100100 Voting: 999,879,658

Pengertian Sujud Syukur Dan Sujud Tilawah

Pengertian Sujud Syukur Dan Sujud Tilawah - Sujud Syukur Dan Sujud Tilawah

Berikut di bawah ini merupakan pengertian dari Sujud Syukur Dan Sujud Tilawah yang di tulis oleh Al Ustadz Zuhair bin Syarif yang saya kutip dari salah satu blog yang sempat saya baca, Awalnya saya hanya sekedar untuk menambah wawasan pribadi saja, tapi saya pikir di antara saudara juga mungkin membutuhkannya, karena itu saya mencoba memaparkan kembali disini. Oke, simak saja langsung di bawah ini:

a. Sujud Tilawah

Sujud tilawah mempunyai kedudukan yang tinggi dalam sunnah. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dalam hadits yang shahih yaitu :
Artinya : Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : "Jika Bani Adam membaca ayat sajdah maka setan menyingkir dan menangis lalu berkata : 'Wahai celaka aku, Bani Adam diperintahkan untuk sujud, maka dia sujud, dan baginya Surga, sedangkan aku diperintahkan untuk sujud, tetapi aku mengabaikannya, maka neraka bagiku.' " (Dikeluarkan oleh Muslim, lihat Fiqhul Islam halaman 23 karya Syaikh Abdul Qadir Syaibatul Hamdi)


Dengan hadits di atas jelas bagi kita bahwa sujud tilawah mempunyai arti yang agung bagi siapa saja yang mau mengamalkannya. Tentunya hal itu dilakukan dengan niat yang ikhlas hanya mencari wajah Allah Ta'ala dan sesuai dengan contoh Nabi kita, Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Karena amal tanpa kedua syarat tersebut akan tertolak, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, dari Ummul Mukminin, Aisyah Radhiallahu 'anha :
Artinya : "Barangsiapa mengamalkan suatu amal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amal tersebut tertolak. (HR. Muslim)

Kemudian dalil yang menunjukkan agar kita ikhlas dalam beramal adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
Artinya : "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus … ."(Al Bayyinah : 5)

Sedangkan kalau tidak ikhlas, amal itu akan terhapus. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
Artinya : "Jika engkau berlaku syirik kepada Allah, niscaya akan terhapus amalmu. (Az Zumar : 65)

Definisi Sujud Tilawah
Secara bahasa tilawah berarti bacaan. Sedangkan secara istilah, sujud tilawah artinya sujud yang dilakukan tatkala membaca ayat sajdah di dalam atau di luar shalat.

Disyariatkannya Sujud Tilawah Dan Hukumnya

Sujud tilawah termasuk amal yang disyariatkan. Hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah menunjukkan hal tersebut. Dikuatkan lagi dengan kesepakatan ulama sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Syafi'i dan Imam Nawawi.

Di antara dalil-dalil dari hadits yang menunjukkan disyariatkannya adalah :

1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, beliau berkata :
Artinya : "Kami pernah sujud bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pada surat (idzas sama'un syaqqat) dan (iqra' bismi rabbikalladzi khalaq). (HR. Muslim dalam Shahih-nya nomor 578, Abu Dawud dalam Sunan-nya nomor 1407, Tirmidzi dalam Sunan-nya nomor 573, 574, dan Nasa'i dalam Sunan-nya juga 2/161)

2. Hadits Ibnu Abbas. Beliau radhiallahu 'anhu bersabda :
Artinya : "Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sujud pada surat An Najm." (HR. Bukhari dalam Shahih-nya 2/553, Tirmidzi 2/464)

Dari hadits-hadits di atas, para ulama bersepakat tentang disyariatkannya sujud tilawah. Hanya saja mereka berselisih tentang hukumnya. Jumhur ulama berpendapat tentang sunnahnya sujud tilawah bagi pembaca dan pendengarnya. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwasanya Umar radhiallahu 'anhu pernah membaca surat An Nahl pada hari Jum'at. Tatkala sampai kepada ayat sajdah, beliau turun seraya sujud dan sujudlah para manusia.

Pada hari Jum'at setelahnya, beliau membacanya (lagi) dan tatkala sampai pada ayat sajdah tersebut, beliau berkata :
Artinya : "Wahai manusia, sesungguhnya kita akan melewati ayat sujud. Barangsiapa yang sujud maka dia mendapatkan pahala dan barangsiapa yang tidak sujud, maka tidak berdosa. [ Pada lafadh lain : "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla tidak mewajibkan sujud tilawah, melainkan jika kita mau." ] (HR. Bukhari)

Perbuatan Umar radhiallahu 'anhu di atas dilakukan di hadapan para shahabat dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengingkarinya. Hal ini menunjukkan ijma' para shahabat bahwa sujud tilawah disunnahkan. Di antara ulama yang menyatakan demikian adalah Syaikh Ali Bassam dalam kitabnya Taudlihul Ahkam dan Sayid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah.

Syaikh Abdurrahman As Sa'di menyatakan : "Tidak ada nash yang mewajibkan sujud tilawah, baik dari Al Qur'an, hadits, ijma', maupun qiyas … ." (Taudlihul Ahkam, halaman 167)

Pendapat lain menyatakan bahwa sujud tilawah hukumnya wajib. Hal ini dinyatakan oleh Madzhab Hanbali. Mereka berdalil dengan surat Al Insyiqaq :
Artinya : "Mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila Al Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak sujud. (Al Insyiqaq : 20-21)

Dengan adanya ayat di atas, mereka mengatakan bahwa orang yang tidak beriman ketika dibacakan ayat Al Qur'an tidak mau bersujud. Dengan demikian mereka menyimpulkan bahwa sujud tilawah itu hukumnya wajib. Namun pendapat yang rajih (kuat) bahwa hukum sujud tilawah adalah sunnah sebagaimana telah diterangkan di depan. Wallahu A'lam.

Di antara dalil yang menunjukkan tidak wajibnya sujud tilawah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari :
Artinya : "Bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sujud ketika membaca surat An Najm. (HR. Bukhari)

Pada hadits yang lain, Zaid bin Tsabit berkata :
Artinya : "Saya pernah membacakan kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam surat An Najm, tetapi beliau tidak bersujud. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan adanya kedua hadits ini dapat diketahui bahwa sujud tilawah tidak wajib hukumnya. Karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam kadang-kadang bersujud pada suatu ayat dan disaat lain pada ayat yang sama beliau tidak sujud. Pada hadits ini juga dimungkinkan bahwa pembaca --dalam hal ini Zaid bin Tsabit-- tidak bersujud sehingga Rasulullah pun tidak bersujud.

Hal ini didukung pula dengan perbuatan Umar di atas, beliau radhiallahu 'anhu tidak bersujud ketika membaca ayat sajdah. Padahal yang ikut shalat bersama beliau radhiallahu 'anhu adalah para shahabat dan mereka tidak mengingkarinya.

Tempat-Tempat Disyariatkannya Sujud Tilawah

Ada beberapa pendapat mengenai tempat dalam Al Qur'an yang mengandung ayat-ayat sajdah sebagaimana dinyatakan oleh Imam Shan'ani dalam Subulus Salam juz 1, halaman 402-403 :

1. Pendapat Madzhab Syafi'i

Sujud tilawah terdapat pada sebelas tempat. Mereka tidak menganggap adanya sujud tilawah dalam surat-surat mufashal (ada yang berpendapat yaitu surat Qaaf sampai An Nas, ada juga yang berpendapat surat Al Hujurat sampai An Nas).

2. Pendapat Madzhab Hanafi

Sujud tilawah terdapat pada empat belas tempat. Mereka tidak menghitung pada surat Al Hajj, kecuali hanya satu sujud.

3. Pendapat Madzhab Hanbali

Sujud tilawah terdapat pada lima belas tempat. Mereka menghitung dua sujud pada surat Al Hajj dan satu sujud pada surat Shad.

Pendapat pertama berdalil dengan hadits Ibnu Abbas : "Bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak sujud pada surat-surat mufashal sejak berpindah ke Madinah." (HR. Abu Dawud, 1403)

Ibnu Qayim Al Jauziyah berkata tentang hadits ini : "Hadits ini dlaif, pada sanadnya terdapat Abu Qudamah Al Harits bin 'Ubaid. Haditsnya tidak dipakai." Imam Ahmad berkata : "Abu Qudamah haditsnya goncang." Yahya bin Ma'in berkata : "Dia dlaif." An Nasa'i berkata : "Dia jujur, tapi mempunyai hadits-hadits mungkar." Abu Hatim berkata : "Dia syaikh yang shalih, namun banyak wahm-nya (keraguannya)."

Ibnul Qathan beralasan (men-jarh) dengan tulisannya dan berkata : "Muhammad bin Abdurrahman menyerupainya dalam kejelekan hapalannya dan aib bagi seorang Muslim untuk mengeluarkan haditsnya."

Padahal telah shahih dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwasanya beliau sujud bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ketika membaca surat iqra' bismi rabbikal ladzi khalaq dan idzas samaun syaqqat (keduanya termasuk surat-surat mufashal).

Beliau masuk Islam setelah kedatangan Nabi ke Madinah selama enam atau tujuh tahun. Jika dua hadits di atas bertentangan dari berbagai segi dan sama dalam keshahihannya, niscaya akan jelas untuk mendahulukan hadits Abu Hurairah. Karena hadits ini tsabit (tetap) dan ada tambahan ilmu yang tersamarkan bagi Ibnu Abbas. Apalagi hadits Abu Hurairah sangat shahih, disepakati keshahihannya, sedangkan hadits Ibnu Abbas dlaif. Wallahu A'lam. (Zadul Ma'ad, juz 1 halaman 273)

Pendapat pertama juga berdalil dengan hadits Abi Darda : "Aku sujud bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sebelas sujud yaitu, Al A'raaf, Ar Ra'd, An Nahl, Bani Israil, Al Hajj, Maryam, Al Furqan, An Naml, As Sajdah, Shad, dan Ha Mim As Sajdah. Tidak ada padanya surat-surat mufashal."

Abu Dawud berkata : "Riwayat Abu Darda dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tentang sebelas sujud ini sanadnya dlaif. Hadits ini tidak ada pada riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah, sedangkan sanadnya tidak dapat dipakai."

Pendapat kedua terbantah dengan hadits 'Amr bin 'Ash : "Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam membacakan kepadanya lima belas (ayat) sajdah. Tiga di antaranya terdapat dalam surat-surat mufashal dan dua pada surat Al Hajj." (HR. Abu Dawud 1401 dan Hakim 1/811)

Hadits ini sekaligus merupakan dalil bagi siapa saja yang menyatakan bahwa sujud tilawah ada lima belas (seperti pendapat ke-3 di atas). Dalam mengomentari hadits ini, Syaikh Al Albani berkata : "Kesimpulannya, hadits ini sanadnya dlaif. Umat telah menyaksikan kesepakatannya.

Namun, meskipun hadits ini dlaif, tapi didukung oleh kesepakatan umat untuk beramal dengannya. Juga hadits-hadits shahih mendukungnya, hanya saja, sujud yang kedua pada surat Al Hajj tidak didapat pada hadits dan tidak didukung oleh kesepakatan. Akan tetapi shahabat bersujud ketika membaca surat ini. Dan hal ini termasuk hal yang dianggap masyru', lebih-lebih tidak diketahui ada shahabat yang menyelisihinya. Wallahu A'lam." (Tamamul Minnah, halaman 270)

Adapun kelima belas ayat sajdah tersebut terdapat pada surat-surat :

1. Al A'raf ayat 206.
2. Ar Ra'd ayat 15.
3. An Nahl ayat 50.
4. Maryam ayat 58.
5. Al Isra' ayat 109.
6. Al Hajj ayat 18.
7. Al Hajj ayat 77.
8. Al Furqan ayat 60.
9. An Naml ayat 26.
10. As Sajdah ayat 15.
11. Shad ayat 24.
12. An Najm ayat 62.
13. Fushilat ayat 38.
14. Al Insyiqaq ayat 21.
15. Al 'Alaq ayat 19.

Tata Cara Sujud Tilawah

Tata cara sujud tilawah dijelaskan oleh para ulama dengan mengambil contoh dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya. Di antara hadits yang diambil faedahnya adalah hadits Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma di atas. Juga atsar Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Sa'id bin Jubair, beliau berkata : "Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma pernah turun dari kendaraannya, kemudian menumpahkan air, lalu mengendarai kendaraannya. Ketika membaca ayat sajdah, beliau bersujud tanpa berwudlu." Demikian penukilan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/644.

