedua kehidupan itu secara bersama-sama.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah sudahkah kita merumuskan ayat-ayat tersebut dalam kenyataan hidup kita ? Sudahkah kita memikirkan persiapan bekal di akhirat seperti halnya kita memikirkan bekal hidup di dunia ? Perlu kiranya segera banting setir agar sesuai dengan petunjuk Allah yang lurus. Setelah kita tahu begitu tinggi derajat akhirat, yang derajat tersebut hanya diperuntukkan manusia, sudah seharusnyalah manusia berusaha meraihnya. Sebab titik perbedaan antara manusia dengan binatang adalah derajat manusia yang mulia. Kemuliaan itu karena manusia punya kelanjutan hidup di akhirat, sedang sejarah binatang sebatas di dunia. Betapa meruginya hidup yang hanya dipenuhi kesibukan, kesusahan (sibuk susah) ini lalu tidak ada kelanjutan di akhirat. Namun bila di dunia sibuk susah kemudian di akhirat sibuk senang (di syurga) tentu tidak sia-sia hidup ini, disitulah letak kelebihan manusia dari binatang.

oleh: Sri Deviyanti*




Baca Selengkapnya..
Artikel "Rasa Cinta Pada Dunia Part 2" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori ArtikelIslamSri Deviyanti. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/09/rasa-cinta-pada-dunia-part-2.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Senin, 06 September 2010, pukul 17.04. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Rasa Cinta Pada Dunia Part 1

Kehidupan dunia dan akhirat merupakan dua sisi mata uang. Keduanya merupakan satu paket perjalanan yang integral. Ketika seseorang sudah mulai tidak adil pada dirinya dengan hanya memikirkan kehidupan dunianya, maka selamanya dia akan cenderung untuk memikirkan satu sisi kehidupan saja. Sedangkan sisi yang lain yakni akhirat akan terlupakan. Hal ini wajar sebab yang sekarang sudah bisa dirasakan dan dilihat baik segi kesenangan, kemewahan, kebanggaan maupun kemelaratan dan kesengsaraannya adalah apa yang ada di dunia ini. Tentu saja akhirat yang ghoib belum tampak dan belum terasa lebih sering terabaikan. Akibat yang timbul dari ketidaksanggupan manusia menyadarkan dirinya akan persiapan hidup di akhirat sungguh sangat fatal. Apalagi bila kesadaran itu baru lahir setelah hari kebangkitan datang. Karena hanya berbuah kerugian dan penyesalan.

Kecintaan kepada kehidupan dunia yang melalaikan akhirat, disebabkan oleh pemahaman dan keyakinan manusia tentang akhirat yang dangkal dan tidak jelas. Belum masuknya keimanan akhirat ke dalam hati, menjadikan semuanya hanya sebatas bibir. Keyakinan yang bersumberkan berita dari orang orang tua, tokoh agama, dan kepercayaan keturunan. Sehingga tidak ada beda pola pikir dan arah hidup orang yang pada lahirnya percaya akhirat dengan orang yang mengingkarinya (kafir). Sama-sama mencintai dunia karena pada hakekatnya tidak (kurang) yakin akan kehidupan akhirat yang belum kunjung datang. Yang dimiliki hanya kemampuan mengagumi dan menyenangi keindahan dunia.

'Mereka hanya mengetahui kulit kehidupan duniawi saja, sedang intisari kehidupan akhirat mereka abaikan“ 1). (Qs. 30 : 7)

1.Menurut istilah siasat peperangan: Yang terpenting bukanlah kemenangan pertama (sementara), tapi yang lebih penting adalah kemenangan terakhir (selamanya).

Pemahaman yang hanya berdasarkan dari mendengar guru, kiai serta hasil membaca melahirkan keimanan yang setengah-setengah. Rencana-rencana dan cara berpikirnya tidak sampai ke akhirat, mentok di dunia. Buah kehidupan tidak dinikmati utuh, hanya kulit yang mereka geluti. Sedangkan isi (daging) buahnya, karena ketidaktahuannya, diabaikan begitu saja. Sedikit sekali
usaha yang dilakukan untuk mendapatkan, apalagi merasakannya. Padahal sebenarnya kehidupan akhirat itu dijadikan indah hanya dalam pandangan orang kafir yang tidak percaya terhadap kehidupan tersebut.

“Kehidupan dunia ini dibuat indah dalam pandangan orang kafir, sehingga mereka memandang rendah terhadap orang mukmin. Padahal orang yang bertakwa lebih tinggi derajatnya dari pada mereka di akhirat. Dan Allah memberi rizki kepada orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas”. (Qs. 2 : 212)

Kesibukan mereka dengan urusan urusan duniawi menyebabkan mereka begitu tidak siap bila sewaktu-waktu harus meneruskan perjalanan hidupnya ke akhirat. Dalam benak dan pandangannya seolah-olah dunia inilah kehidupan yang riil, nyata. Sedangkan akhirat adalah kehidupan dongeng, tidak nyata. Seakan akan mereka berkata : Itu urusan Tuhan atau itu urusan balakang. Kita lihat sekarang siapa orangnya, di mana tinggalnya, manusia yang tidak terlibat ayat di atas. Sungguh sebuah kenyataan yang patut disayangkan. Sebab kalau kita cermati secara sungguh-sungguh, apa enaknya hidup ini. Tidakkah pada lahirnya saja manusia bekerja keras, mengumpulkan harta dan memenuhi kebutuhan nafsu untuk keresahan, kesibukan macam-macam, lalu pati menjemput dengan tiba tiba. Lalu apa artinya hidup ini jika berakhir sesederhana itu ?

“Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah sebagai hiburan dan permainan saja. Kehidupan yang sebenarnya ialah kehidupan akhirat, kalau mereka itu mengerti. (Qs. 29 : 64)

“Ketahuilah, bahwasannya kehidupan dunia ini hanyalah main-main, senda gurau, bermewah-mewah dan saling membanggakan kekayaan dan nak pinak di antaramu. Ibarat hujan menyirami bumi, tumbuh-tumbuhan menjadi subur menghijau, mengagumkan para petani. Lalu tanaman itu mengering, tampak menguning, kemudian menjadi rapuh dan hancur. Sedang di akhirat kelak, ada azab yang berat bagi mereka yang menggandrungi kehidupan dunia, namun ada pula ampunan dan keridloan Allah bagi yang mau bertobat. Demikianlah kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan palsu belaka”. (Qs. 57 : 20).

Agar bisa memahami dan menerima pandangan yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut, kita dituntut untuk mengendapkan hati terlebih dahulu. Menghentikan sejenak perburuan urusan duniawi, mengusahakan tersedianya ruang berpikir untuk menyadarkan diri. Bahwa kehidupan dunia ini hanya permainan dan simulasi. Dalam ilmu Allah, kesenangan yang membahagiakan kita, penderitaan yang menyedihkan, kesuksesan, jabatan dan titel yang membanggakan, sifatnya semu. Kita tentu tidak bisa menutup mata terhadap prosesi kehidupan dengan segala perniknya, yang terbukti semuanya berlaku sementara.

Di saat seseorang yang ada pada puncak semangatnya menjalankan rencana meraih ambisi dan cita-cita, tiba-tiba terhenti total oleh datangnya kematian. Seorang bupati yang baru tiga bulan menjabat, tiba-tiba meninggal karena serangan jantung. Banyak publik figur yang sedang berada pada puncak karir dan publisitasnya, secara tiba-tiba tewas kecelakaan. Sering pula kita saksikan, orang yang dikagumi masyarakat kesuksesan, kecendikiawanan, ketenarannya. Sehingga semua orang memimpikan status dan posisinya. Tapi ternyata di balik itu semua, kesibukan dan ketenaran hanya memberikan kelelahan dan setetes kepuasan batin yang semu pula. Sampai-sampai tidak tersedia waktu buat istirahat dan keluarga, apalagi Allah yang tidak tampak, tentu terlupakan.

Kita harus sadar, bahwa pola pikir dan pandangan manusia sekarang ternyata sudah melenceng jauh dari hakekat dan tujuan hidup semula. Pakem yang benar menetapkan dunia ini hanya sebagai persinggahan sementara. Dan akhiratlah kampung sebenarnya yang abadi. Namun manusia dilupakan syaitan, dengan kesibukan, kemewahan dan fatamorgana kesejahteraan hidup.

“Yang demikian itu karena mereka mencintai kehidupan dunia melebihi kehidupan akhirat. Dan bahwasannya Allah, tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (Qs. 16 : 107)

Ketika kesibukan--kesibukan itu telah selesai dengan datangnya pati, manusia baru terperanjat seolah terbangun dari mimpinya. Baru disadari bahwa mereka melanjutkan perjalanan (pergi) ke akhirat tanpa membawa bekal. Semuanya tertinggal di dunia, hasil kerjanya semuanya dipersiapkan dan dihabiskan untuk kebutuhan hidup di dunia. Akhirnya di sana (akhirat) mereka menderita kerugian dan kemelaratan bersama syaitan yang umumnya disebut neraka. Neraka itu bermakna celaka karena seluruh perbekalan tertinggal di dunia.

oleh: Sri Deviyanti*




Baca Selengkapnya..
Artikel "Rasa Cinta Pada Dunia Part 1" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori ArtikelIslamSri Deviyanti. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/09/rasa-cinta-pada-dunia-part-1.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal , pukul 17.01. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Tingkah Laku dan Perbuatan Manusia

Seandainya kita mampu meneliti dan menelusuri secara cermat tingkah laku dan perbuatan kita selama hidup, kemudian dicocokkan dengan dasar dasar agama dengan sungguh-sunguh, kemungkinan besar kita akan mendapati diri dalam genangan dosa. Dosa-dosa tersebut bisa jadi timbul dari kesalahan berinteraksi. Itu nampak dari interaksi kepada sesamanya, kepada binatang, alam, maupun dosa kepada Allah (Tuhan Yang Maha Esa). Dengan cermin dan penelusuran ayat-ayat di atas misalnya, sudah bisa dilihat seberapa banyak dosa yang menumpuk di pundak manusia dalam setiap harinya. Saat duduk, berbaring, berjalan dan aktifitas apapun tidak ingat Allah merupakan dosa. Tidak mempedulikan kepentingan bangsa dan agama yang membutuhkan, termasuk dosa, dan bahkan tergolong manusia yang tidak memiliki kebenaran. Dalam setiap keluar masuknya nafas, manusia lalai mensyukuri nikmat yang diberikan Allah baik nikmat jasmani maupun nikmat rohani, juga merupakan dosa dan kedurhakaan yang diancam siksa.

Hal itu memberi kejelasan kepada kita bahwa setiap hari, setiap saat manusia tidak bisa terhindar dari dosa. Ini sebuah kewajaran dan sebuah keniscayaan, dalam kapasitasnya yang dloif. Harus ada proses penyadaran dan pertaubatan sebelum ajal menjemput, selama masih ada kesempatan taubat dan perbaikan. Sebab jika mau meneliti dan mengakui secara jujur, sebenarnya kewajaran tersentuh dosa itu berlaku pula atas orang-orang terpandang senior agama, cendekiawan, konglomerat sampai kaum awam. Jangan hendaknya berpikir dan berprilaku seperti kebiasaan manusia sejak zaman Adam hingga masa sekarang yang tidak mau menyadari bila diri terlibat dosa dan sesat, karena merasa sudah baik dan benar. Sebab para Rasul terdahulu tidak malu mengakui dosa dan kehilafan dirinya. Antara lain pertaubatan Rasul Adam as, (rasul sekaligus bibit unggul manusia) yang secara terbuka menyadari dirinya dholim seperti dikisahkan dalam Al Quran :

قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ (الاعراف : 23 )
Artinya: Keduanya berkata : Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Bila Engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang orang yang merugi (Qs. 7 : 23).

Demikian pula Rasul Yunus as. yang menyesali dan meminta ampun kepada Allah atas kedhaliman dirinya dikarenakan tidak sabar dan meninggalkan ummatnya dalam keadaan marah. Penyesalan dan pengakuan dhalim itu diabadikan dalam Al Quran :

وَذَالنَّوْنِ اِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ تَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِى الظُّلُمَاتِ اَنْ لآَّ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ ( الانبياء : 87 )
Artinya: Lalu ingat pula kisah Dhunnun ketika ia pergi dengan mendongkol meninggalkan kaumnya. Dia mengira bahwa kami tiak mampu mempersulit keadaannya. Lalu dia mendoa dalam tiga rangkaian kegelapan bahwa : Tidak ada Tuhan selain Engkau : Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku terlibat orang dhalim. (Qs. 21 : 87)

Demikian pula pengakuan dhalim Rasul Musa as. (ulil azmi) disebabkan pukulannya yang mengakibatkan kematian seorang bangsa Mesir. Beliau merasa dosa dan dhalim karena memukul orang dengan nafsu marah dan membela kaumnya sendiri yang belum tentu berada di fihak yang benar. Namun karena termasuk jiwa yang maksum (terjaga) maka segera diingatkan Allah akan kesalahannya dan menyadari.
قَالَ رَبِّ اِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَاغْفِرْ لِى فَغَفَرَلَهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمِ (القصص : 16 )
Artinya: Musa mendoa : Ya tuhanku ! bahwasannya aku telah berlaku aniaya terhadap diriku sendiri, karena itu ampunilah aku. Lalu Tuhan mengampuninya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Penyayang, (Qs.28 : 16)

Selanjutnya Rasul Muhammad saw. yang merupakan pendekar kebenaran sedunia, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setiap hari tidak kurang dari tujuh puluh kali sowan kepada Allah untuk meminta ampun. Para Rasul yang sedemikian tinggi derajatnya di sisi Allah, tidak malu mengakui dirinya berdosa, dhalim dan khilaf. Mereka merupakan contoh dan teladan bagi ummatnya sampai akhir zaman nanti. Namun anehnya umat sekarang tidak ada yang merasa berdosa dalam setiap harinya. Apalagi yang terpandang alim dan tokoh agama, lebih sukar baginya untuk menyadari adanya dosa dalam dirinya. Karena tidak merasa berdosa, sehingga kehendak hati untuk meminta ampun juga tidak ada. Padahal Allah menyeru kepada hamba-Nya agar berlomba dan bersegera dalam mencari dan mendapatkan ampunan dari Allah (Lihat Qs. Ali Imran : 133). Hal ini disebabkan Allah Maha Mengetahui bahwa dengan bertambahnya dosa manusia tiap saat, jika tidak di taubati dengan segera dan cepat cepat, dikhawatirkan akan tersusul (didahului) kematian yang datang dengan tiba tiba.

Kalau para Rasul saja tidak malu menyadari bila tersentuh dosa dan dhalim, lalu mengapa umat sekarang congkak dan selalu merasa baik ?. Mungkinkah perilaku dan kondisi umat dan para ulama, tokoh agama, cendekiawan sekarang lebih baik dan lebih suci dari para Nabi-Rasul itu ? Sebaliknya, ummat yang demikian adalah umat yang dibiarkan Allah. Sedangkan para Rasul itu selalu mendapatkan penjagaan dari Allah (ma’sum). Sehingga begitu tersentuh dosa langsung diperingatkan, tidak sampai berlarut-larut dalam kesalahan.

Untuk itu mari meninggalkan ego dan sikap gila hormat serta segera meneliti dosa dan kedhaliman diri, menyadari kemudian menaubatinya, sebelum ajal menjemput. Sebab demikian itulah ciri manusia dewasa dan beriman, menyadari dosa sebelum datangnya pati. Jangan sampai bernasib seperti orang bodoh, kaum kafir yang menyadari dosa setelah ajal menjemput.

oleh: Sri Deviyanti*



Baca Selengkapnya..
Artikel "Tingkah Laku dan Perbuatan Manusia" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori ArtikelIslamSri Deviyanti. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/09/tingkah-laku-dan-perbuatan-manusia.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Kamis, 02 September 2010, pukul 04.43. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Pemimpin Pecundang

Konon pada suatu masa tersebutlah suatu negeri yang besar yang dikenal sebagai Negeri Pecundang. Negeri ini terletak tidak di utara tidak juga di selatan, iklimnya adem ayem, tidak ada panas yang terlalu panas, tidak juga ada dingin yang terlalu dingin. Pokoknya sedang-sedang saja, tengah-tengah saja..

Rakyat negeri ini terdiri dari bermacam tipe, dari orang-orang yang terpaksa menjadi pecundang sampai yang dengan senang hati menjadi pecundang, dari yang benci menjadi pecundang sampai yang bangga sebagai pecundang, dari yang sadar dirinya pecundang sampai yang tidak sadar… Tapi yang jelas semuanya merupakan para pecundang..

Alam menganugrahkan negeri ini segalanya, hutan rimba lebat hijau royo-royo, laut haru biru penuh ikan dan udang, tanah gemah ripah subur plus bahan tambangnya. Sayang sekali saat ini anugrah alam itu sudah makin habis dan makin rusak.. Sebagian karena salah urus, sebagian kena tipu, sebagian dirampok dan sisanya karena dijual murah meriah..

Dipecundangi merupakan hal biasa di negeri ini, mulai dari atlit olah raga sepakbola, bulutangkis, tenis dll sampai ke tenaga kerja yang bekerja di rumah atau pabrik-pabrik di luar negeri.. Kata “kalah, takluk atau menyerah” sudah sangat familiar di telinga masyarakatnya, sedang kata “menang, sukses atau juara” langka terdengar..

Kedaulatan negeri ini senantiasa dirongrong oleh tetangganya yang kecil tetapi berani usil. Dari mulai mengambil kayu, cipta hasil seni, budaya sampai mencaplok pulau atau wilayah dia berani lakukan.. Karena si tetangga tahu kalau negeri ini tak berbahaya… Besar tapi lemah, gede tapi loyo..

Pemimpin Negeri Pecundang ini dipilih langsung oleh rakyatnya, dia merupakan pecundang terbesar di negerinya bukan saja secara fisik tapi juga hati, perkataan dan perbuatannya. Banyak rakyat yang memilihnya menjadi pemimpin karena konon katanya karena dia adalah orang yang dizolimi..