Beliau menambahkan, adapun atsar yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Laits dari Nafi dari Ibnu Umar bahwasanya beliau berkata : "Janganlah seseorang sujud kecuali dalam keadaan suci." Maka cara menggabungkannya adalah bahwa yang dimaksud dengan ucapannya suci adalah suci kubra (Muslim, tidak kafir) … . Ucapan ini dikuatkan dengan hadits : "Seorang musyrik itu najis."

Ketika mengomentari judul bab (yaitu bab Sujudnya kaum Muslimin bersama kaum musyrikin padahal seorang musyrik itu najis dan tidak memiliki wudlu) yang dibuat oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya, Ibnu Rusyd berkata : "Pada dasarnya semua kaum Muslimin yang hadir di kala itu (ketika membaca ayat sajdah) dalam keadaan wudlu, tapi ada pula yang tidak. Maka siapa yang bersegera untuk sujud karena takut luput, ia sujud walaupun dia tidak berwudlu ketika ada halangan atau gangguan wudlu.

Hal ini diperkuat dengan hadits Ibnu Abbas bahwa pernah sujud bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, kaum Muslimin, musyrikin, dari golongan jin dan manusia. Di sini, Ibnu Abbas menyamakan sujud bagi semuanya, padahal pada waktu itu ada yang tidak sah wudlunya. Dari sini diketahui bahwa sujud tilawah tetap sah dilakukan, baik oleh orang yang berwudlu maupun yang tidak. Wallahu A'lam."

Jadi, kesimpulannya bahwa sujud tilawah boleh dilakukan bagi yang berwudlu maupun yang tidak.

Termasuk dari syarat sujud tilawah adalah takbir. Hanya saja terjadi ikhtilaf mengenai hukumnya. Demikian dibawakan oleh Syaikh Ali Bassam dalam kitabnya Taudlihul Ahkam.

Adapun yang rajih (lebih kuat) adalah disunnahkan takbir jika dilakukan dalam shalat. Hal ini berdasarkan keumuman hadits bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam takbir pada tiap pergantian rakaat. Adapun mengenai sujud tilawah diluar shalat, Abu Qilabah dan Ibnu Sirin berkata dalam Al Mushanaf yang diriwayatkan oleh Abdur Razaq : "Apabila seseorang membaca ayat sajdah diluar shalat, hendaklah mengucapkan takbir."

Beliau (Abdur Razaq) dan Baihaqi meriwayatkannya dari Muslim bin Yasar yang dikatakan Syaikh Al Albani bahwa : "Sanadnya shahih."

Adapun ketika bangkit dari sujud, tidak teriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bahwa beliau mengucapkan takbir. Hal ini diungkapkan oleh Ibnul Qayim dalam Zadul Ma'ad, juz 1 halaman 272. Wallahu A'lam.

Dari kedua point di atas dapat disimpulkan bahwa pada saat hendak melakukan sujud tilawah :

1. Tidak diharuskan berwudlu.

2. Disunnahkan bertakbir, baik pada waktu shalat maupun diluar shalat.

3. Menghadap kiblat dan menutup aurat, sebagaimana yang dinyatakan oleh para fuqaha.

Tentang masalah ini, terdapat riwayat yang dihasankan oleh Ibnu Hajar Al 'Asqalani yang berbunyi : "Dari Abu Abdirrahman As Sulami berkata bahwa Ibnu Umar pernah membaca ayat sajdah kemudian beliau sujud tanpa berwudlu dan tanpa menghadap kiblat dan beliau dalam keadaan mengisyaratkan suatu isyarat." (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, lihat Fathul Bari juz 2 halaman 645)

Namun, untuk lebih selamat adalah mengikuti apa yang dinyatakan jumhur fuqaha, sedangkan atsar Ibnu Umar dipahami pada situasi darurat.

4. Boleh dilakukan pada waktu-waktu dilarang shalat.

5. Disunnahkan bagi yang mendengar bacaan ayat sajdah untuk sujud bila yang membaca sujud dan tidak bila tidak.

6. Tidak dibenarkan dilakukan pada shalat sir (shalat dengan bacaan tidak nyaring) seperti pendapat Imam Malik, Abu Hanifah, dan Syaikh Muqbil, serta Syaikh Al Albani. Sedangkan hadits yang menerangkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sujud tilawah pada shalat dhuhur adalah munqathi' (terputus sanadnya) dan tidak bisa dipakai sebagai dalil. Hal ini diungkapkan oleh Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah, halaman 272.

7. Doa yang dibaca pada waktu sujud tilawah :
Artinya : "Wajahku sujud kepada Penciptanya dan Yang membukakan pendengaran dan penglihatannya dengan daya upaya dan kekuatan-Nya, Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta. (HR. Tirmidzi 2/474, Ahmad 6/30, An Nasa'i 1128, dan Al Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Dzahabi)

Tidak ada hadits yang shahih tentang doa sujud tilawah kecuali hadits Aisyah (di atas) menurut Sayid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah 1/188, tanpa komentar dari Syaikh Al Albani.

b. Sujud Syukur

Sujud syukur termasuk petunjuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya ketika mendapatkan nikmat yang baru (nikmat yang sangat besar dari nikmat yang lain) atau ketika tercegah dari musibah/adzab yang besar. Hal ini dijelaskan oleh Ibnul Qayim dalam Zadul Ma'ad 1/270 dan Syaikh Abdurrahman Ali Bassam dalam Taudlihul Ahkam 2/140 dan lain-lain.

Hukum Sujud Syukur

Jumhur ulama berpendapat tentang sunnahnya sujud ini. Hal ini diungkapkan oleh Sayid Sabiq dalam kitabnya Fiqhus Sunnah 1/179 dan Syaikh Al Albani menyetujuinya. Di antara hadits-hadits yang digunakan adalah :

a. Hadits dari Abi Bakrah :

Artinya : "Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam apabila datang kepadanya berita yang menggembirakannya, beliau tersungkur sujud kepada Allah. (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 7/20477, Abu Dawud 2774, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dalam Al Iqamah, Abdul Qadir Irfan menyatakan bahwa sanadnya shahih. Dihasankan pula oleh Syaikh Al Albani)

b. Hadits :
Artinya : "Bahwasanya Ali radhiallahu 'anhu menulis (mengirim surat) kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengabarkan tentang masuk Islamnya Hamdan. Ketika membacanya, beliau tersungkur sujud kemudian mengangkat kepalanya seraya berkata : "Keselamatan atas Hamdan, keselamatan atas Hamdan." (HR. Baihaqi dalam Sunan-nya 2/369 dan Bukhari dalam Al Maghazi 4349. Lihat Al Irwa' 2/226)

c. Hadits Anas bin Malik :

Bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ketika diberi kabar gembira, beliau sujud syukur. Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah 1392. Pada sanad hadits ini terdapat Ibnu Lahi'ah, dia jelek hapalannya, namun Syaikh Al Albani berkata : "Sanad ini tidak ada masalah karena ada syawahidnya."

d. Hadits Abdurrahman bin Auf :
Artinya : "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, Jibril Alaihis Salam datang kepadaku dan memberi kabar gembira seraya berkata : "Sesungguhnya Rabbmu berkata kepadamu, 'barangsiapa membaca shalawat kepadamu, Aku akan memberi shalawat kepadanya. Dan barangsiapa memberi salam kepadamu, Aku akan memberi salam kepadanya.' " Maka aku sujud kepada-Nya karena rasa syukur. (HR. Ahmad 1/191, Hakim 1/550, dan Baihaqi 2/371)

Hadits-hadits di atas dikomentari oleh Syaikh Al Albani dan Syaikh Salim Al Hilali sebagai berikut : "Kesimpulannya, tidak diragukan lagi bagi seorang yang berakal untuk menetapkan disyariatkannya sujud syukur setelah dibawakan hadits-hadits ini. Lebih-lebih lagi hal ini telah diamalkan oleh Salafus Shalih radhiallahu 'anhum.

Di antara atsar-atsar para shahabat adalah :

1. Sujud Ali radhiallahu 'anhu ketika mendapatkan Dzutsadniyah pada kelompok khawarij. Atsar ini ada pada riwayat Ahmad, Baihaqi, dan Ibnu Abi Syaibah dari beberapa jalan yang mengangkat atsar ini menjadi hasan.

2. Sujud Ka'ab bin Malik karena syukur kepada Allah ketika diberi kabar gembira bahwa Allah menerima taubatnya. Dikeluarkan oleh Bukhari 3/177-182, Muslim 8/106-112, Baihaqi 2/370, 460, dan 9/33-36, dan Ahmad 3/456, 459, 460, 6/378-390.

Menanggapi atsar-atsar ini Syaikh Salim berkata : "Oleh karena itu, seorang yang bijaksana tidak meragukan lagi untuk menyatakan disyariatkannya sujud syukur.

Barangsiapa menyangka bahwa sujud syukur merupakan perkara bid'ah, maka janganlah menengok kepadanya setelah peringatan ini." (Lihat Bahjatun Nadhirin, jilid 2 halaman 325)

Bagaimana syarat-syarat dilaksanakannya sujud syukur?

Imam Shan'ani menyatakan setelah membawakan hadits-hadits masalah sujud syukur di atas : "Tidak ada pada hadits-hadits tentang hal ini yang menunjukkan adanya syarat wudlu dan sucinya pakaian dan tempat."

Imam Yahya dan Abu Thayib juga berpendapat demikian. Adapun Abul 'Abbas, Al Muayyid Billah, An Nakha'i, dan sebagian pengikut Syafi'i berpendapat bahwa syarat sujud syukur adalah seperti disyaratkannya shalat.

Imam Yahya mengatakan pula : "Tidak ada sujud syukur dalam shalat walaupun satu pendapat pun."

Abu Thayib tidak mensyaratkan menghadap kiblat ketika sujud ini. (Lihat Nailul Authar, juz 3 halaman 106)

Imam Syaukani merajihkan bahwa dalam sujud syukur tidak disyaratkan wudlu, suci pakaian dan tempat, juga tidak disyaratkan adanya takbir dan menghadap kiblat. Wallahu A'lam.

Kesimpulan

Dari keterangan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Disyariatkannya sujud tilawah dalam shalat dan diluar shalat. Jika diluar shalat, bagi yang mendengar ayat sajdah sujud jika yang membacanya sujud. Sedangkan sujud syukur hanya dilakukan diluar shalat.

2. Hukum sujud tilawah dan sujud syukur adalah sunnah.

3. Sujud tilawah ada pada 15 tempat. Sedangkan sujud syukur dilakukan pada waktu mendapatkan kabar gembira yang besar. Bukan hanya pada setiap mendapatkan kenikmatan saja, karena nikmat Allah itu selalu diberi kepada kita. Juga dilakukan ketika terlepas dari mara bahaya.

4. Sujud tilawah dan sujud syukur boleh dilakukan pada waktu-waktu dilarang shalat.

5. Pada sujud tilawah disunnahkan takbir di dalam atau di luar shalat, sedangkan sujud syukur tidak.

6. Pada sujud tilawah dan sujud syukur tidak disyaratkan berwudlu terlebih dahulu.

Wallahu A'lam.

Demikian pemaparan dari Pengertian Sujud Syukur Dan Sujud Tilawah yang dikutip dari tulisan Al Ustadz Zuhair bin Syarif dalam Majalah SALAFY/Edisi XXIV/1418/1998/AHKAM)
Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya..
Artikel "Pengertian Sujud Syukur Dan Sujud Tilawah" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori KeIslaman. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2012/01/pengertian-sujud-syukur-dan-sujud.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Senin, 30 Januari 2012, pukul 02.04. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Pernikahan Yang Sakinah Mawaddah dan Wa Rahmah

Pernikahan Yang Sakinah Mawaddah dan Wa Rahmah - Perwujudan Pernikahan Yang Sakinah Mawaddah dan Wa Rahmah

Mayoritas orang atau umat manusia menginginkan sebuah pernikahan yang Sakinah, Mawaddah dan Wa Rahmah. Dan seperti pemaparan di bawah ini yang mengupas sekilas masalah pernikahan yang di tulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Asykari Bin Jamal Al-Bugisi. Seperti apa pemaparannya? Simak saja di bawah ini:


وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar-Rum: 21)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
مِنْ أَنْفُسِكُمْ
"Dari jenis kalian."
Yakni dari Bani Adam yang menjadi pasangan kalian. (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Baghawi, Fathul Qadir)
لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
"Agar kamu merasa tenang dan condong kepadanya."