Berhutang kesana-sini merupakan kerja andalan sang pemimpin, tumpukan hutang yang tinggi menjulang bukanlah hal yang memalukan, tapi merupakan gunung yang gagah perkasa.. sambil lempari recehan bantuan tunai, melihat rakyat yang rebutan merupakan pemandangan yang indah dan menyenangkan dari atas sini…

Mengikuti gaya dan kemauan “Negeri Kulon” merupakan hal lain yang dapat dibanggakan pemimpin ini. “Ayo buka pasar… biar beradu saudagar dunia global dengan pedagang lokal yang amatiran.. Saya tidak bedakan rambut hitam atau pirang!” dan kemudian “bless”… hampir tak ada sektor di negeri ini yang tidak dimainkan saudagar-saudagar ternama dari “Negeri Kulon”. Mulai dari komputer sampai warung kopi, dari dagang barang eceran sampai jasa bank dan asuransi. Kebanggaan inipun terlihat di wajah-wajah rakyatnya sambil mengudap makanan cepat saji “bergengsi..”

Syahdan waktupun berlalu, saat ini sang pemimpin negeri harus dipilih lagi oleh rakyatnya untuk periode kedepan. Sang pemimpin mengajukan lagi dirinya, tapi kali ini dia tidak mau lagi berpasangan dengan wakilnya yang lama. Menurutnya gaya dan irama wakilnya itu kurang cocok dengannya, terutama dalam melaksanakan agenda dari “Negeri Kulon” yang dalam waktu ke depan ini makin banyak saja, karena negeri di kulon itu sedang sakit dan butuh..

“Daripada agenda-agenda jadi kacau, lebih baik anda pilih wakil yang lain saja tapi jangan dari buto ijo fundamentalis..” kata pihak “Negeri Kulon” sambil menawarkan calonnya orang yang dia yakini loyalitas dan integritas kepecundangannya selama ini… Sang pemimpinpun menyetujui.. “Jangan khawatir pak, elektabilitas Bapak menjulang tinggi.. saking tingginya sampai tidak masuk di akal.. Berpasangan dengan sendal jepitpun Bapak menang..” kata tim sukses sang pemimpin yang rata-rata adalah pecundang-pecudang intelek yang ke-kulon-kulonan…

Dan akhirnya dimulailah pertarungan itu.. Untuk dapat dipilih lagi menurut tim sukses sang pemimpin cukup iklan dengan kata-kata puja-puji namanya saja, gak perlu banyak program-programanlah.. Salah satu diantara andalan iklan sang pemimimpin ini adalah dengan menggunakan lagu sebuah produk “makanan tak bergizi”. “Eh tapi ini efektif dan banyak disukai rakyat lho… ” kata sang pembuat yang mengaku kreatif dan tamatan luar..

Dalam berkampanye, dengan menjiplak plak seluruh tata cara kampanye pemimpin “Negara Kulon”, kemudian dengan optimis untuk dipilih lagi oleh rakyatnya mantap sang pemimpin itu berkata-kata: “kita tidak boleh ngomong kalo kita lebih ini, kita lebih itu… itu takabur namanya…”, “.. saya tidak mau janji-janji.. semakin banyak janji, semakin susah untuk ditepati…”, “…jangan memberi angin surga kepada rakyat..”, “… biar saja saya dikeroyok, saya dikerjai… ada tuhan dan rakyat yang akan menolong…” dan rakyatnya kemudian bergemuruh, sorak sorai, bertepuk tangan, gegap gempita kegirangan menyambut ucapan sang pemimpin itu….

Tak banyak keraguan, dialah yang terbesar dan dialah favorit kebanyakan rakyatnya..

Demikianlah kisah tentang Negeri Pecundang yang tidak di utara, tidak di selatan…

oleh: Sri Deviyanti - UIN Makassar*





Baca Selengkapnya..
Artikel "Pemimpin Pecundang" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori ArtikelSri Deviyanti. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/08/pemimpin-pecundang.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Selasa, 31 Agustus 2010, pukul 18.59. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

ANARKISME

Bagi mereka yang sering menyatakan GERAKAN MAHASISWA itu ANARKIS tetapi tidak memahami apa itu yang dimaksud ANARKIS itu sendiri.

Anarkisme atau dieja anarkhisme yaitu suatu paham yang mempercayai bahwa segala bentuk negara,pemerintahan,dengan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menumbuh suburkan penindasan terhadap kehidupan,oleh karena itu negara pemerintahan, beserta perangkatnya harus dihilangkan/dihancurkan.

"Anarkisme bukan Bom,ketidakteraturan atau kekacauan Bukan perampokan dan pembunuhan. Bukan pula sebuah perang di antara yang sedikit melawan semua.Bukan berarti kembali kekehidupan barbarisme atau kondisi yang liar dari manusia.Anarkisme adalah kebalikan dari itu semua.Anarkisme berarti bahwa anda harus bebas.Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak anda,menjadi majikan anda,merampok anda,ataupun memaksa anda.Itu berarti bahwa anda harus bebas untuk melakukan apa yang anda mau,memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang anda mau serta hidup didalamnya tanpa ada yang mengganggu,memiliki persamaan hak,serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara.Berarti tidak boleh ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan."

(Alexander Berkman,What is Communist Anarchist 1870 - 1936)

Nb : Dari berbagai selisih paham antar anarkis dalam mendefinisikan suatu ide kekerasan sebagai sebuah metode,kekerasan tetaplah bukan merupakan suatu ide eksklusif milik anarkisme,sehingga anarkisme tidak bisa dikonotasikan sebagai kekerasan, seperti makna tentang anarkisme yang banyak dikutip oleh berbagai media di Indonesia yang berarti sebagai sebuah aksi kekerasan.Karena bagaimanapun kekerasan merupakan suatu pola tingkah laku alamiah manusia yang bisa dilakukan oleh siapa saja dari kalangan apapun.

ditulis oleh: SRI DEVIYANTI - UIN Makassar*



Baca Selengkapnya..
Artikel "ANARKISME" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori ArtikelSri Deviyanti. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/08/anarkisme.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal , pukul 18.32. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Syukuri Nikmat

Kaca yang selanjutnya yang bisa kita jadikan cermin adalah perintah untuk mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Perintah ini sebenarnya lebih tepat bila dirasakan sebagai sindiran atas kekerdilan kita dalam memahami konsep balas budi. Sebagai makhluk yang semula tidak ada, lalu diadakan serta dilimpahkan kepadanya bumi seisinya, manusia terlalu bodoh untuk menganggap semua itu sebagai proses alamiah. Karena semua nikmat penciptaan, kucuran rizki dan potensi alam ini ada yang mengatur, ada yang memberikan ada yang menganugerahkan dan harus ada timbal balik untuk mensyukuri semuanya. Namun karena banyaknya nikmat yang diterima, justru membuat manusia lupa berteima kasih kepada Yang Memberi. Sehingga akan banyak kita temukan manusia yang tergolong ingkar kepada Allah.

Dalam sebuah hadits Nabi saw. menyebutkan manusia memiliki 360 persendian yang wajib disyukuri masing-masing sendinya. Di luar itu manusia masih berkewajiban mensyukuri nikmat udara yang bersih, sinar matahari, air serta berfungsinya sistem organ tubuh dan panca indra. Semuanya wajib disyukuri karena nikmat-nikmat tersebut tidak dapat tidak ternilai harganya.

فَاذْكُرُوْنِى اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِى وَلاَ تَكْفُرُوْنَ ( البقرة : 152 )
Artinya: Sebab itu ingatlah kepada Ku, supaya Aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah mengingkari nikmatKu (Qs. 2 : 152).

Perintah agar manusia mensyukuri secara rinci nikmat yang telah Allah berikan dan larangan mengkufuri nikmat tersebut. Terkandung pengertian bahwa bila tidak syukur, maka tercatat sebagai manusia yang kufur. Kini kita tahu bahwa sifat kafir itu mudah hinggap pada seseorang. Kita jangan terpasung dalam pemahaman sempit tentang makna kafir. Karena dalam bahasan ini yang dimaksud kafir adalah kafir kepada nikmat Allah (kufur bin ni’matillah). Namun jangan sekali-kali meremehkan sifat kafir ini. Sebab mengkufuri ni’mat Allah sama saja dengan mengkufuri Allah itu sendiri. Sehingga Allah mengancam dengan siksa yang amat pedih, bagi siapa saja yang mengkufuri nikmat-Nya.

Di balik ancaman siksa bagi yang kufur terhadap nikmat-Nya, Allah memberikan janji akan menambah kenikmatan kepada seorang hamba jika mau mensyukuri nikmat yang telah diberikan. Bahwa semua yang ada di dalam dan di atas bumi serta di bawah langit ini merupakan nikmat dari Allah. Dari sini bisa kita koreksi bersama diri kita masing masing, tidakkah manusia banyak yang terlibat kufur ? Sudahkah kita ingat dan bersyukur kepada Allah ketika mendapat sinar matahari yang merupakan sumber energi. Tidakkah kita selalu menganggap sinar matahari sebagai suatu keniscayaan dan hal yang lumrah, sehin gga lupa bersyukur. Demikian pula ketika setiap sekian detik menghirup udara sejak lahir sampai meninggal, hampir tidak ada yang mensyukurinya.