Sebab jika dari dua jenis yang berbeda, tentu tidak mendatangkan ketenangan bersamanya dan hatinya tidak condong kepadanya. (Tafsir Al-Alusi)
مَوَدَّةً
"Saling mencintai dan mengasihi."
Melalui tali pernikahan, sebagian kalian condong kepada sebagian lainnya, yang sebelumnya kalian tidak saling mengenal, tidak saling mencintai dan mengasihi. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud mawaddah adalah kecintaan seorang suami kepada istrinya. Diriwayatkan dari Mujahid bahwa beliau menafsirkan mawaddah dengan makna bersetubuh. (Fathul Qadir karya Asy-Syaukani rahimahullah)
وَرَحْمَةً
"Dan kasih sayang."
Adapula yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah perasaan kasih seorang lelaki kepada istrinya dari tertimpa keburukan. Diriwayatkan dari Mujahid rahimahullahu, beliau mengatakan: "Rahmah adalah anak." (Fathul Qadir)

Penjelasan Makna Ayat
Al-'Allamah Abdurrahman As-Sa'di rahimahullahu berkata: " 'Di antara tanda-tanda kekuasaan' yang menunjukkan rahmat dan perhatian-Nya kepada hamba-hamba-Nya, hikmah-Nya yang sangat agung dan ilmu-Nya yang luas, adalah "Dia menciptakan kalian dari jenis kalian dengan berpasang-pasangan," yang mereka serasi dengan kalian dan kalianpun serasi dengan mereka. Sesuai dengan bentuk kalian dan kalian sesuai dengan bentuk tubuh mereka. "Agar kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Allah jadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang" sebagai buah dari pernikahan tersebut. Dengan adanya istri, seseorang dapat bersenang-senang dan merasakan kenikmatan, mendapatkan manfaat dengan adanya anak-anak, mendidik mereka, serta merasakan ketenangan bersamanya. Sehingga kebanyakannya, engkau tidak mendapati sebuah kasih sayang dan rahmat yang menyerupai apa yang dirasakan antara suami dan istri. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi kaum yang berpikir. Yang menggunakan pikirannya dan mentadabburi ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala serta berpindah dari satu ayat kepada yang lainnya." (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)

Al-'Allamah Asy-Syinqithi rahimahullahu berkata: "Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan dalam ayat yang mulia ini bahwa Ia memberi anugerah kepada anak cucu Adam berupa anugerah yang paling agung. Di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan mereka dari jenis dan bentuk mereka berpasang-pasangan. Kalau sekiranya Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan pasangan dari jenis lain, tentu tidak akan terjadi kasih sayang, perasaan cinta dan rahmat." (Adhwa`ul Bayan, 3/213, dalam penafsiran Surat An-Nahl ayat 72)

Mawaddah dalam Rumah Tangga
Ayat ini menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya bahwa di antara hikmah adanya pernikahan antara seorang pria dengan wanita adalah agar dapat mewujudkan perasaan saling mencintai dan saling mengasihi di antara mereka. Hal ini baru dapat terwujud ketika seorang pria menikahi seorang wanita yang pencinta/penyayang terhadap suaminya, serta mewujudkan harapan suaminya dengan mendapatkan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta'ala berupa keturunan dari anak-anak yang shalih dan shalihah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (Al-Kahfi: 46)
Dan firman-Nya:


زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (Ali 'Imran: 14)
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan anjuran kepada umatnya untuk menikahi seorang wanita yang dapat mewujudkan mawaddah dan rahmah dalam rumah tangganya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa beliau berkata: "Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras dari tabattul (mencegah diri untuk menikah). Beliau SAW bersabda:

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ اْلأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Nikahilah wanita yang al-wadud dan al-walud, karena sesungguhnya aku berbangga di hadapan para nabi dengan jumlah umatku yang banyak pada hari kiamat." (HR. Ahmad, 3/158, Ibnu Hibban dengan tartib Ibnu Bulban, 9/338, no. 4028, Al-Baihaqi, 7/81, Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, 5/207. Dishahihkan Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa`, 6/195, no. 1783)
Juga diriwayatkan dari Ma'qil bin Yasar radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: 'Sesungguhnya aku mendapati seorang wanita yang memiliki kehormatan, kedudukan, dan harta. Hanya saja dia tidak dapat melahirkan (mandul), apakah boleh aku menikahinya?' Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarangnya. Lalu ia datang kedua kalinya, dan beliau mengucapkan kalimat yang sama. Ia mendatanginya pada kali yang ketiga, dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tetap mengucapkan kalimat yang sama. Lalu Ralulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Nikahilah wanita yang al-wadud dan al-walud, karena sesungguhnya aku berbangga di hadapan para nabi dengan jumlah umatku yang banyak pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud, Kitab An-Nikah, Bab Fi Tazwij Al-Abkar, no. 2050, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 2/176, Ibnu Hibban, 9/363, no. 4056. Dishahihkan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abu Dawud)

Yang dimaksud al-wadud adalah seorang wanita yang sangat pecinta/penyayang terhadap suaminya. Sedangkan makna al-walud adalah wanita yang banyak melahirkan anak. Disebutnya dua sifat wanita yang dijadikan sebagai istri ini adalah karena seorang wanita yang dapat melahirkan anak banyak namun tidak memiliki sifat cinta kepada suaminya, tidaklah menyebabkan kecintaan suaminya terhadapnya. Demikan pula sebaliknya, seorang wanita yang pecinta terhadap suami namun tidak dapat melahirkan anak, dia tidak pula dapat mewujudkan keinginan untuk memperbanyak jumlah umat ini dengan banyaknya orang yang melahirkan.

Dua sifat ini dapat diketahui dari seorang perawan dengan melihat kepada kerabatnya. Sebab, secara umum tabiat mereka saling menyerupai antara satu dengan yang lain. (lihat 'Aunul Ma'bud, 6/33-34)
Diriwayatkan pula dari Ka'b bin 'Ujrah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda:


أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِرِجَالِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ، وَالشَّهِيدُ فِي الْجَنَّةِ، وَالصِّدِّيقُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْمَوْلُودُ فِي الْجَنَّةِ، وَالرَّجُلُ يَزُورُ أَخَاهُ فِي جَانِبِ الْمِصْرِ فِي الْجَنَّةِ، أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قَالُوا: بَلَى يا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: الْوَدُودُ الْوَلُودُ الَّتِي إِنْ ظَلَمَتْ أَوْ ظُلِمَتْ قَالَتْ: هَذِهِ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ لاَ أَذُوقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى
"Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang para lelaki penduduk surga?" Mereka menjawab: "Ya, wahai Rasulullah." Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Nabi dalam surga, syahid (yang mati dalam peperangan) dalam surga, shiddiq (yang sangat jujur) dalam surga, anak yang dilahirkan (meninggal di masa kecilnya) dalam surga, seseorang yang mengunjungi saudaranya di sebuah kampung dalam surga. Maukah aku kabarkan kalian tentang wanita ahli surga?" Mereka menjawab: "Ya, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Wanita yang wadud (pecinta kepada suaminya), wanita yang banyak melahirkan anak, (yang suka kembali kepada suaminya) yang jika dia menzalimi atau dizalimi, maka dia berkata: 'Diriku ada dalam genggamanmu, aku tidak merasakan tidur hingga engkau ridha (kepadaku)'." (HR. Ath-Thabarani, 19/140, dihasankan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami', no. 2604)

Kaidah
Apa yang disebutkan di dalam ayat yang mulia tersebut berupa anjuran mencari pasangan hidup dan menghasilkan keturunan, tidak terlepas dari sebuah kaidah umum yang terdapat dalam agama ini yang mengatakan:

الشَّارِعُ لاَ يَأْمُرُ إِلاَّ بِمَا مَصْلَحَتُهُ خَالِصَةٌ أَوْ رَاجِحَةٌ وَلاَ يَنْهَى إِلاَّ عَمَّا مَفْسَدَتُهُ خَالِصَةٌ أَوْ رَاجِحَةٌ
"Syariat tidak memerintahkan kecuali kepada sesuatu yang kemaslahatannya murni atau lebih mendominasi, dan tidak melarang kecuali dari sesuatu yang kerusakannya murni atau lebih mendominasi."
Kaidah ini dibangun di atas dalil-dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Di antara yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (An-Nahl: 90)
Maka tidak ada sesuatupun yang bersifat adil, perbuatan baik, dan menyambung hubungan dengan yang lain, melainkan Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkannya berdasarkan ayat ini. Juga, tidak satupun perbuatan keji, mungkar yang hubungannya dengan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan perbuatan zalim terhadap makhluk baik terhadap darah, harta, dan kehormatan mereka melainkan Allah Subhanahu wa Ta'ala melarangnya.

Demikian pula firman-Nya:

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
"Katakanlah: 'Rabbku menyuruh menjalankan keadilan.' Dan (katakanlah): 'Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya)'." (Al-A'raf: 29)
Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengumpulkan pokok-pokok (ushul) dari perintah-perintah-Nya. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala mengumpulkan pokok-pokok (ushul) dari hal-hal yang diharamkan dalam firman-Nya:


قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
"Katakanlah: 'Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui'." (Al-A'raf: 33)
Demikian pula dengan pernikahan, di mana seorang muslim dan muslimah mendapatkan banyak kemaslahatan darinya, berupa pemeliharaan terhadap kehormatan, mencegah dari perbuatan zina, memelihara pandangan, melanjutkan generasi, dan berbagai faedah lainnya yang tidak tersamarkan bagi mereka yang telah melakukannya. Wallahu alam.

Demikian pemaparan dari Pernikahan Yang Mawaddah dan Wa Rahmah, Semoga bermanfaat untuk semuanya.
Baca Selengkapnya..
Artikel "Pernikahan Yang Sakinah Mawaddah dan Wa Rahmah" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori KeIslaman. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2012/01/pernikahan-yang-sakinah-mawaddah-dan-wa.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal , pukul 01.04. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Renungan Tahun Baru 2012

Renungan Tahun Baru 2012 - Renungan Ahir Tahun - keislaman - Tafakur Tahun Baru - Tahun Baru 2012

"Sungguh, dalam semua ini terdapat pesan bagi
mereka yang dapat membaca tanda-tanda,"
(Q.S. Al-Hijr [15]: 75).


"SELAMAT TAHUN BARU 2012"
Bagi Umat Islam, sejenak merenungi diri untuk mengubah kondisi kearah yang lebih baik adalah misi suci tiada henti. Disini, di bumi ini, tugas kita adalah pesan suci langit kepada manusi. Menyampaikan keluhuran, kesucian, dan kedamaian hingga terasa nyata oleh seluruhalam semesta. Itulah mengapa Islam memegang teguh prinsip "rahmatan lil alamin". Transformasi diri dalam perspektif Islam tidak hanya di lakukan pada saat-saat tertentu, tetapi sepanjang hayat di kandung badan. Dalam bahasa lain, seumur hidup, perubahan ke arah yang lebih baik harus memenuhi visi dan misi hidupnya. Tujuan akhir (ultimate goal) Umat Islam adlah terus bekerja keras, demi menggapai kasih sayang (al-ridha) Allah, pencipta kehidupan ini.

     Begitu juga ketika DIA (Allah) menciptakan waktu. Itu adalah wujud dari kasih sayang-Nya kepada umat manusia. Dengan perputaran waktu, setiap manusia yang sadar mampu menghargai pemberian-Nya. Salah satunya keberkahan usia. Tahun kemarin, tanggal di kalender adalah tanggal yang berada di tahun 1432 H. Sekarang, tahun itu berubah menjadi 1433H. Begitu pun dengan tahun masehi, sekarang berganti tahun menjadi 2012. Lantas, Sudahkah kita bertafakur?

     Tafakur, adalah istilah arab untuk menyebutkan aktivitas berpikir. Di dalamnya, ujar pakar linguistik, ada upaya reflektif, kontemplasi yang hati-hati dan sistematik. Tafakur juga bisa dapat menjembatani pandangan hidup manusia, bahwa ada yang di sebut dunia dan akhirat, bahkan ada mahluk dan pencipta. Tafakur di sebutkan Al-qur'an sebanyak 18 kali yang di gunakan sebagai "kata kerja" ketimbang "kata benda". Artinya, menunjukan bahwa tafakurmerupakan suatu proses, bukan hanya konsepsi abstrak.

     Jamal bahi dan Mustapha Tajdin, dalam buku Islamic creative Thinking (Mizania, 2008: 17-20), menurut istilah lain dari tafakur. 1) Nazhar, yakni memperhitungkan, memerhatikan, dan memikirkan; 2) Tabashshur, yang berarti memahami; 3) Tadabbur, yaitu merenungkan; 4) Tafaqquh, berarti memahami sepenuhnya, menangkap makna, dan sungguh-sungguh mengerti; 5) Tadzakur, ialah mencamkan dalam pikiran atau hati; 6) I'tibar, di artikan belajar, mengambil atu memetik pelajaran dari sejarah, pengalaman, dengan maksud agar tidak mengulangi kesalahan; 7) Ta'akul, adalah menggunakan pikiran dengan benar; 8) Tawassun, merupakan aktivitas membaca tanda-tanda tersirat.