Ketika seorang bisa duduk, bisa memegang pulpen, bisa menggerakkan siku untuk mengantarkan gelas ke mulut dan lainnya, pasti lupa untuk menyadari bahwa hal tersebut wajib disyukuri. Kalau demikian, di mana orang yang tidak terlibat kufur, manusia tipe apa yang tidak terancam ayat di atas?

ditulis oleh: Sri deviyanti-UIN Makassar




Baca Selengkapnya..
Artikel "Syukuri Nikmat" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori ArtikelIslamSri Deviyanti. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/08/syukuri-nikmat.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Senin, 30 Agustus 2010, pukul 10.13. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Makna Hidup Yang Sesugguhnya

Hidup hanya dapat dirasakan tapi sulit didefinisikan. Semua orang sangat mudah mengatakan apakah sesuatu itu hidup atau mati. Manakala seseorang melihat pohon yang dari hari ke hari bertambah tinggi, berdaun hijau, kemudian berbuah, ia dengan mudah mengetahui bahwa pohon itu hidup. Sebaliknya, manakala orang tadi melihat pohon yang kering, daunnya berguguran, tidak bertambah besar sekalipun disirami atau dipupuk, maka dengan mudah pula ia tahu bahwa pohon itu telah mati, tidak hidup lagi. Demikian halnya manusia dan hewan. Tatkala manusia dan hewan terlihat tumbuh, seluruh angota badannya berfungsi, dan dapat berkembang biak. Semua orang dengan mudah menyimpulkan manusia dan hewan yang demikian hidup bukan mati. Inilah arti hidup secara biologis.

Dalam arti hidup seperti itu , manusia dan hewan sama. Sama-sama makan, minum, bergerak, berkembang biak, menyayangi anak, dan berinteraksi satu sama lain. Lantas apa yang membedakan keduanya, dan apa sesungguhnya makna hidup bagi manusia?

Untuk menjawab pertanyaan tadi kadang terasa sulit. Diperlukan perenungan yang dalam untuk menemukannya.

Perbedaan antara manusia dengan hewan terletak pada cara bagaimana mereka memenuhi berbagai kebutuhannya. Hewan melakukan semua itu sekehendak hatinya sedangkan manusia ada yang melakukan sekehendak hatinya ada pula yang diatur oleh aturan Allah SWT Penciptanya.

Jika manusia dalam menjalani hidupnya ini hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya semata, berarti tidak ada bedanya orang tersebut dengan hewan.Demikian pula, jika seseorang menjalani hidup ini seenak perutnya, bebas tanpa aturan, memperturutkan logika dan hawa nafsunya, serta melupakan aturan Allah SWT, saat itu orang tadi tidak dapat dibedakan dengan hewan. Berkaitan dengan ini Allah SWT menegaskan melalui firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam itu kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qulub tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata tetapi tidak digunakannya untuk melihat (kebenaran dan kekuasaan Allah), da mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk menddengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (TQS. Al-A’raf [7] : 179)

Ibnu Katsir ketika memaknai ayat tersebut menyatakan bahwa Allah SWT menyediakan jahannam bagi manusia yang melakukan perbuatan-perbuatan penghuni jahannam. Mereka demikian karena alat indera yang sebenarnya dijadikan oleh Allah SWT sebagai jalan datangnya hidayah tersebut tidak bermanfat bagi mereka. Sebab, mereka itu buta, tuli, dan bisu dari mengikuti petunjuk Allah SWT. Mereka yang tidak mendengarkan kebenaran (Islam), tidak mengikuti kebenaran (Islam), dan tidak mengikuti petunjuk Allah SWT laksana hewan berjalan yang alat-alat inderawinya tidak bermanfaat sedikitpun kecuali untuk perkara-perkara yang diperlukannya secara lahiriyah di dunia.

Lantas bagaimana seharusnya manusia itu berbuat, sehingga hidupnya menjadi bermakna dan berbeda dengan hewan?

Tentu tidak ada jalan lain kecuali berupaya menjadikan akal dan hati untuk memahami kebenaran,mata untuk mencari dan melihat kebenaran. Dan kebenaran itu adalah apa-apa yang datang dari Allah SWT. “Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (TQS. Al-Baqarah [2] : 147). Kebenaran itu adalah apa yang terdapat di dalam Islam. ”Siapa yang menjadikan selain Islam sebagai dien agama, system hidup), niscaya ditolaklah apapun darinya dan di akhirat ia termasuk orang yang rugi” (TQS. Ali-Imran [3] : 85). Dengan kata lain, segenap potensi yang dimilikinya itu digunakn untuk memahami dan menghayati Islam untuk diterapkan dalam hidup sehari-hari.

Berkaitan dengan hal tersebut, Allah SWT menyatakan: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepadaku” (TQS. Adz-Dzariyat [51] : 56). Ibadah yang dimaksud dalam ayat tersebut yaitu, taat kepada Allah, tunduk dan patuh kepada-Nya serta terikat dengan aturan agama yang disyariatkan-Nya. Jadi, manusia itu ada di dunia ini emata-mata untuk tunduk, taat, dan patuh kepada aturan dan hukum-hukum Allah SWT dalam semua perkara : ‘aqidah, ibadah, sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya.

Melalui ibadah seperti itulah manusia akan berbeda dengan hewan bahkan jauh lebih tinggi daripada derajat hewan. Inilah makna hidup manusia sebenarnya. Lantas, bagaimana makna hidup menurut anda?



Baca Selengkapnya..
Artikel "Makna Hidup Yang Sesugguhnya" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori ArtikelIslamSri Deviyanti. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/08/makna-hidup-yang-sesugguhnya.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Minggu, 29 Agustus 2010, pukul 04.01. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

'KRITIK'

Berbicara mengenai kritik, tentunya hampir semua kita pernah mengalami yang namanya di kritik. Dimana-mana yang namanya di kritik itu ga enak. Ada satu bagian dari diri kita yang rasanya tepojok dan tercabik, itulah ego. Karena ego, biasanya selalu melihat diri kita benar dan benar, sebaliknya orang lain yang salah.

Akhir-akhir ini, ramai diberitakan media gugatan DPR terhadap kelompok musik SLANK yang dinilai telah mengkritik DPR. Tidak peduli mereka benar atau salah, yang jelas DPR tidak suka di kritik oleh SLANK. Itulah contoh dari sebuah ego yang dominan.


Berbicara mengenai kritik, saya jadi terpikir mengapa kritik itu timbul? apa tujuan orang mengkritik? kalau kita berfikir negatif, bisa jadi kita melakukan pembelaan bahwa orang kritik itu karena dia tidak mampu, atau ada pihak lain yang iri, sirik, dan sejenisnya. Tapi, kita kan selalu diajarkan untuk berfikir positif berbaik sangka (karena kebanyakan dari buruk sangka itu dosa), maka kita akan melihat bahwa orang mengkritik karena ada sesuatu yang salah, atau sesuatu yang tidak pada tempatnya. Dan tujuan orang mengkritik itu, ya supaya kita bisa melakukan sesuatu yang lebih baik, dengan memperhatikan apa yang dikritik pihak lain.


Kalau begitu, kita supaya tujuan ini efektif, maka yang penting dari sini adalah bagaimana cara kritik itu di kemas. Saya sebagai manusia jelas ga suka kalau harus menerima kritik, tapi saya mempunyai seorang teman, dimana saya suka dikritik oleh beliau. Mengapa? Pertama, dan yang paling saya suka adalah cara mengkritiknya yang menyenangkan, tidak membuat saya terpojok dan sakit hati. Kalaupun saya pernah merasa down dengan kritiknya, namun secepatnya dia mengangkat mental saya kembali. Itu yang saya suka. kedua, adanya kesadaran dari diri saya sendiri yang menganggap bahwa kritikan daro teman saya ini akan baik untuk proses pengembangan diri dan proses pembelajaran diri. Sebaliknya, saya sangat sebal dikritik sama orang yang tidak punya etika, berani mengkritik di belakang dan sebagainya. meskipun yang dikritik baik, namun karena cara penyampaiannya tidak dikemas dengan baik, maka kritik tersebut menjadi tidak efektif.

Dalam suatu riwayat, ada hadits dimana jika seorang istri salah, maka ia harus diberi tahu dengan cara-cara yang baik, kalau dengan kata-kata yang baik tidak mempan, maka seorang suami boleh memukul istrinya, jika tidak berubah juga, maka seorang suami bisa bersikap tegas dengan memisahkan tempat tidur istri. dari sini jelas bahwa kita diajarkan untuk melakukan kritik dengan cara-cara yang baik.