     Dari beragamnya sinonim tafakur dalam Alqur'an, satu yang harus kita garis bawahi, yakni menggunakan akal dan pikiran untuk merenung, berefleksi, dan berpikir tentang bangsa adalah inti dari penciptaan waktu oleh-Nya. Sebagai sang pencipta, Allah SWT, mewajibkan kita untuk mengisi waktu sebaik mungkin. Pergantian tahun, bukan berarti kita harus melupakan tahun-tahun yang lalu. Namun, terus tenggelam pada masa lalu pun tidak akan mengubah apa-apa, kecuali kekecewaan. Oleh karena itu, dalam Islam, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, bukan lantas meratapi apa yang telah di perbuat pada tahun yang lalu.

     Detik-detik Pergantian tahun ini adalah awal yang baik untuk bertafakur tentang kondisi bangsa, negara, agama, dan laku lampah pribadi kita. Orang yang dapat membaca dan menangkap tanda-tanda yang di berikan-Nya, adalah individu yang dapat mengubah dirinya kearah yang lebih baik. Tentunya dengan memanfaatkan potensi akal dan hati yang di anugerahkan-Nya kepada seluruh umat manusia. Kesejatian muslim dan muslimah akan terwujud seandainya kita mengetahui segala kesalahan di masa lalu, dan berupaya mengubahnya menjadi lebih baik. Dalam hal ini, Tafakur bisa berarti upaya intelektual untuk mengubah diri, masyarakat, bahkan Dunia. Tetapi, jangan melupakan bahwa di samping bertafakur, kita juga mesti memanjatkan do'a kepada-Nya.

     Ali Syari'ati berpandangan, tanda dari kehausan dan kasmarannya hati untuk melakukan mikraj keabadian. Pendakian ke puncak kesuksesan yang mutlak, dan perjalanan memanjat dinding keluar dari batas alam fisik (mundus sensibilis). Artinya, do'a adalah sarana perlawanan terakhir; di saat semua potensi perlawanan yang lain telah di babat habis. Do'a adalah raison d'etre kebadian spirit manusia untuk keluar dari ancaman bencana kepunahan. Pada zaman Salafushalihin, masyarakat kota basrah, Irak, kedatangan ulama shaleh, Ibrahim bin Adham. Waktu itu, warga kota Basrah sedang menghadapi kemelut sosial yang tak kunjung reda. Melihat ulama besar kharismatik yang langka itu, mereka tidak menyia-nyiakannya untuk bertanya. "Wahai abu Ishak, Allah berfirman dalam Alqur'an agar kami berdo'a. Kami sudah bertahun-tahun berdo'a, tapi kenapa tidak di kabulkan?" tanya mereka.

     Ibrahim bin Adham menjawab, "wahai penduduk Basrah, hati kalian mati dalam beberapa perkara, bagaimana mungkin do'a kalian akan di kabulkan. Kalian mengakui kekuasaan Allah, tapi tidak memenuhi hah-hak-Nya. Membaca Alqur'an, tapi tidak mengamalkannya. Mengakui cinta keada Rasul, tapi meninggalkan sunahnya. Membaca taawudz, berlindung kepada Allah dari setan yang di sebut musuh, tetapi setiap hari memberi makan setan dan mengikuti langkahnya". Terakhir, ia mengatakan, "Wahai penduduk Basrah, ingatlah sabda Nabi. Berdo'alah kepada Allah, tetapi kalian harus yakin akan di kabulkan. Hanya saja kalian harus tau bahwa Allah tidak berkenan mengabulkan do'a dari hati yang lalai dan main-main".***

Penulis, editor lepas DAR!Mizan, serta alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung. Di edit dan di rilis ulang oleh: Iman Zenit mahasiswa Syari'ah (STAIMA Banjar) dan jadilah.com.

Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya..
Artikel "Renungan Tahun Baru 2012" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori KeIslaman. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2011/12/renungan-tahun-baru-2012.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Minggu, 25 Desember 2011, pukul 10.51. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Membangun Akhlaqul Karimah Remaja

Membangun Akhlaqul Karimah Remaja - Membimbing Akhlaqul Karimah Remaja - Akhlaqul karimah


Setelah pada postingan tadi saya paparkan Adab Bergaul Dengan Lawan Jenis, sekarang saya akan mencoba memaparkan "Membangun Akhlaqul Karimah Remaja". Awalnya saya mencari isi dari artikel ini hanya untuk pembelajaran/pengkajian pribadi, tapi saya pikir bahwa mungkin luar dari saya pribadi ada juga yang membutuhkannya. karena itu, simak saja langsung di bawah ini:

"Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh". (Al- A'raaf: 199). Ayat ini menurut Az-Zamaksyari dan Ibnu Asyur termasuk kategori "Ajma'u Ayatin fi Makarimil Akhlak", ayat yang paling komprehensif dan lengkap tentang bangunan akhlak yang mulia, karena bangunan sebuah akhlak yang terpuji tidak lepas dari tiga hal yang disebutkan oleh ayat diatas, yaitu; Pertama Mema'afkan atas tindakan dan prilaku yang tidak terpuji dari orang lain, senantiasa berusaha melakukan dan menyebarkan kebaikan, serta berpaling dari tindakan yang tidak patut. Imam Ar-Razi pula memahami ayat ini sebagai manhaj yang lurus dalam bermu'amalah dengan sesama manusia yang jelas menggambarkan sebuah nilai akhlak yang luhur sebagai cermin akan keluhuran ajaran Islam, terutama di tengah ketidak menentuan bangunan akhlak umat ini.

Secara tematis, mayoritas tema surah Al-A'raaf memang berbicara tentang prilaku dan perbuatan tidak bermoral dan jahil orang-orang musyrik, maka menurut Ibnu 'Asyur, sesungguhnya ayat ini merupakan solusi yang ditawarkan oleh Al-Qur'an atas perilaku umumnya orang-orang musyrik. Bahkan posisi ayat ini yang berada di akhir surah Al-A'raaf sangat tepat dijadikan sebagai penutup surah dalam pandangan Sayid Quthb dalam tafsir Fi Dzilalil Qur'an karena merupakan arahan dan taujih langsung Allah swt kepada Rasul- Nya Muhammad saw dan orang- orang yang beriman bersama beliau saat mereka berada di Makkah dalam menghadapi kebodohan dan kesesatan orang-orang jahiliyah di Makkah pada periode awal perkembangan Islam. Berdasarkan tematisasi ayat yang berbicara tentang akhlak mema'afkan, maka ayat yang mengandung perintah mema'afkan ternyata ditujukan khusus untuk Rasulullah SAW sebagai teladan dalam sifat ini. Dalam surah Al- Baqarah: 109 misalnya, Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw agar tetap menjunjung tinggi akhlak mema'afkan kepada setiap yang beliau temui dalam perjalanan dakwahnya.

Allah swt berfirman, "Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". Bahkan dalam surah Ali Imran: 159, Allah menggambarkan rahasia sukses dakwah Rasulullah saw yang dianugerahi nikmat yang teragung dari Allah swt yaitu nikmat senantiasa bersikap lemah lembut, lapang dada dan mema'afkan terhadap perilaku kasar orang lain , "Maka disebabkan rahmat dari Allah- lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya". Secara redaksional, perintah mema'afkan dalam ayat Makarimil Akhlak di atas bersifat umum dalam segala bentuknya. Ibnu 'Asyur menyimpulkan hal tersebut berdasarkan analisa bahasa pada kata "Al-Afwu" yang merupakan lafadz umum dalam bentuk "ta'riful jinsi" (keumuman dalam jenis dan bentuk mema'afkan).

Mema'afkan disini bisa diartikan sebagai sikap berlapang dada, tidak membalas prilaku buruk orang, bahkan mendoakan kebaikan untuk mereka. Namun tetap keumuman Al-Afwu disini tidak mutlak dalam setiap keadaan dan setiap waktu, seperti terhadap orang yang membunuh sesama muslim dengan sengaja tanpa alasan yang benar, atau terhadap orang yang melanggar aturan Allah swt secara terang- terangan berdasarkan nash Al- Qur'an dan hadits yang mengecualikan keumuman tersebut. Demi keutamaan dan keagungan kandungan ayat diatas, Rasulullah saw menjelaskannya sendiri dalam bentuk tafsir nabawi yang tersebut dalam musnad Imam Ahmad dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah saw pernah memberitahukan kepadanya tentang kemuliaan akhlak penghuni dunia. Rasulullah saw berpesan: "Hendaklah kamu menghubungkan tali silaturahim dengan orang yang justru berusaha memutuskannya, memberi kepada orang yang selalu berusaha menghalangi kebaikan itu datang kepadamu, serta bersedia mema'afkan terhadap orang yang mendzalimimu".

Penafsiran Rasulullah saw terhadap ayat diatas sangat jelas korelasinya. Seseorang yang menghubungkan silaturahim kepada orang yang memutuskannya berarti ia telah mema'afkan. Seseorang yang memberi kepada orang yang mengharamkan pemberian berarti ia telah datang kepadanya dengan sesuatu yang ma'ruf. Serta seseorang yang memaafkan kepada orang yang telah berbuat aniaya berarti ia telah berpaling dari orang- orang yang jahil. Bahkan secara aplikatif, perintah ayat ini mampu membendung emosi Umar bin Khattab saat mendengar kritikan pedas Uyainah bin Hishn atas kepemimpinan Umar. Uyainah berkata kepada Umar, "Wahai Ibnu Khattab, sesungguhnya engkau tidak pernah memberi kebaikan kepada kami dan tidak pernah memutuskan perkara kami dengan adil". Melihat reaksi kemarahan Umar yang hendak memukul Uyainah, Al-Hurr bin Qays yang mendampingi saudaranya Uyainah mengingatkan umar dengan ayat Makarimil Akhlak, "Ingatlah wahai Umar, Allah telah memerintahkan nabi-Nya agar mampu menahan amarah dan mema'afkan orang lain. Sungguh tindakan engkau termasuk prilaku orang-orang jahil". Kemudian Al-Hurr membacakan ayat ini.

Seketika Umar terdiam merenungkan ayat yang disampaikan oleh saudaranya. Dan semenjak peristiwa ini, Umar sangat mudah tersentuh dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang menegur tindakan atau prilakunya yang kurang terpuji. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas). Sungguh dalam keseharian kita, di sekeliling kita, tipologi orang-orang jahil, orang-orang yang mengabaikan aturan, norma dan nilai-nilai kebaikan Islam akan sering kita temui. Jika sikap yang kita tunjukkan kepada mereka juga mengabaikan aturan Allah swt, maka bisa jadi kita memang termasuk kelompok orang-orang jahil seperti mereka. Namun kita berharap, mudah-mudahan nilai spritualitas dan moralitas yang telah tertanam selama proses madrasah Ramadhan masih tetap membekas dan mewarnai sikap dan prilaku kehidupan kita, sehingga tampilan akhlak yang mulia senantiasa menyertai ucapan, sikap dan tindakan kita terhadap sesama, untuk kebaikan bersama umat.
Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya..
Artikel "Membangun Akhlaqul Karimah Remaja" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori KeIslaman. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2011/12/membangun-akhlaqul-karimah-remaja.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Kamis, 01 Desember 2011, pukul 05.06. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Adab Bergaul Dengan Lawan Jenis

Adab Bergaul Dengan Lawan Jenis - Adab-Adab Bergaul Dengan Lawan Jenis - Adab Bergaul Dengan Lawan Jenis Yang Bukan Mahram

"Wanita bukan tercipta dari kepala, yang selalu berada di atas dan mengatur-ngatur semaunya. Wanita juga bukan tercipta dari telapak kaki yang selalu ada di bawah dan di atur-atur atau di perlakukan tidak adil semaunya oleh lawan jenisnya. Tapi wanita tercipta dari "tulang rusuk", yang dekat dengan dekapan untuk selalu di bealai, dan dekat dengan hati untuk selalu di sayang". (Iman Zenit).

Dilahirkan sebagai seorang wanita adalah anugerah yang sangat indah dari Allah Ta’ala. Sebuah anugerah yang tidak dimiliki oleh seorang pria.Terlebih anugerah itu bertambah menjadi muslimah yang mukminah yaitu wanita muslimah yang beriman kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ِﻉﺎَﺘَﻣ ُﺮْﻴَﺧَﻭ ٌﻉﺎَﺘَﻣ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ُﺔَﺤِﻟﺎَّﺼﻟﺍ ُﺓَﺃْﺮَﻤْﺍ

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim).
Menjadi wanita muslimah yang beriman kepada Allah tentu tidak mudah,karena banyak sekali godaan-godan dalam mencapainya. Dikarenakan balasan yang Allah janjikan pun tidak terbandingkan dan semua wanita pun menginginkannya. Godaan-godaan untuk menjadi wanita shalihah sering kali datang dan menggebu-gebu saat kita menginjak usia remaja, di mana masa puberitas seorang wanita ada di masa ini. Bukan hal yang mudah pula bagi remaja muslim dalam melewati masa ini, namun sungguh sangat indah bagi para remaja yang bisa dikatakan lulus dalam melewati masa pubertas yang penuh godaan ini. Salah satu godaan yang amat besar pada usia remaja adalah “rasa ketertarikan terhadap lawan jenis”. Memang, rasa tertarik terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia, baik wanita atau lelaki. Namun kalau kita tidak bisa memenej perasaan tersebut, maka akan menjadi mala petaka yang amat besar, baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang yang kita sukai. Sudah Allah tunjukkan dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;
ُﺮَﻈَّﻨﻟﺍ ﺎَﻤُﻫﺎَﻧِﺯ ِﻥﺎَﻨْﻴَﻌْﻟﺎَﻓ ُﻉﺎَﻤِﺘْﺳِﻻﺍ ﺎَﻤُﻫﺎَﻧِﺯ ِﻥﺎَﻧُﺫُﻷﺍَﻭ ُﺪَﻴْﻟﺍَﻭ ُﻡَﻼَﻜْﻟﺍ ُﻩﺎَﻧِﺯ ُﻥﺎَﺴِّﻠﻟﺍَﻭ ﺎَﻫﺎَﻧِﺯ ُﻞْﺟِّﺮﻟﺍَﻭ ُﺶْﻄَﺒْﻟﺍ ﺎَﻫﺎَﻧِﺯ ﻰَّﻨَﻤَﺘَﻳَﻭ ﻯَﻮْﻬَﻳ ُﺐْﻠَﻘْﻟﺍَﻭ ﺎَﻄُﺨْﻟﺍ ُﻪُﺑِّﺬَﻜُﻳَﻭ ُﺝْﺮَﻔْﻟﺍ َﻚِﻟَﺫ ُﻕِّﺪَﺼُﻳَﻭ
”Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim).
Sebagai wanita muslimah kita harus yakin bahwa kehormatan kita harus dijaga dan dirawat, terlebih ketika berkomunikasi atau bergaul dengan lawan jenis agar tidak ada mudhorot (bahaya) atau bahkan fitnah. Di bawah ini akan kami ungkapkan adab-adab bergaul dengan lawan jenis. Di antaranya:

Pertama: Dilarang untuk berkholwat (berdua-duan).
TTM, teman tapi mesra, kemana- mana bareng, ke kantin bareng, berangkat sekolah bareng, pulang sekolah bareng. Hal ini merupakan gambaran remaja umumnya saat ini, di mana batas-batas pergaulan di sekolah umum sudah sangat tidak wajar dan melanggar prinsip Islam. Namun tidak mengapa kita sekolah di sekolah umum jika tetap bisa menjaga adb-adab bergaul dengan lawan jenis. Jika ada seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan maka yang ketiga sebagai pendampingnya adalah setan. Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;


َّﻥِﺈَﻓ ٍﺓَﺃَﺮْﻣﺎِﺑ ْﻢُﻛُﺪَﺣَﺃ َّﻥَﻮُﻠْﺨَﻳ َﻻ ﺎَﻤُﻬُﺜِﻟﺎَﺛ َﻥﺎَﻄْﻴَّﺸﻟﺍ
“Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barang siapa yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin." (HR. Ahmad, sanad hadits ini shahih).
Daripada setan yang menemani kita lebih baik malaikat bukan? Ngaji,membaca Al Quran dan memahami artinya serta menuntut ilmu agama Insya Allah malaikatlah yang akan mendampingi kita. Tentu sebagai wanita yang cerdas, kita akan lebih memilih untuk didampingi oleh malaikat.

Kedua: Menundukkan pandangan Pandangan laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya adalah termasuk panah-panah setan. Kalau cuma sekilas saja atau spontanitas atau tidak sengaja maka tidak menjadi masalah pandangan mata tersebut, pandangan pertama yang tidak sengaja diperbolehkan namun selanjutnya adalah haram. Ketika melihat lawan jenis,maka cepatlah kita tundukkan pandangan itu, sebelum iblis memasuki atau mempengaruhi pikiran dan hati kita. Segera mohon pertolongan kepada Allah agar kita tidak mengulangi pandangan itu. Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Dia berkata;


ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻝﻮُﺳَﺭ ُﺖْﻟَﺄَﺳ -ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ- ﻰِﻧَﺮَﻣَﺄَﻓ ِﺓَﺀﺎَﺠُﻔْﻟﺍ ِﺮَﻈَﻧ ْﻦَﻋ ﻯِﺮَﺼَﺑ َﻑِﺮْﺻَﺃ ْﻥَﺃ.
"Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku." (HR. Muslim).

Ketiga: Jaga aurat terhadap lawan jenis.
Jagalah aurat kita dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Maksudnya mahram di sini adalah laki-laki yang haram untuk menikahi kita. Yang tidak termasuk mahram seperti teman sekolah, teman bermain, teman pena bahkan teman dekat pun kalau dia bukan mahram kita, maka kita wajib menutup aurat kita dengan sempurna. Maksud sempurna di sini yaitu kita menggunakan jilbab yang menjulur ke seluruh tubuh kita dan menutupi dada. Kain yang dimaksud pun adalah kain yang di syariatkan, misal kainnya tidak boleh tipis, tidak boleh sempit, dan tidak membentuk lekuk tubuh kita. Adapun yang bukan termasuk aurat dari seorang wanita adalah kedua telapak tangan dan muka atau wajah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;


ِﺖَﺟَﺮَﺧ ﺍَﺫِﺈَﻓ ٌﺓَﺭْﻮَﻋ ُﺓَﺃْﺮَﻤْﻟﺍ ُﻥﺎَﻄْﻴَّﺸﻟﺍ ﺎَﻬَﻓَﺮْﺸَﺘْﺳﺍ
"Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki- laki." (HR. Tirmidzi, shahih).

Keempat: Tidak boleh ikhtilat (campur baur antara wanita dan pria).
Ikhtilat itu adalah campur baurnya seorang wanita dengan laki-laki di satu tempat tanpa ada hijab. Di mana ketika tidak ada hijab atau kain pembatas masing-masing wanita atau lelaki tersebut bisa melihat lawan jenis dengan sangat mudah dan sesuka hatinya. Tentu kita sebagai wanita muslimah tidak mau dijadikan obyek pandangan oleh banyak laki-laki bukan? Oleh karena itu kita harus menundukkan pandangan, demikian pun yang laki-laki mempunyai kewajiban yang sama untuk menundukkan pandangannya terhadap wanita yang bukan mahramnya, karena ini adalah perintah Allah dalam Al Qur’an dan akan menjadi berdosa bila kita tidak menta'atinya.

Kelima: Menjaga kemaluan.
Menjaga kemaluan juga bukan hal yang mudah, karena dewasa ini banyak sekali remaja yamng terjebak ke dalam pergaulan dan seks bebas. Sebagai muslim kita wajib tahu bagaimana caranya menjaga kemaluan. Caranya antara lain dengan tidak melihat gambar- gambar yang senonoh atau membangkitkan nafsu syahwat, tidak terlalu sering membaca atau menonton kisah-kisah percintaan, tidak terlalu sering berbicara atau berkomunikasi dengan lawan jenis, baik bicara langsung (tatap muka), ataupun melalui telepon, SMS, chatting, YM dan media komunikasi lainnya. Sudah selayaknya sebagai seorang muslim-muslimah baik remaja atau dewasa, kita mempunyai niat yang sungguh-sungguh untuk mematuhi adab-adab bergaul dengan lawan jenis tersebut. Semoga Allah memudahkan usaha kita. Amiin.

Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya..
Artikel "Adab Bergaul Dengan Lawan Jenis" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori KeIslaman. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2011/11/adab-bergaul-dengan-lawan-jenis.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Rabu, 30 November 2011, pukul 23.48. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Filsafat KeTuhanan

Filsafat KeTuhanan - Ilmu Filsapat - Filsapat Hukum Islam - Tasawuf - Makalah Tentang Filsafat KeTuhanan - Hukum Islam - Kaum Sufi - Filsapat Dan Tasawuf - Ilmu Tauhid

Berikut pemaparannya:

I. Pengantar
Kepercayaan adanya Tuhan adalah dasar utama dalam paham keagamaan. Ketika seseorang mulai menyadari eksistensi dirinya, maka timbullah tanda tanya dalam hatinya tentang berbagai hal. Dalam hatinya yang dalam memancar kecenderungan untuk tahu berbagai rahasia yang merupakan bentuk misteri yang terselubung. Dalam membicarakan persoalan kepercayaan kepada Tuhan ada perbedaan antara Tuhan dengan ide tentang Tuhan. Ada tiga hal utama,[1] yaitu ; pertama, manusia bisa mempergunakan simbol dalam segala bidang, dan simbol akan berubah seiring dengan perubahan dan perkembangan kecerdasan dan pengetahuan manusia. Manusia sudah menyembah Tuhan sebelum munculnya doktrin dan problem-problem filsafat mengenai Tuhan. Kedua, manusia menemukan kelompok-kelompok lain yang mempunyai ide tentang Tuhan yang berlainan dengan keyakinan yang ia miliki, timbullah pertanyaan, yang manakah ide yang benar tentang Tuhan. Dengan perkembangan pengetahuan, konsep-konsep lama tidak cukup dan memadai lagi untuk mempertahankan ide yang sama atau mengubahnya atau bahkan meninggalkannya. Ketiga, tidak ada pandangan individual tentang Tuhan yang dianggap final dan memadai. Pengetahuan berkembang dan tidak sempurna. Manusia merasa sukar untuk menjelaskan keyakinannya yang mendalam dengan cara yang memuaskan.

Fitrah manusia yang kemudian selalu bergejolak memikirkan, mencari dan merindukan Tuhan, mulai dari bentuk yang dangkal dan bersahaja berupa perasaan, serta ke tingkat yang lebih tinggi yaitu dengan penggunaan akal. Fitrah ini merupakan disposisi (kemampuan dasar yang mengandung kemungkinan untuk berkembang). Mengenai arah perkembangannya sangat tergantung kepada proses pendidikan yang diterimanya. Hal ini sebagaimana telah dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW. : "setiap anak dilahirkan di atas fitrahnya, maka pengaruh pendidikan orang tuanyalah (orang dewasa), anak itu menjadi yahudi, nasrani, atau majusi". Hadist ini mengisyaratkan, bahwa faktor lingkungan, dalam hal ini orang tua sebagai orang terdekat dimana ia berada dalam suatu lingkungan, sangat berperan sekali dalam mempengaruhi fitrah keagamaan anak. Dari teori fitrah[2] itu sendiri yang dirumuskan dalam al-Qur'an (al-Rum : 30) menyatakan bahwa manusia terlahir dengan ide bawaan yang disebut fitrah dengan tiga daya utama, yaitu akal (quwwat al-'aql), berfungsi untuk mengenal, mengesakan, dan mencintai Tuhan; syahwat (quwwat al-syahwat) berfungsi untuk menginduksi segala yang menyenangkan; dan ghadab (quwwatu al-ghadlab), berfungsi untuk mempertahankan diri.