Kritik dalam Islam merupakan bagian dari amar ma'ruf nahi munkar. Sesungguhnya mencegah kemungkaran adalah fardhu kifayah. Sebagaimana disebutkan dalam dalam surat Ali Imran ayat 110 disebutkan bahwa "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah SWT. meski demikian tetap ada etika dan akhlak dalam melakukan amar ma'ruf nahi munkar diantaranya seperti melakukan dengan lemah lembut, tidak anarkis, ataupun tidak merusak. Selain itu, agar apa yang disampaikan, maka pihak yang menyampaikan pesan atau kritik pun harus lebih baik, sehingga apa yang disampaikan menjadi efektif.

Kembali ke kritik, bahwa dengan berorientasi kepada tujuan adanya perubahan yang lebih baik, maka kritik hendaknya disampaikan dengan cara-cara yang baik, tidak anarkis dan kekerasan, dan yang menyampaikan kritik pun bisa menunjukkan contoh yang lebih baik minimal dari dirinya sendiri.

OLEH: SRI DEVIYANTI-UIN MAKASSAR



Baca Selengkapnya..
Artikel "'KRITIK'" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori ArtikelIslamSri Deviyanti. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/08/berbicara-mengenai-kritik-tentunya.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Kamis, 26 Agustus 2010, pukul 22.28. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Prinsip Hidup Bermasyarakat

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat ihsan, serta memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90).

Ayat ini pasti akrab di telinga kita karena biasa dibaca khatib saat mengakhiri khutbah Jumat. Yang menarik, kalimat perintah di ayat ini tidak berbentuk “ya’murukum” (memerintah kalian), tapi “ya’muru” (memerintah) sehingga ayat ini dipahami sebagai ayat universal yang mengikat seluruh hamba Allah tanpa ada atibut golongan, ideologi, suku bangsa, dan pembatasan lainnya. Jadi, ayat ini berbicara kepada fitrah manusia yang suka pada kebaikan dan membenci perilaku buruk.

Tak heran jika ayat ini begitu menyentuh Utsman bin Madh’un yang pada awalnya memeluk Islam hanya karena malu dengan Rasulullah saw. Namun ketika menyaksikan ayat ini turun, ia merasakan kekuatan iman menembus ke dalam hatinya dan meyakini bahwa prinsip-prinsip hidup yang ditawarkan Islam bagi kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bahkan berbangsa dan bernegara, begitu agung dan sempurna.

Abdullah bin Abbas bercerita, “Ketika Rasulullah saw. sedang duduk di halaman rumahnya, tiba-tiba Utsman bin Madh’un melintas. Maka Rasulullah memanggilnya dan mengajaknya duduk bersama. Namun ketika sedang berlangsung pembicaraan di antara keduanya, tiba-tiba Rasulullah menengadahkan pandangannya ke langit beberapa saat, kemudian menundukkan kepalanya dan bergeser dari tempat duduknya ke sebelah kanan. Beliau menganggukkan kepala seakan-akan mengiyakan apa yang disampaikan kepadanya. Selang beberapa saat, beliau kembali mengangkat pandangannya ke langit seperti yang terjadi pada kali pertama, lantas beliau kembali ke tempat duduknya di samping Utsman bin Madh’un.”

Maka melihat kejadian yang tidak biasa tersebut, Utsman bertanya kepada Rasulullah saw., “Hai Muhammad, kenapa aku melihat engkau tadi mengangkat pandanganmu ke langit dan mengangguk-anggukan kepala seakan-akan mengiayakan sesuatu dan engkau bergeser menjauh dariku?” Rasulullah balik bertanya, “Apakah engkau tadi memperhatikan apa yang terjadi?” Utsman menjawab singkat, “Ya.” Rasulullah berkata, “Telah datang kepadaku tadi seorang utusan Allah.” Dengan nada terkejut Utsman bertanya, “Seorang utusan Allah?” Rasulullah menjawab, “Benar.” Utsman bertanya lagi, “Apakah yang ia sampaikan kepadamu?” Rasulullah menjelaskan, “Ia datang membawa wahyu kepadaku.” Lantas Rasulullah membacakan surah An-Nahl ayat 90.

Setelah kejadian itu, Utsman bin Madh’un membacakan ayat itu kepada Al-Walid bin Al-Mughirah, seorang yang sangat piawai dalam bidang sastra di kalangan orang-orang Arab pada masa itu. Mendengar ayat tersebut, spontan lisannya berucap pernyataan yang memeranjatkan para pemuka Quraisy yang hadir, “Demi Allah, sungguh Al-Qur’an ini memiliki kelezatan dan keindahan. Di atasnya berbuah dan di bawahnya berakar, dan ini bukanlah kata-kata manusia”. Bahkan Al-Walid meminta Utsman untuk mengulangi bacaan ayat tersebut. Subhanallah!

Ayat itu berisi tentang tiga prinsip yang ditawarkan Al-Qur’an agar dijadikan landasan dalam menata sebuah masyarakat. Ketiga prinsip itu adalah keadilan, ihsan, dan takaful. Ketiganya jika diaplikasikan akan membendung perilaku al-fahsya’ (segala perbuatan yang didasarkan pada pemenuhan hawa nafsu, seperti zina dan mabuk-mabukan), al-munkar (perbuatan buruk yang bertentangan dengan akal sehat, seperti mencuri, merampok, dan tindakan aniaya lainnya), dan al-baghyu (tindakan yang mengarah kepada permusuhan, seperti kezaliman dan tindakan sewenang-wenang).

Ketiga aktivitas merusak itu merupakan penyakit yang senantiasa merongrong keutuhan dan eksistensi masyarakat. Sebuah masyarakat tidak mungkin bisa tegak di atas perilaku kekejian, kemungkaran, dan permusuhan. Demikian juga, sebuah masyarakat yang telah terjangkiti perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan dengan segala ragam bentuknya, tidak akan mungkin bangkit dari keterpurukan dan akan senantiasa berada dalam kesengsaraan.

Karena itu, melalui ayat ini Allah memerintahkan siapapun kita untuk menjunjung tinggi nilai keadilan dalam semua urusan dan bersikap ihsan dalam setiap perbuatan. Maka tak heran jika ayat ini dijadikan dalil kewajiban syariat bagi umat Islam untuk berlaku adil dan bersikap ihsan.

Konsep adil dan ihsan adalah dua prinsip yang harus dilaksanakan secara bersamaan. Karena, sikap adil hanya akan membawa kepada keselamatan. Misalnya, dalam aktivitas bisnis, adil hanya mengembalikan modal. Sedangkan sikap ihsanlah yang akan memberikan kemenangan dan kebahagiaan dalam bentuk keuntungan yang lebih dari sekedar kembali modal. Sehingga, seorang tidak boleh cukup berpuas hati hanya melaksanakan adil tanpa dibarengi dengan ihsan. Itulah hikmah Allah menggandengkan kedua sikap itu. Bahkan, Allah memuji orang-orang yang sikap ihsan. “Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan ihsan.” (QS. Al-Kahfi: 30). “Dan berbuat ihsanlah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat ihsan kepadamu.” (Al-Qashash: 77)

Maka, menjadi jelas bagi kita bahwa Al-Qur’an datang dengan membawa mabadi’ (prinsip-prinsip) yang akan menguatkan simpul-simpul yang terjalin di dalam sebuah masyarakat dan akan menjadi penenang bagi setiap individu, umat, dan bangsa dalam mengarungi kehidupan. Prinsip keadilan adalah kaidah yang baku dalam pergaulan sehari-hari, sedangkan prinsip ihsan untuk melembutkan ketajaman keadilan yang solid. Karena kata ihsan lebih luas penunjukannya, maka ihsan mencakup seluruh sendi-sendi kehidupan mulai dari hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, hubungan dengan keluarganya, masyarakatnya, dan dengan kemanusiaan dalam arti yang luas.

Sedangkan kalimat “ita’idzil qurba” (memberi kepada kaum kerabat) setelah adil dan ihsan dalam ayat di atas, adalah bentuk konkret perbuatan ihsan. Penyebutan khusus kalimat ini adalah ta’dzim (penghargaan) terhadap bentuk hubungan kerabatan dan sebagai ta’kid (penegasan) bahwa konsep ihsan bisa dilakukan secara bertahap, mulai dari lingkup yang paling dekat (baca: keluarga) sampai ke skup yang jauh yang meliputi seluruh anggota masyarakat.

Sayangnya, ketiga prinsip ini –keadilan, ihsan, dan takaful-kita rasakan semakin tipis di bangunan struktur masyarakat kita. Sedangkan tiga kekuatan penghancur –kekejian, kemungkaran, dan permusuhan– justru semakin menunjukkan eksistensinya dalam ragam bentuk dan kemasannya. Cukuplah ayat ini menjadi pengingat agar kita segera kembali ke rel yang sebenarnya, menegakkan prinsip-prinsip hidup bermasyarakat yang diperintahkan Allah agar fitrah kita sebagai manusia tidak hilang. Jangan sampai masyarakat kita tidak bisa lagi dibedakan dari segerombolan srigala yang saling memangsa sesamanya. "Dia (Allah) memberi pengajaran kepadamu (dengan ayat ini) agar kamu dapat mengambil pelajaran."