II. Apa atau Siapa Tuhan
Manusia adalah homo relegiuosis yang artinya adalah bahwa manusia itu pasti beragama,[3] baik agama yang besar seperti Yahudi, Kristen dan Islam, maupun agama bagi masyarakat sederhana seperti masyarakat pedalaman, bagi mereka ada sesuatu yang disakralkan. manusia tidak akan lepas dari agama. Manusia sebagai makhluk yang satu-satunya dianugrahi akal oleh Tuhan juga mempunyai satu kelebihan yang sama sekali tidak dipunyai oleh makhluk yang lain, yaitu terbesitnya hati seseorang akan adanya sesuatu yang maha Agung. Seorang sarjana History of Religions, Joachim Wach (1898-1955), penulis The Comparative Study of Religions, menegaskan bahwa manusia itu dilahirkan dengan pembawaan beragama. Ia mengutip sarjana yang menyatakan bahwa dalam setiap diri manusia terdapat "a permanent possibility of religion" atau bahwa perasaan keagaman yang merupakan "a consant and universal feature" dalam kehidupan mentalitas manusia. Selain itu manusia juga dikenal dengan sebutan homo devinan artinya manusia itu pasti bertuhan.[4] Spictitus (60-140 M) berpendapat bahwa Tekad mempercayai Tuhan itu kekal dan terus menerus seperti bernafas. Tapi sebaliknya pendapat dari S. Bereen; Tidak ada yang berani (nekad) mengingkari Tuhan selain daripada manusia. Lalu apakah Tuhan tersebut? Aristoteles mengatakan Tuhan adalah neosis atau noeseoos, yaitu akal yang tertinggi. Dalam filsafat Neoplatonisme, Tuhan berarti keesaan mutlak. Decrates memaknakan Tuhan sebagai puncak dari rasionalisme. Hegel mengartikan Tuhan dengan roh mutlak yang insaf akan diri sendiri.

Edgar S. Brightman[5], mencoba mendevinisikan Tuhan dengan sesuatu yang tertinggi yang mengalami alam semesta, yang menguasai proses alam semesta, untuk mencapai tujuan yang mengandung nilai paling tinggi. Dijelaskan, Tuhan sebagai Yang-Mengalami, yakni suatu kumpulan kesadaran yang dirasakan sebagai suatu keseluruhan. Yang-Mempunyai "identitas diri" dan meliputi "isi, bentuk dan kegiatan". Brightman berusaha menunjukkan hipotesanya tentang adanya Tuhan, karena adanya kebenaran serta akal dan sistem (yang tidak dapat dijelaskan atas dasar naturalisme). Dalam arti tertentu kebenaran adalah Tuhan, karena masing-masing merupakan sistem atau kesatuan.

Tuhan adalah sesuatu yang diagungkan, yang dilebihkan dari yang lain, tempat manusia mengadu dalam segala persoalan hidupnya. Dari batasan ini seolah-olah tidak ada satu pun manusia yang tidak ber-tuhan, hanya masalahnya siapakah yang dijadikan Tuhan oleh manusia. Umat Islam mutlak yang superada dan yang dipertuhan itu adalah Allah Subhahahu Wa Ta'ala, yang dijelaskan dalam al-Qur'an surat at-Taghabun : 14 ;[6] bahwa panggilan untuk yang superada itu adalah Allah; sebab Allah sendiri memperkenalkan dirinya dengan sebutan Allah. Harun Nasution[7] dalam filsafat al-Kindi, bahwa Tuhan itu unik, tidak mengandung arti juz'i (particular) dan pula tidak mengandung arti kulli (universal). Ia semata-mata satu hanya Ia-lah yang satu, selain-Nya mengandung arti banyak.

Secara filsafat, prestasi dalam pencarian Tuhan biasanya berujung pada penemuan eksistensi Tuhan saja, dan tidak sampai pada substansi tentang Tuhan. Dalam istilah filsafat eksistensi Tuhan itu dikenal sebagai absolut, distinct dan unik. Absolut itu artinya keberadaanya mutlak bukannya relatif. Hal ini dapat dipahami, bahwa pernyataan semua kebenaran itu relatif itu tidak benar. Kalau semua itu relatif, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa sesuatu itu relatif. Padahal yang relatif itu menjadi satu-satunya eksistensi realitas. Ibarat warna yang ada di seluruh jagat ini hanya putih, bagaimana kita bisa tahu putih padahal tidak ada pembanding selain putih. Dengan demikian tidak bisa disangkal adanya kebenaran itu relatif, dan secara konsisten tidak bisa disangkal pula adanya kebenaran mutlak itu. Dengan kemutlakannya, ia tidak akan ada yang menyamai atau diperbandingkan dengan yang lain (distinct). Kalau tuhan dapat diperbandingkan tentu tidak mutlak lagi atau menjadi relatif. Karena tidak dapat diperbandingkan maka tuhan bersifat unik, dan hanya ada dia satu-satunya. Kalau ada yang lain, berarti dia tidak lagi distinct dan tidak lagi mutlak.

Dalam gagasan Nietzsche [8]istilah Tuhan juga merujuk pada segala sesuatu yang dianggap mutlak kebenarannya. Sedang Nietzsche berpendapat tiada "Kebenaran Mutlak"; yang ada hanyalah "Kesalahan yang tak-terbantahkan". Karenanya, dia berkata, "Tuhan telah mati". "Kesalahan yang tak-terbantahkan" dengan "Kebenaran yang-tak terbantahkan" tidaklah memiliki perbedaan yang signifikan. Sekiranya pemikiran Nietszhe ini dimanfaatkan untuk melanjutkan proses pencairan Tuhan, maka Tuhan itu suatu eksistensi yang tak terbantahkan. Dengan demikian eksistensi absolut, mutlak dan tak terbantahkan itu sama saja. Jadi, persoalan umat manusia dalam proses pencairan Tuhan tiada lain proses penentuan peletakan dirinya kepada (segala) sesuatu yang diterimanya sebagai 'tak terbantahkan', atau mutlak, atau absolut. Muhammad 'Imaduddin 'Abdulrahim mendefiniskan Tuhan sebagai segala sesuatu yang dianggap penting dan dipentingkan sehingga dirinya rela didominirnya.
Kemudian, menjauhkan Tuhan dari arti banyak, Al Farabi sebagai Plotinus, berpendapat bahwa alam ini memancar dari Tuhan dengan melalui akal-akal yang jumlahnya sepuluh. Antara alam materi dan Tuhan terdapat pengantara. Tuhan berfikir tentang diri-Nya dan dari pemikiran ini memancarlah Akal Pertama. Akal Pertama berfikir tentang Tuhan dan dari pemikiran ini timbullah Akal Pertama. Akal ini berfikir tentang Tuhan dan timbullah Akal Ketiga dan demikian seterusnya sehingga terwujud Akal Kesepuluh.

Akal Pertama selanjutnya berfikir tentang dirinya dan dari pemikiran kedua ini timbullah langit pertama. Akal-akal lainnya juga berfikir tentang dirinya masing-masing dan dari pemikiran-pemikiran itu timbullah bintang-bintang, Saturnus, Jupiter, Mars, Matahari, Venus, Mercury, Bulan dan Bumi serta semua yang ada dalamnya. Dengan demikian Tuhan Yang Maha Esa tidak mempunyai hubungan langsung, malahan jauh dari alam materi yang mengandung arti banyak ini. Demikian penjelasan Al Farabi bagaimana yang banyak bisa timbul dari Yang Maha Esa.[9]
Begitupun menurut Al-Razi seorang rasionalis yang hanya percaya pada akal dan tidak percaya pada wahyu. Menurut keyakinannya akal manusia cukup kuat untuk mengetahui adanya Tuhan, apa yang baik dan apa yang buruk, dan untuk mengatur hidup manusia di dunia ini.[10]

Tuhan sebagaimana juga yang diperkenalkan dalam ajaran-ajaran lain sesuai dengan petunjuk dari tuhan itu sendiri ataupun berdasarkan persepsi atau gambaran tentang kondisi sifat-sifat sesuatu yang dipertuhankan yang dapat dihayati oleh pemimpin-pemimpin agamanya.[11] Seperti sebutan Sang Hyang Adhi Budha yang diperkenalkan oleh Sidharta Gautama, Sang Hyang Widi diperkenalkan oleh agama Hindu, Trinitas bagi pengikut agama Kristen, atau orang-orang Yunani Kuno menganggap Tuhan itu adalah Aktus Purus. Perbedaan Tuhan dengan dewa hanya sekedar perbedaan terjemah bahasa, meski masing-masing punya latar belakang perkembangan makna terkait dengan apresiasi masing-masing atas konsepsi Ketuhanannya. Namun secara universal keduanya menunjuk pada eksistensi yang sama, yaitu soal 'Yang Tak Terbantahkan'.
Karena dalam agama teistik manapun, konsep Tuhan merupakan inti dari keimanan, ajaran, dan praktik. Konsep Tuhan menetapkan apa yang diakui oleh penganutnya sebagai halal atau sebaliknya. Ia membentuk sikap para penganutnya terhadap orang lain sebagai "golongan tak beriman" (unbelievers).[12] Ia mengilhami daya persepsi yang merumuskan bagaimana mereka mengkonsepsikan peranan mereka dalam mengatur kehidupan. Sebagai pembuktian bahwa adanya Tuhan menurut jalan fikiran atau filsafat ketuhanan dan kemahaesaan-Nya tentang kemestian adanya Tuhan menurut Juhaya S. Praja[13] diperkenalkan sebagai dalil klasik dengan argumen-argumen sebagai berikut;

1. Argumen Ontologis
Ontologi adalah teori tentang hakikat wujud, tentang hakikat yang ada. Argumen ontologis tentang hakikat wujud ini semata-mata berdasarkan atas argumen-argumen logika yang logis dan rasional. Argumen ini diperkenalkan pertama kali oleh Plato (428-348 SM), bahwa tiap-tiap yang ada di alam nyata mesti ada ideanya. Yang dimaksud dengan idea adalah definisi atau konsep universal dari setiap sesuatu. Yang ingin membuktikan dari ideanya, Plato ini, bahwa alam bersumber pada suatu kekuatan gaib yang bernama the Absolute, atau yang maha mutlak baik atau Tuhan.
ST Agustine (354-430 M), bahwa manusia mengetahui dari pengalamannya dalam hidup bahwa dalam alam ini ada kebenaran. Namun akal manusia terkadang merasa ragu-ragu bahwa yang diketahuinya itu adalah kebenaran. Maksudnya adalah akal manusia mengetahui bahwa di atasnya masih ada suatu kebenaran mutlak dan kekal, kebenaran ini yang disebut Tuhan.

ST. Anselmus (1033-1109), bahwa manusia dapat memikirkan sesuatu yang kebesarannya tak dapat melebihi dan diatasi oleh segala yang ada. Zat yang serupa ini mesti mempunyai wujud dalam hakekat. Sesuatu yang maha besar, maha sempurna itu mesti mempunyai wujud, maka Tuhan mempunyai wujud, oleh karena itu Tuhan ada.
Rene Descarrtes memasuki kemestian adanya Tuhan melalui ilmu pasti. Bahwa wujud itu terkandung dalam zat Maha Sempurna dan Maha Besar, yang tidak boleh tidak mesti ada dalam zat terbesar dan tersempurna yang dibayangkan itu. Itulah Tuhan.
Ibn Sina[14] salah seorang filosof muslim juga mengembangkan argumen ontologi. Yang menurutnya ada tiga macam sesuatu yang ada, yaitu :

1. Penting dalam dirinya sendiri, tidak perlu kepada sebab lain untuk
kejadiannya, selain dirinya sendiri (Tuhan).

2. Yang berkehendak kepada yang lain, yaitu makhluk kepada yang menjadikannya.

3. Makhluk mungkin, yaitu bisa ada dan bisa tidak ada, dan dia sendiri tidak
butuh kepada kejadiannya.

Inti dari argumen ini adalah bahwa manusia ini memiliki konsep tentang sesuatu yang sempurna. Dan bila ia berfikir tentang sesuatu yang sempurna, niscaya terpikirkan olehnya tentang adanya sesuatu yang lain yang lebih sempurna itu mengantarkan pada adanya "Dzat Yang Maha Sempurna" yang tiada kesempurnaan lain selain Dia.
Argumen ini juga mendapat tantangan, bahwa wujud yang ada di dunia yang alam nyata ini belum tentu sama dengan bayangan aslinya. Sebab alam aslinya itu alam ghaib di atas jangkauan indera manusia. Immanuel Kant pun ikut mengkritik argumen ontologi ini dengan alasan wujud kepada konsep tentang sesuatu tidak membawa hal yang baru bagi konsep itu. Dengan kata lain konsep tentang kursi bayangan dan konsep kursi yang mempunyai wujud tidak ada perbedaannya.[15] Oleh karenanya argumen ini tidak meyakinkan atheis atau agnostic untuk percaya pada adanya Tuhan.

2. Argumen Kosmologis
Argumen kosmologi untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Aristoteles, murid Plato. Cosmological argument atau dalil tentang penciptaan adalah merupakan pembuktian paling tua dan sederhana tentang pembuktian adanya Tuhan.[16] Bahwa tiap benda yang dapat ditangkap panca indera mempunyai materi dan bentuk (matter and form). Bentuk merupakan hakikat atau konsep universal atau definisi sesuatu, maka ia adalah kekal dan tidak berubah-ubah. Akan tetapi dalam panca indera terdapat perubahan.[17]
Al-Kindi berpendapat bahwa alam ini diciptakan dan yang menciptakannya adalah Allah. Segala yang terjadi dalam alam ini mempunyai hubungan sebab dan musabab/ Sebab mempunyai efek pada musabab. Rentetan sebab musabab ini berakhir kepada sebab pertama yaitu Allah pencipta alam.[18]

Sedang Al-Farabi berargumen bahwa alam ini bersifat mumkin wujudnya dan oleh karena itu berhajat pada suatu zat yang bersifat wajib wujudnya untuk merubah kemungkinan wujudnya kepada yang hakiki, yaitu sebagai sebab bagi terciptanya wujud yang mungkin itu. Tuhan itu ada dalam arti wajib al-wujud atau necessary being, Tuhan itu mesti ada, berarti bahwa wujud Tuhan itu tak berhajat pada bukti, sebagaimana bundaran tak berhajat pada bukti. Ini adalah suatu hal yang jelas dengan sendirinya, tak memerlukan bukti.[19]

Inti dari argumen ini adalah bahwa segala sesuatu yang ada pasti ada yang menciptakan, sebab seluruh perwujudan yang ada di alam ini, selamanya bergantung pada adanya perwujudan yang lain. Tidak mungkin ada di alam ini sesuatu yang wujud tanpa adanya yang memunculkan. Keteraturan alam ini pasti ada yang mengatur dan pasti ada yang menjadikan sebabnya. Sebab utama disebut dengan prima causa atau asbabul asbab[20]. Sedangkan rangkaian peristiwa atau gerakan itu, akan mengantarkan pula kepada adanya penggerak utama atau prima causa tersebut.
Kalau rangkaian sebab akibat atau gerakan itu terus diperturutkan niscaya terjadi "daur" (lingkaran gerak yang tak berujung atau berawal) atau tastaltsul (rangkaian gerak yang tidak berawal atau berakhir). Menurut akal yang sehat bahwa teori daur atau tastaltsul ini tidak mungkin. Bila tidak bisa diterima akal, maka harus dikatakan bahwa prima causa (penyebab utama) itu merupakan penggerak yang tidak digerakkan atau penyebab yang tidak diawali oleh penyebab lain. Prima causa atau penggerak yang tidak digerakkan oleh yang lain itu tiada lain adalah Allah.
Walau dalil ini dikritik juga oleh Immanuel Kant,[21] kalau wujud alam ini tidak wajib, apa sebabnya Dzat yang wajibul wujud ini menciptakan alam. Iqbal mengkritik, mestikah wajibul wujud itu suatu zat yang disebut Tuhan? Tidakkah bisa kosmos ini bersifat wajibul wujud itu? Keadaan argumen kosmologis bersifat kurang kuat didasarkan atas hakekat bahwa Aristoteles tak pernah bertanya : Adakah Tuhan? Logikanya mengenai bentuk dan materi membawa ia kepada bentuk yang tak mempunyai materi, sebagai akhir rentetan dari gerak dan penggerak yang timbul dari hubungan bentuk dan materi. Bentuk ini bukanlah Tuhan Pencipta Alam, tetapi penggerak pertama dari segala gerak.

3. Argumen Teleologis
Bahwa argumen ini merupakan penerapan dari argumen kosmologis dalam bentuknya yang lain. Segala perwujudan ini tersusun dalam sistim yang teratur, dan setiap benda yang di alam semesta ini memiliki tujuan-tujuan (theo;tujuan, teologis;ada tujuannya) tertentu. Ala mini keseluruhannya berevolusi dan beredar kepada suatu tujuan tertentu. Keteraturan alam tidak bisa tidak harus ada yang mengatur. Sumber keteraturan itu adalah Allah.[22]
Dalam teologi, segala sesuatu dipandang sebagai organisme yang tersusun dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan erat dan bekerja sama untuk kepentingan organisme tersebut. Dunia dalam pandangan teologis tersusun dari bagian-bagian yang erat hubungannya satu sama lainnya dan bekerjasama untuk tujuan tertentu. Tujuan ini ialah kebaikan dunia dalam keseluruhannya.[23] Lontaran kritik dalam argumen ini bahwa alam tidak mempunyai tujuan, alasannya :

a. Permukaan bumi ada yang tandus, subur, apa perlunya.
b. Dalam diri manusia ada usus buntu, yang tidak ada perlunya bahkan berbahaya.
c. Anak-anak banyak yang meninggal pada usia relative muda, apa perlunya.
d. Bangsa-bangsa yang musnah dari permukaan bumi ini itupun apa perlunya.
e. Apa perlunya kejahatan dan pengrusakan yang ada di ala mini, padahal jelas ada larangan yang datang dari Allah untuk berbuat jahat dan merusak bumi.[24]

4. Argumen Moral
Immanuel Kant[25] mempelopori argumen Moral menyatakan bahwa perbuatan baik jadi baik tidak karena akibat-akibat baik yang akan ditimbulkan dari perbuatan itu dan tidak pula agama mengajarkan bahwa perbuatan itu baik. Perbuatan baik itu karena manusia tahu dari perasaan yang tertanam dalam jiwanya bahwa ia diperintahkan untuk berbuat baik. Perasaan manusia berkewajiban untuk melaksanakan perbuatan yang baik dan untuk menjauhi perbuatan buruk, tidak diperoleh dari pengalaman dunia, tetapi dibawa dari lahir.[26] Manusia lahir dengan perasaan itu. Kalau manusia merasa bahwa dalam dirinya ada perintah mutlak untuk mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk, dan kalau perintah itu diperoleh bukan dari pengalaman tetapi telah terdapat dalam diri manusia, maka perintah itu mesti berasal dari suatu dzat yang tahu baik dan buruk. Dzat inilah yang disebut Tuhan. Walaupun argument ini mendapat kritik pula, yang berpangkal dari pengakuan yang ada perasaan moral yang tertanam dalam jiwa manusia yang berasal dari luar diri manusia, tidak dapat diterima, karena norma-norma moral tersebut bisa tidak objektif.

5. Argumen Epistemologis
Ibn Taimiyah menyodorkan argumen epistemologis yang bertujuan untuk membuktikan adanya Tuhan secara meyakinkan melalui teori-teori pengetahuan atau ilmu. Ilmu itu mempunyai dua sifat, ta'bi, yang dapat diterjemahkan obyektif; dan matbu' yang dapat diterjemahkan subyektif. Suatu ilmu yang keberadaan obyeknya tidak bergantung kepada ada dan tidak adanya pengetahuan si subyek (manusia) tentang obyek tersebut. Sedangkan yang bersifat subyektif ialah pengetahuan manusia sebagai subyek tentang obyek ilmu itu. Atau suatu ilmu itu dinyatakan ada kalau si subyek atau manusia mengetahui keberadaannya[27]. Kemudian dalam Islam, (yang penulis menitik beratkan tentang Tuhan dalam agama Islam), manusia dengan Tuhannya digambarkan oleh Imaduddin[28], bahwa semua dari kita yakin bahwa matahari itu adalah sumber energi, hanya sejauh mana manusia tadi memanfaatkan panas dari matahari tersebut. Ada yang sangat maksimal dan ada yang hanya untuk keperluan pribadinya saja. Seperti petani yang hanya untuk keperluan tanah garapannya saja, nelayan yang sebatas untuk menangkap ikan saja, berbeda dengan teknokrat yang memanfaatkan panas matahari tersebut untuk segala macam kehidupan manusia. Hal ini tidak jauh dengan pandangan sebagian manusia yang memandang Tuhan untuk hanya sebagian keperluannya saja, di waktu susah saja atau di waktu senang saja, berbeda dengan ulama yang memandang tuhan itu adalah tempat mengadu di waktu senang dan susah.

III. Mengenal Tuhan
"Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia telah bertuhan".[29] Artinya, ia menjadi seorang alim yang sangat mengenal Tuhannya yang fana dari dirinya dan dalam penyaksian keindahan dan keluhuran Yang Mahaawal, sebagaimana dikatakan Aristoteles; "Barangsiapa tidak mampu mengenal dirinya, maka ia tidak akan mampu mengenal Penciptanya". Mengenal diri, baik esensi maupun sifatnya merupakan awal menuju pengenalan tentang Tuhan. Mengenal diri adalah pegangan yang kuat dan sandaran yang kukuh dalam mendekatkan diri kepada Allah. Manusia, dengan pengetahuannya tentang hal-hal universal (kulliyyah), tidak mampu mengenali jenis-jenis dan macam-macamnya, terutama kaitannya dengan hal-hal yang bersifat relatif, dan tak mampu memperolehnya. Untuk mengenal Tuhannya Islam menurut Haidar Bagir di dalam pengantarnya tarjemah Allah, the concept of God in Islam karya Yasin T. Al-Jibouri, Mengenal Tuhan itu maka harus mengenal ciptaan-Nya. Pencipta dikenal dengan ciptaannya. Karena Tuhan Maha Pencipta, maka untuk mengenal Tuhan, maka harus mengenal ciptaan-Nya.[30]. Ulama besar dan pilosof muslim kontemporer Abdulkarim Al-khatib dalam bukunya Qadiyat al-Uluihiyah bain al Falsafah wad Din,[31] mengilustrasikan Tuhan sebagai berikut :

Yang melihat/mengenal Tuhan, pada hakekatnya hanya melihat-Nya melalui wujud yang terhampar di bumi serta yang terbentang di langit. Yang demikian itu adalah penglihatan tidak langsung serta memerlukan pandangan hati yang tajam, akal yang cerdas lagi kalbu yang bersih. Mampukah Anda dengan membaca kumpulan syair seorang penyair, atau mendengar gubahan seorang composer,…dengan melihat lukisan pelukis atau pahatan pemahat, -mampukah Anda melihat hasil karya seni mereka, mengenal mereka tanpa melihat mereka langsung? Memang Anda bisa mengenal selayang pandang tentang mereka, bahkan boleh jadi melalui imajinasi, Anda dapat membayangkannya sesuai kemampuan Anda membaca karya seni, namun Anda sendiri pada akhirnya akan sadar bahwa gambaran yang dilukiskan oleh imajinasi Anda menyangkut para seniman itu, adalah bersifat pribadi dan merupakan ekspresi dari perasaan Anda sendiri. Demikian juga yang dialami orang lain yang berhubungan dengan para seniman itu, masing-masing memiliki pandangan pribadi yang berbeda dengan yang lain. Kalau pun ada yang sama, maka persamaan itu dalam bentuk gambaran umum menyangkut kekaguman dalam berbagai tingkat. Kalau demikian itu adanya dalam memandang seniman melalui karya-karya mereka, maka bagaimana dengan Tuhan, sedang Anda adalah setetes dari ciptaan-Nya?

Ketika Abu Bakar ditanya oleh Rasulullah "Bagaimana Engkau mengenal Tuhanmu?" Beliau menjawab "Aku mengenal Tuhan melalui Tuhanku. Seandainya Dia tak ada, Aku tak mengenal-Nya". Selanjutnya ketika beliau ditanya, "Bagaimana Anda mengenal-Nya?" Beliau menjawab, "Al 'ajizu 'anil Idraaki Idraaku (Ketidakmampuan mengenal-Nya adalah pengenalan)". Tuhan yang diperkenalkan oleh al-Qur'an tentu saja diperkenalkan-Nya dengan cara mengenal ciptaan-Nya dimaksudkan agar manusia dapat mengenal dan berinteraksi dengan-Nya, dapat kagum, takut, cinta serta memenuhi panggilan-Nya. Hanya saja Allah tidak diperkenalkan sebagai sesuatu yang bersifat materi, karena jika demikian pastilah ia berbentuk pasti terbatas dan membutuhkan tempat, dan ini menjadikan Dia bukan Tuhan karena Tuhan tidak membutuhkan sesuatu dan tidak pula terbatas. Tuhan tidak juga diperkenalkan sebagai sesuatu yang bersifat idea atau immaterial, yang tidak dapat diberi sifat atau digambarkan dalam kenyataan, atau dalam keadaan yang dapat dijangkau akal manusia.
Karena itu al-Qur'an menempuh cara pertengahan dalam mengenalkan Tuhan.