Ditulis oleh: Sri Deviyanti*



Baca Selengkapnya..
Artikel "Prinsip Hidup Bermasyarakat" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori ArtikelIslamSri Deviyanti. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/08/prinsip-hidup-bermasyarakat.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Sabtu, 21 Agustus 2010, pukul 23.59. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Musuh Dalam Selimut

Sejak awal dunia di cipatakan dan manusia diturunkan ke bumi, Allah memaksudkan untuk menguji (Qs. Al Mulk : 2). Segala tantangan, kesenangan, kesedihan, dan apapun yang ada dalam hidup adalah materi ujian. Tapi manusia acapkali lupa bahwa sesuatu yang ada didepannya itu adalah bentuk bentuk ujian. Manusia tidak waspada dan cenderung berpikir, memutuskan dan berbuat menurut apa kata nafsunya bagaimana enak dan gampangnya saja. Padahal, untuk bisa selamat dan berhasil mengerjakan ujian itu harus melewati jalan dan pemikiran yang sulit dan berliku - liku.

Antara lain, masalah kecintaan dan ingatan kepada keluarga yang sering kali melupakan dari ingatan dan cinta kepada allah. Seperti yang kita bahas di atas, bahwa ternyata manusia lebih banyak mengingat lain-lain di muka bumi ini dari pada Allah sebagai pencipta. Segala barang barang dan makhluk yang ada di duia ini di pasang dan dipajang adalah jebakan dan ujian. Tapi manusia merebut dan mencintainya sampai melupakan Sang Kholiq sebagai pemilik, pencipta sekaligus penguji. Selama ini menusia kebanyakan tidak ada yang merasa dan mengira bahwa anak anak dan istri- istri yang dicintai itu sesungguhnya adalah musuh dan materi ujian. Musuh dalam pengertian sebagai salah satu faktor yang harus diwaspadai dan disikapi dengan hati-hati.

Sangat mungkin dan sewaktu-waktu anak, istri dan harta bisa menjadikan manusia lupa kepada Allah. Lupa kepada kewajiban sebagai hamba yang harus mengabdi kepada Tuhan, karena sibuk menuruti kemauan dan kebutuhan anak istri. Kalau sampai hal ini yang terjadi maka sesungguhnya manusia sudah terkuasai dan terkalahkan musuhnya. Ingat ayat di atas (Qs. At Taubah : 24). Ketika manusia lebih banyak ingatan dan cintanya kepada lain- lain termasuk bapak, anak , istri, saudara, keluarga, harta hasil usaha perdagangan yang dikhawatirkan kebangkrutannya, tempat tinggal yang disenangi dari pada Allah dan Rasul-Nya, maka itulah ciri orang fasiq. Lalu siapa kini yang tidak terlibat fasiq. Sudah pasti sedikit sekali manusia yang tidak lebih mencintai anak istri dan lain dari pada Allah. Manusia tidak sadar bahwa sebenarnya dipasangnya rasa cinta dalam hati adalah godaan dan butir ujian. Yang harus dilalui dalam perjalanan dengan selalu meminta petunjuk kepada Allah. Jangan senantiasa diturutkan apa saja yang menjadi kutikan hati.

Artinya: Hai orang orang yang beriman sesungguhnya di antara istri-istri dan anak anakmu, ada yang menjadi musuhmu 1) karena itu berhati-hatilah teradap mereka. Namun jika kamu maafkan, kamu santuni, dan kamu ampuni kesalahan mereka, maka Allah Maha Pengampun dan Panyayang. - Sesungguhnya cinta terhadap harta dan anak anakmu adalah cobaan belaka. Padahal disisi Allah ada pahala yang lebih besar dari itu. (Qs. 64 : 14-15)

1.Maksudnya, sewaktu waktu anak dan istri seseorang, dapat menjerumuskannya untuk melakukan usaha haram, serta perbuatan perbuatan yang tidak dibenarkan agama demi sayang anak.

Setidaknya saat ini, banyak yang belum sadar bahwa tumbuhnya rasa cinta dalam hati manusia kepada anak dan harta adalah faktor uji yang harus diselesaikan manusia. Jadi rasa itu hendaknya jangan dianggap sebagai hal yang biasa. Terkadang kecintaan kepada anak dan harta menjadikan seseorang - secara wajar - melupakan tugas utamanya sebagai hamba Allah yang harus mengabdi kepada Allah. Tuntutan kebutuhan (nafsu) diri dan keluarga, membuat seseorang sulit mengeluarkan harta demi kebutuhan bangsa dan agama. Padahal sebenarnya kewajiban mensejahterakan anak dan keluarga yang terutama adalah kesejahteraan di akherat. Dan harta yang manusia miliki, semestinya dipergunakan untuk menunjang hal itu. Dengan jalan didermakan kepada sesama yang membutuhkan, tapi kenyataan manusia terbalik dari yang seharusnya.

Kecintaan manusia teramat sangat kepada anak istri, sementara hartanya dicurahkan sepenuhnya untuk mengikuti rasa cinta itu. Sekali waktu timbul keinginan bersedekah, tapi karena istri minta dibelikan cincin, kalung atau perabot mewah, seseorang mengurungkan niatnya. Di lain kesempatan tergugah hati seseorang untuk menyantuni kaum papa, tiba-tiba si anak minta dibeikan mobil atau kesenangan lain, urung pula niat baik tersebut. Atau justru ketika ada kebutuhan bangsa dan agama yang mendesak, namun kecintaan seseorang terhadap hartanya, membuatnya berat untuk melepaskan demi kebutuhan bangsa dan agama itu. Padahal sesungguhnya untuk kepentingan itulah Allah menitipkan harta benda kepada manusia.

Manusia merasa bahwa hartanya yang akan membahagiakan dan melanggengkan mereka. Walaupun kenyataan yang mereka alami membuktikan sebaliknya. Harta membuat manusai dikejar-kejar waktu dan kesibukan, yang hanya berbuah kelelahan dan upah makan. Sementara di akhirat tersiksa karena kelalaian dan lupa menyantuni Allah. Dan inilah yang akan menjadikan manusia bersama anak, keluarga dan hartanya menemukan dirinya di akhirat dalam kerugian, tenggelam dalam penyesalan. Seperti rambu rambu dari Allah berikut :

Artinya: Hai orang orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu sampai melalaikanmu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, itulah orang orang yang rugi. (Qs. 63 : 9)

Kerugian itu baru akan mereka sadari saat berada di alam kubur dan hari akhirat. Kesadaran yang tidak ada gunanya, tidak ada pengaruhnya terhadap fonis siksa yang sudah menanti. Padahal saat di dunia mereka merasa hartanya merupakan sumber kebehagiaan dan jaminan keamanan dari kondisi apapun. Sehingga nafsu untuk mencari, menambah dan mengumpulkan harta sebanyak dan sebisa mungkin terus di lakukan. Manusia lupa bahwa sebentar lagi akan masuk kubur, manusia lupa bahwa hidup di sana juga butuh persiapan.



Baca Selengkapnya..
Artikel "Musuh Dalam Selimut" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori ArtikelIslamSri Deviyanti. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/08/musuh-dalam-selimut.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Kamis, 19 Agustus 2010, pukul 04.32. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Asal Usul Manusia

Proses pembelajaran alam pemikiran terhadap eksistensi karakter pribadi, bisa dimulai dengan menginsafi hakekat kejadian anatomi manusia. Bahan baku jasad manusia, bila ditelusuri kembali, memungkinkan manusia untuk membentengi diri dari sikap arogan, sombong dan bangga diri. Nutfah yang membentuk jasad sempurna seorang manusia, hanyalah setetes mani. Satu sel spermatozoa yang membuahi indung telur perempuan, lewat proses engineering yang canggih, tahapan-tahapan pembentukan anatomi manusia berjalan. Dari cairan sperma yang performa lahirnya sama sekali jauh dari keindahan itulah manusia diciptakan. Coba tuangkan sesendok air di telapak tangan, kemudian amati dan bayangkan bahwa dari cairan sejenis air itulah organ tubuh kita dibuat.

'Bukankah keadaannya dahulu hanya setetes mani yang dipancarkan ke dalam rahim ?. (Qs.75 : 37)

Apakah manusia itu mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja 1), tanpa pertanggungan jawab ? (Qs. 75 : 36)

1.Maksudnya, kalau di dunia tidak usah mengerjakan perintah Tuhan dan menghentikan larangannya, sementara di akhirat tidak akan menghadapi hari berhisab.

Mampukah kita melihat bahwa dalam setetes sperma itu terdapat tangan, hidung, mata, telinga, kaki, jantung, tulang-tulang, batok kepala dan organ lainnya ? Adakah kepandaian, kelincahan, kecantikan, ketampanan yang sering disombongkan itu ? Di mana jabatan, pangkat, ilmu dan harta kekayaan yang sering dijadikan pijakan untuk membanggakan diri dan meremehkan manusia lain ? Tidak ada satu halpun yang bisa dibanggakan dari setetes mani yang menjijikkan itu. Lalu kenapa ketika sebuah perpaduan organ-organ itu telah terbentuk dan berkembang menjadi tubuh yang sempurna, manusia sering lupa, dari mana mereka diciptakan. Hidung mancung, otak brilian, wajah tampan, cantik membuat manusia lupa asal kejadiannya, kemudian berjalan dengan angkuh. Jabatan, gelar dan harta ternyata mampu menyilaukan manusia serta membuatnya buta akan kelemahannya. Menepuk dada karena tidak kunjung sanggup menyadari bahwa semua itu bukan miliknya.

Dari situ seharusnya kita malu dengan pribadi kita selama ini yang masih sering dijangkiti sifat ke-aku-an, sombong dan tinggi hati. Cobalah kita renungkan, dengan bahan baku kita yang hanya setetes cairan mani itu, sesungguhnya alasan apakah yang mendorong kita untuk berani merasa hebat, superior dari yang lain atau egosentris ? Dari sudut pandang manakah manusia menilai, sehingga mereka merasa pantas disanjung dan dikhlutuskan ? Sebaiknya kita mulai mencari, dari mana sebenarnya dorongan sombong, ingin dipuji, tertutup dari kritik, dan merasa lebih tinggi dari yang lain. Karena ada makhluk lain yang mula-mula mengawali memakai kesombongan sebagai pakaiannya. Dialah syaitan satu-satunya musuh manusia dalam permainan hidup ini. Dan syaitan pulalah yang pernah berjanji dan meminta ijin Tuhan untuk menjadikan manusia sombong dan lupa bersyukur. Karenanya, mari kita ajak diri ini untuk bertafakkur sampai jiwa ini benar-benar terduduk lalu bersujud. Sehingga terhindar dari bujukan dan serangan syaitan yang selalu mendongakkan kepala karena kecongkakan. Untuk hal ini kita dibantu Allah agar mampu menyegarkan ingatan terhadap siapa sebenarnya kita ini.


Artinya : Hendaklah manusia merenungkan dari benda apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang memancar, keluar dari antara tulang pinggul dan tulang rusuk. (Qs. 86 : 5-7)

Peringatan Allah tersebut disampaikan berkaitan dengan tingkah manusia sudah melampaui batas. Ketika dengan tak tahu diri, manusia mencuri baju kebesaran Tuhan dan memakainya. Pakaian itu adalah kesombongan. Di mana hanya Allah-lah yang berhak sombong dan hanya Dialah yang paling berhak menyandang semua gelar kebesaran dan segala bentuk pujian. Namun manusia dengan segala kenaifannya, lupa diri dan ikut-ikutan menyombongkan diri dan minta dipuji. Dengan ketampanan dan kecantikan, kita lalai untuk bersyukur. Jabatan dan pangkat melahirkan sifat kebal kritik. Ilmu yang dimiliki menutupi akal budi dari masukan pihak lain. Harta kekayaan melupakan kita dari mengingat Allah dan perbekalan hari akhirat. Kesadaran yang rendah terhadap konsep setetes mani juga menjadikan manusia lupa bahwa manusia lain adalah saudara, karena berasal dari zat yang sama. Sehingga jangan heran bila kemudian banyak terjadi persaingan, permusuhan dan bentrokan. Hilang sudah jiwa kasih sayang antar sesama bersamaan dengan hilangnya kesadaran bahwa sesama manusia adalah saudara.


Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami telah menciptakannya dari setetes air mani, tetapi kemudian menjadi musuh Kami seterang-terangnya 1).
1) Kalau manusia tahu bahwa ia dijadikan dari air mani yang hina, tentu ia tidak akan sombong, apalagi menjadi musuh Tuhan. (Qs. 36 : 77).

Dulunya manusia itu hanya setetes mani, lalu ketika sudah berujud manusia, bisa-bisanya menentang kehendak Allah dan memperturutkan nafsunya sendiri.Sungguh sebuah kedurhakaan yang amat besar.

Ditulis oleh: Sri Deviyanti*



Baca Selengkapnya..
Artikel "Asal Usul Manusia" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori ArtikelIslamSri Deviyanti. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/08/asal-usul-manusia.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Minggu, 15 Agustus 2010, pukul 21.59. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Arti Waktu Bagi Manusia

Arti waktu bagi seorang manusia itu ada dua (2)macam:

1. Waktu sebagai kesempatan

Satu hari terdiri dari 24 jam, dan ada 168 jam dalam satu minggu. Kadang kala terasa cepat berlalu kalau pekerjaan belum juga selesai, sementara deadline sudah mengejar. Sebaliknya, waktu kadang terasa lama ketika kita mengerjakan pekerjaan yang membosankan. Banyak orang yang dengan mudah mengambinghitamkan waktu apabila ia tidak dapat menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, dengan mengatakan “Seandainya waktu lebih dari 24 jam, tentu banyak pekerjaan yang dapat kuselesaikan.

Waktu berarti kesempatan, yang dapat kita isi secara saadra dan bertangggungjawab. Dalam kaitan dengan pekerjaan, waktu adalah kesempatan yang tersedia bagi kita untuk mengerjakan dan menyelesaikan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita. Dalam hal ini, waktu yang tersedia bagi kita untuk mengerjakan dan menyelasaikan pekerjaan kita, tidak selalu panjang. Kadang dalam waktu yang singkat saja kita harus mengerjakan dan menyelasaikan pekerjaan yang banyak dan beragam. Memang ada pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat, dan ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama.

Namun, masalahnya tidak selalu selalu terletak pada pekerjaan itu sendiri, melainkan juga pada cara kita membagi dan menggunakan waktu secara sadar dan bertanggung jawab. Dengan mengelola waktu yang dilakukan secar baik, maka waktu yang tersedia bagi kita yang biasanya tidak selalu banyak – dapat kita isi dengan lebih efektif dan efisien. Inilah yang membuat banyak oarng dalam waktu singkat dapat mengerjakan dan menyelesaikan banyak pekerjaan. Jadi, sebenarnya ada banayk pekerjaan yang bisa kita selesaikan dalam waktu singkat, tapi dalam kenyataannya kita membutuhkan waktu yang panjang untuk menyelesaikannya. Hal ini terjadi karena kita tiak menempatkan pengelolaan waktu sebagai hal yang penting dalam hidup kita, khususnya dalam kaitan dengan pekerjaan.

Waktu juga dapat diibatarkan sebagai uang yang di pinjamkan kepada kita. Sebagai pinjaman, maka uang itu harus kita gunakan sebaik-baiknya. Kita berusaha keras untuk bisa mellipat gandakannya, dan bukan malah menghabiskannya tanpa menghasilkan sesuatu. Begitu juga dengan waktu atau kesempatan yang kita miliki, kita tidak boleh membiarkan begitu saja waktu kerja efektif kita berlalu tanpa memberi manfaat. Terutama untuk hal yang berkaitan dengan penyelesaian pekerjaan kita. Sudah banyak pihak mengakui bahwa mengelola waktu merupakan hal utama dalam managemen diri. Seperti halnya kehidupan yang harus di kelola dan dikendalikan, agar kita dapat mencapai sasaran hidup dan pekerjaan yang telah kita tetapkan, seefektif dan seefisien mungkin.


2. Waktu adalah hidup

Secara lebih luas, waktu dapat diartikan sebagai hidup (Time is Life). Artinya, bagi manusia, waktu sama saja dengan hidup, yakni hidup yang masih bisa berbuat sesuatu karena adanya waktu. Lepas dari waktu, kita tidak bisa bicara tentang hidup, karena ketika kita katakan ‘dia hidup’ itu berarti ‘dia ada waktu’, lepas dari apakah dia bisa mengisi waktu itu dengan baik atau tidak. Dengan menyebut waktu itu adalah hidup, dengan membuang-buang waktu berarrti sama dengan menyia-nyikan hidup. Begitu juga ketika kita sudahkehabisan waktu, dimanan kita tidak ada waktu lagiuntuk bisa berbuat sesuatu, hidup kita sudah berakir sampai disitu. Maka selama kita masih hidup, kita masih punya waktu, dan selama kita punya waktu berarti kita masih hidup. Hidup dan waktu menjadi sesuatu yang identik. Sama halnya juga dengan kesempatan, selama kita masih hidup, kita masih punya kesempatan, menyia-nyiakan waktusama dengan menyia-nyiakan kesempatan. Kita tidak akan bisa mendapatkan kembali waktu yang sudah kita buang percuma, entah untuk mengisinya dengan hal yang luhur selakipun.

Ada orang yang hidup dengan pola pikir “go with the flow”. Maksudnya mereka tidak mau mengendalikan situasi, termasuk waktu. Motto mereka adalah "Hidup itu mengalir", akibatnya, setiap tindakan lebih didasarkan pada dorongan-dorongan sesaat ketimbang dorongan dari rancangan yang sudah di pikirkan. Dilain pihak ada juga orang yang sedemikian terobsesi dengan waktu.. bagi mereka waktu harus dikendalikan secara ketat menit demi menit. Mereka sama sekali tidak bisa mentolerir ketidaktepatan waktu, dan menganggap kesalahan jadwal sebagai malapetaka. Kedua ekstrim diatas jelas kurang tepat. Yang harus kita ambil adalah jalan tengah. Harus ada tanggung jawab untuk mengandalikan waktu, sehingga bisa membawa manfaat besar bagi hubungan kita dengan tuhan, dengan sesama dan juga dengan diri sendiri, bahkan dengan dunia. Menghargai waktu sama dengan menghargai hidup yang diberikan tuhan kepada kita dalam bentuk kemampuan untuk berbuat sesuatu, dalam dan terikat kurun waktu tertentu.

Ditulis oleh: Sri Deviyanti*



Baca Selengkapnya..
Artikel "Arti Waktu Bagi Manusia" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori ArtikelSri Deviyanti. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/08/arti-waktu-bagi-manusia.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal , pukul 21.57. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

About Love (Tentang Cinta)

Mungkin udah basi juga kali ya kata-kata yang kayak gini…
Tapi ga apa-apa deh,,,
yang klasik masih tetep asik kok,,,

Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada di sisi kita.
Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar, dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya…

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan. Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan di benakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia tersebut. Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati seorang gadis, ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar merah. Kadang kala kamu mencium harum mawar tersebut, tetapi kadang kala kamu terasa bisa duri mawar itu menusuk jari.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kadang kala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya.
Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi.
Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya.
Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati.

Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pencinta PALSU.
Kemungkinan apa yang kamu sayangi atau cintai tersimpan keburukan di dalamnya dan kemungkinan apa yang kamu benci tersimpan kebaikan di dalamnya.
Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri artinya bijaksana, cinta kepada mati artinya hidup, dan cinta kepada Tuhan artinya Takwa.
Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta ke dalam laut, pasti ia akan membawa seekor ikan.
Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan.
Seandainya kamu dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam, tetapi tidak mempunyai perasaan cinta dan kasih, dirimu tak ubah seperti gong yang bergaung atau sekedar canang yang gemerincing.

Cinta adalah keabadian … dan kenangan adalah hal terindah yang pernah dimiliki.
Siapa pun pandai menghayati cinta, tapi tak seorang pun pandai menilai cinta karena cinta bukanlah suatu objek yang bisa dilihat oleh kasat mata, sebaliknya cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan perasaan.
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dahsyatnya cinta.

Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak mengubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.
Kamu tidak akan pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. Namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya.

Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut, tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.
Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan, lebih baik cinta itu tak pernah hadir.

Kadang kala orang yang paling mencintaimu adalah orang yang tak pernah menyatakan cintanya padamu karena orang itu takut kau berpaling dan menjauhinya. Dan bila dia suatu saat hilang dari pandanganmu…kau akan menyadari bahwa dia adalah cinta yang tidak pernah kau sadari…
Ada 2 tetes air mata mengalir di sebuah sungai. Satu tetes air mata itu menyapa air mata yang satu lagi, ”Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki, tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu?”. Jawab titis air mata kedua itu, ”Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu saja.”
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi, jika kamu mau berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi, apabila kamu coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal di hatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

Cinta bukan mengajarkan kita menjadi lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan Mengajarkan kita menghinakan diri, tetapi mengembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat. (Hamka)
Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah embun itu kedustaan, penipu, langkah serong, dan perkara tercela lainnya. Tetapi, jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan perangai terpuji yang lain.

Ditulis oleh Sri Deviyanti*




Baca Selengkapnya..
Artikel "About Love (Tentang Cinta)" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori ArtikelCintaSri Deviyanti. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/08/about-love-tentang-cinta.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Sabtu, 14 Agustus 2010, pukul 10.06. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Syaitan Adalah Musuh Kita

Sebagai ummat beragama yang di dalamnya terdapat ajaran untuk mengimani unsur hidup yang ghaib, kita diwanti-wanti supaya mewaspadai musuh abadi manusia, yakni syaitan. Dan ketika Adam diciptakan, yang kemudian menggeser derajatnya, syaitan bersumpah dan meminta izin kepada Allah untuk mempergunakan hidupnya sampai kiamat guna menjerumuskan manusia kepada kesesatan. Mereka bergerilya tanpa henti di dalam kalbu manusia dengan berbagai cara dan metode. Mereka membisik, menasehati (Qs. 7 : 17, 20, 21, 27; Qs. 58 : 19) serta menanamkan keyakinan-keyakinan palsu.

Kita diberi petunjuk bahwa musuh kita yang sesungguhnya adalah syaitan. Bukan manusia, bukan malaikat, bukan pula binatang, tetapi syaitan yang ghoib-lah musuh abadi manusia. Hal itu tertuang dalam firman Allah pada Qs. Az Zukhruf 6, silahkan dicermati.

Bahwa ada unsur ghoib yang senantiasa berusaha mempengaruhi jalan pikiran kita dengan cara membisik, menasehati dan selalu mengintai. Bisikan dan nasehat itu disuarakan dalam hati manusia. Tempatnya yang berada dalam diri (hati) manusia, memungkinkan mereka untuk mengelabui manusia, sehingga tipu dayanya dirasakan manusia sebagai gerakan hatinya sendiri.

Karenanya kita harus belajar untuk merasakan keberadaan syaitan yang selalu mengintai kita. Syaitan selalu bergerilya dan mencoba terus menerus tanpa henti untuk menyetir jalan hidup manusia. Kita juga harus berjuang mati-matian untuk menempatkan syaitan sebagai musuh. Dalam benak kita, harus selalu terbentuk suasana perang, perang melawan anasir-anasir syaitan yang mengikuti peredaran darah. Sikap cengkiling terhadap segala kutikan hati, waspada dalam menerima keinginan kita. Kemudian mendeteksi gerakannya dan mengusirnya dari hati. Firman Allah :

اِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌ فَاتَّخِذُهُ عَدُوًّا اِنَّمَايَدْعُوْاحِزْبَهُ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحَابِ السَّعِيْرِ (فاطر : 6)

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Qs. Faathir ; 6)

Caranya, dengan selalu menyensor suara hati kita, keinginan-keinginan kita dengan ukuran syareat Allah yang ada dalam Al Quran dan Al Hadist. Setiap kali muncul keinginan dan reaksi terhadap segala isi kehidupan ini, terlebih dulu diseleksi ayat-ayat Allah. Kalau itu keinginan untuk melakukan atau memiliki, meraih sesuatu, direm dulu, kemudian saring. Tidakkah ini melanggar larangan Allah ? Sesuaikah dengan program dan aturan Allah. Kalau ternyata tidak sesuai berarti keinginan tersebut berasal dari syaitan. Cara yang sama juga terapkan bila muncul dalam hati kita perasaan benar sendiri, letupan ingin marah, menyimpan dendam, iri dengki yang semua jelas dari syaitan. Begitu pandainya syaitan sehingga mampu memutarbalikkan paham tentang musuh. Manusia yang seharusnya disayangi, oleh manusia dianggap musuh. Suara syaitan dalam hati yang diwaspadai sebagai suara musuh, justru dirasakan sebagai suara hatinya sendiri.

Kejadian manusia satu membenci manusia yang lain, anak kandung membunuh keluarganya, ibu kandungnya, suami memotong-motong tubuh istrinya adalah beberapa contoh betapa syaitan begitu mudah menguasai jalan pemikiran manusia. Sifat manusia asli tidak mungkin sampai terjadi hal yang demikian. Syaitan itu nyata adanya. Kalau mereka tidak nyata, tentu tidak akan ada pertengkaran, permusuhan, saling iri dan sifat-sifat jahat lainnya. Kalau syaitan tidak ada, sudah barangtentu kehidupan manusia ini sesuai fitrah, damai, tentram dan penuh kerukunan.

Kita patut berhati-hati terhadap ambisi yang bersifat duniawi seperti ingin kaya di dunia, ingin punya kedudukan tinggi, ingin dihormati, tidak mau diremehkan, yang kesemua itu melalaikan dari Allah dan kehidupan akhirat. Sangat mungkin kutika itu timbul dari jiwa yang telah dikuasai syaitan.

اِسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَاَنْ سهُمْ ذِكْرُاللهَ اُولـِكَ حِزْبَ الشَّيْطَانُ اَلآ اِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخسِرُوْنَ ( المجاد لة : 19)

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.

Jika satu pihak sudah dikuasai musuhnya, terpaksa semuanya diatur musuh. Pihak yang dikuasai tentu tidak berkutik terhadap kehendak musuh. Sekarang sudahkah kita merasakan bahwa syaitan itu musuh kita ? Bahwa syaitan itu nyata adanya meski ghoibnya wujudnya ? Jangan sampai menjadi manusia yang jiwanya sudah dikuasai syaitan tapi tidak merasa. Dan apa jadinya jika manusia tidak merasa punya musuh syaitan ?

*Ditulis oleh Sri Deviyanti



Baca Selengkapnya..
Artikel "Syaitan Adalah Musuh Kita" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori ArtikelIslamSri Deviyanti. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/08/syaitan-adalah-musuh-kita.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Rabu, 11 Agustus 2010, pukul 22.53. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :
 
Is Hosted by Blogger