Dia, menurut al-Qur'an, antara lain; Maha Mendengar, Maha Melihat, Hidup, Berkehendak, Menghidupkan dan mematikan, dan Arrahman (Allah) bersemayam diatas Arasy "Tangan Allah di atas tangan mereka (manusia), bahkan Nabi saw menjelaskan bahwa Dia bergembira, berlari dan sebagainya yang kesemuanya mengantarkan manusia kepada pengenalan yang dapat terjangkau oleh akal, atau oleh potensi-potensi manusia. Tatkala Ali bin Abi Thalib[32] pernah ditanya oleh sahabatnya Zi'lib AlYam'ani, "Amirul Mukminin, Apakah Engkau pernah melihat Tuhanmu? Apakah aku menyembah apa yang tidak kulihat?" jawab beliau, "Bagaimana Engkau melihat-Nya?", "Dia tidak dapat diihat dengan pandangan mata, tetapi dijangkau oleh akal dengan hakekat keimanan". Yang dimaksud akal disana adalah bukan- sebagaimana pemahaman kita tentang makna akal yang merupakan daya nalar, tetapi akal dalam pengertian "gabungan antara daya kalbu dan daya nalar yang menghasilkan "ikatan" yang menghalangi manusia melakukan hal-hal negatif". Yang menunjukkan bahwa jangkauan itu bukan jangkauan nalar secara langsung, tetapi jangkauan nalar dan kalbu berdasar keimanan tentang sesuatu yang tidak dapat terjangkau. Mengenal Allah merupakan pilar utama dalam ajaran Islam. Tanpa pengetahuan tersebut, setiap perbuatan dalam Islam tidak punya nilai hakiki sama sekali: ia tidak punya esensi atau nilai. Mengenal-Nya secara krusial bersyarat : jika kita tidak mengenal jalan yang benar, kita tidak akan pernah bisa mencapai tujuan kita. Karena tanpa mengenal Allah dengan tepat, bagaimana kita bisa beribadah dengan tepat pula?

Dalam sebuah hadits, "Allah menciptakan Adam dalam bentuk (gambar)-Nya".[33] Karena Allah adalah nama yang meliputi segala, Tuhan pun menciptakan manusia dalam bentuk nama-nama-Nya. Apa yang menjadikan seorang manusia memiliki karakteristik tersendiri dan terbuka bagi berbagai kemungkinan. Namun, setiap manusia merupakan pantulan Tuhan yang "unik", karena dia senantiasa berada dalam penciptaan. Dan, sebagian dari mereka merupakan locus pengejawantahan yang memiliki keutamaan tersendiri dibanding dengan yang lain. Sebab, mereka mampu mengejawantahkan realitas-realitas ketuhanan ke dalam aktualisasi yang lebih nyata. Namun dalam mengejawantahkan tersebut, masing-masing memiliki tingkatan yang berbeda. Dalam masing-masing sifat, manusia dibedakan dalam hal tingkatan, sebagian memiliki sifat kesempurnaan dan intensitas yang lebih besar dari yang lain. Al-Qur'an menyatakan " dan di atas orang-orang yang berpengetahuan adalah Yang Maha Mengetahui" Q.S.12:76.

Hakikat Tuhan itu sendiri menyatakan pada manusia supaya mereka mengejawantahkan Bentuk Tuhan. Dengan kata lain, manusia perlu mengikuti petunjuk Syari'at, yang menyatakan padanya suatu ukuran yang sesuai dengan timbangan", yakni mengejawantahkan sifat-sifat ke dalam suatu keseimbangan yang sempurna dengan didasarkan pada norma-norma yang telah ditetapkan dalam al-Qur'an dan telah diaktualisasikan oleh manusia yang paling sempurna, Nabi Muhammad saw. Untuk mengaktualisasikan kepenuhan potensialitasnya, merefleksikan nama-nama Tuhan dalam suatu keseimbangan yang sempurna dan selaras, manusia harus mengamalkan Syari'at.
Bentuk Tuhan yang dengannya manusia diciptakan, menjadikan manusia dibedakan dari seluruh makhluk lainnya, dan memberkatinya dengan ciri-ciri serta keutamaan-keutamaan khusus. Bentuk Tuhan, kata Ibn Araby[34], lebih tepat jika diterjemahkan "bentuk dari nama Tuhan", karena ia adalah (nama yang menunjuk pada) Esensi, nama yang meliputi segala nama, yang langsung berhubungan dengan penciptaan manusia.

Manusia yang mampu mencapai kesempurnaan hanyalah dia yang memiliki ilmu Tuhan yang sempurna serta mampu memadukan pernyataan akan keesaan Tuhan dengan "kesetaraan-"Nya. Para pendukung Kalam atau teologi dogmatis (Mu'tazilah dan Asy'ariyah) biasanya menggunakan istilah "sifat" sebagai pengganti "nama", namun keduanya menunjukkan pada makna yang sama. Nama-nama ini meringkaskan apa yang dapat dipahami tentang Tuhan. Bahkan para filosof Peripatetik yang cenderung "menjauhkan diri" dari ajaran al-Qur'an dalam pembahasan filosofisnya, seringkali berbicara tentang Tuhan melalui term-term Qur'ani. Nama-nama Tuhan tidak menunjukkan secara utuh pada nama-nama itu sendiri, tapi nama-nama dari nama-nama (Asma'ul Husna) yang telah diwahyukan oleh Tuhan kepada hamba-hamba-Nya melalui al-Qur'an dan berbagai bentuk pe-wahyu-an yang lain.[35]

Lebih lanjut Quraisy Shihab[36] menjelaskan, bahwa kalau sifat-sifat baik dan terpuji yang disandang manusia/makhluk, seperti hidup, kuasa, pengetahuan, pendengaran, penglihatan, dan sebagainya, maka pastilah Yang Maha Kuasa pun memiliki sifat-sifat baik dan terpuji dalam kapasitas dan substansi yang lebih sempurna, karena jika tidak demikian, apa arti kebutuhan manusia kepada-Nya? Suatu hal yang pasti pula juga bahwa Dia tidak mungkin menyandang sifat kekurangan, karena manusia tidak dapat membayangkan Tuhan yang didambakan memenuhi kebutuhannya itu, lemah atau memiliki kekurangan. Dia pasti sempurna dan tidak terbatas kecuali ada yang membatasinya, dengan memaksanya berhenti pada batas yang ditetapkan. Karena itu Tuhan tidak terbatas, bahkan Dialah yang memberi batas bagi segala sesuatu.

Dari al-Qur'an terdapat empat ayat yang menggunakan redaksi Asma'ul Husna yaitu :
♦ Q.S. Al-A'raf ayat 180
"Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan".
♦ Q.S. Al-Isra ayat 110
"Katakanlah : serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan namayang nama saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu:.
♦ Q.S. Thaha ayat 110
"Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaul husna (nama-nama yang terbaik)".
♦ Q.S. Al-Hashr ayat 24

"Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".
Kata al-asma adalah bentuk jamak dari kata al-Ism yang diterjemahkan dengan "nama". Ia berakar dari kata aasumu yang berarti ketinggian, atau assimah yang berarti tanda. Memang nama merupakan tanda bagi sesuatu, sekaligus harus dijungjung tinggi. Allah memiliki apa yang dinamakan-Nya sendiri dengan Al-Asma' dan bahwa Al-Asma' itu bersifat Husna. Kata Alhusna adalah bentuk muannats/feminism dari kata Ahsan yang berarti terbaik. Penyifatan nama-nama Allah dengan kata yang berbentuk superlative ini, menunjukkan bahwa nama-nama tersebut bukan saja baik, tetapi juga yang terbaik bila dibandingkan dengan yang baik lainnya, apakah yang baik selain-Nya itu wajar disandang-Nya atau tidak. Husna menunjukkan bahwa nama-nama-Nya adalah nama-nama yang amat sempurna, tidak sedikitpun tercemar oleh kekurangan. Walaupun nama/sifat yang disandang-Nya itu terambil dari bahasa manusia, namun kata yang digunakan saat disandang manusia, pasti selalu mengandung makna kebutuhan serta kekurangan tersebut dan ada pula yang dapat dipisahkan.
Yang sangat popular bahwa jumlah Al-Asma' Alhusna adalah sembilan puluh sembilan.[37] "Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama-seratus kurang satu- siapa yang 'ashhaha' (mengetahui/menghitung/memeliharanya) maka dia masuk ke surga. Allah ganjil (Esa) senang pada yang ganjil" (H.R. Bukhari, Muslim, At-Tirmizy, Ibn Majah, Ahmad, dan lain-lain).

Sebagian nama-nama tersebut dapat dijumpai dalam al-Qur'an maupun hadits Nabi saw. Masing-masing nama menyatakan sifat Tuhan, Yang Maha Wujud. Pengaruh (atsar) atau "kekuatan" (hokum) dari masing-masing nama tersebut dapat "dirasakan" dalam setiap eksistensi jika kita diberi "ilham" dan "kearifan" untuk melakukan hal itu.
Nama Allah sendiri menunjuk pada Esensi, sifat-sifat serta perbuatan-perbuatn Tuhan. Esensi adalah Tuhan di dalam Dirinya Sendiri tanpa menunjuk pada yang selain-Nya. Dalam konteks ini, Tuhan tak terpahami kecuali oleh Dirinya Sendiri. Dia sebagaimana seringkali dinyatakan oleh Ibnu Araby,[38] "Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari alam semesta" Q.S. 3:97, dan hal ini termasuk di dalamnya segala pengetahuan yang ada di dunia. Tuhan sebagai Esensi dikontraskan dengan Tuhan sebagai Dia yang senantiasa berhubungan dengan kosmos, yang terejawantahkan melalui nama-nama-Nya, seperti Yang Maha Pencipta, Yang Maha Menjadikan, Yang Maha Adil, Yang Maha Memuliakan, Yang Maha Menghidupkan, Yang Maha Pengampun, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Membalas, Yang Maha Mema'afkan, Yang Maha Bersabar, dan yang lainnya. Karena Esensi Tuhan sepenuhnya terlepas dari dunia. Kosmos adalah Bukan Dia. Tetapi, sekalipun Tuhan sepenuhnya bebas dalam berhubungan dengan dunia, melalui sifat-sifat-Nya, seperti kreatifitas dan kemurahan, kosmos mengejawantahkan eksistensi-Nya. Manusia dalam mencari Tuhan dengan bekal kemampuan penggunaan akalnya dapat mencapai tingkat eksistensinya. Kemungkinan sejauh ini, kemutlakan Tuhan menyebabkan manusia yang relatif itu tidak dapat menjangkau substansi Tuhan. Dengan demikian informasi tentang substansi Tuhan itu apa, tentunya berasal dari Sang Mutlak atau Tuhan itu sendiri.

Di dunia ini banyak agama yang mengklaim sebagai pembawa pesan Tuhan. Bahkan ada agama yang dibuat manusia (yang relatif) termasuk pembuatan substansi Tuhan itu tentu. Karena banyaknya nama dan ajaran agama yang bervariasi tidak mungkin semuanya benar. Kalau substansi si mutlak ini bervariasi, maka hal itu bertentangan dengan eksistensinya yang unik. Untuk menemukan informasi tentang substansi yang mutlak, yang unik dan yang distinct itu dapat menggunakan uji autentistas sumber informasinya. Terutama terkait dengan informasi Tuhan dalam memperkenalkan dirinya kepada manusia apakah mencerminkan eksistensinya itu.

Jika kita menguji segala sesuatu yang ada di alam semesta, Tuhan sepenuhnya terlepas dari segala sesuatu tersebut dan keagungan-Nya tanpa batas. Dia-meminjam term teologis- tak dapat "disetarakan"[39] (tanzih) dengan setiap dan segala sesuatu. Namun, pada saat yang bersamaan, setiap sesuatu mengejawantahkan satu atau lebih dari sifat-sifat Tuhan, dan dalam hal ini, sesuatu tersebut dikatakan "memiliki keserupaan" (tasybih) –dalam beberapa hal- dengan Tuhan.
Jadi, diantara sifat-sifat Allah, pertama, adalah sifat-sifat hakiki sempurna (haqiqiyyah kamaliyyah) seperti kemurahan (al-jud), kekuasaan (al-qudrah), dan pengetahuan (al-'ilm), yang bukan tambahan bagi Zat-Nya, melainkan Zat itu sendiri dalam arti Zat-Nya dari segi hakikatnya sebagai asal dari sifat-sifat itu dari-Nya dan substansi makna yang dikandungnya; kedua, sifat negasi murni (salbiyyah mahdhah) seperti kekudusan (quddusiyyah), ketunggalan (fardiyyah), keazalian (azaliyyah) dan sebagainya. Ketiga, sifat-sifat penisbatan murni (idhaffiyyah mahdhah), seperti pencipta pertama (al-mubdi'iyyah), pencipta dari ketiadaan (al-mubdi'iyyah), pencipta (alkhaliqiyyah), dan sebagainya yang merupakan tambahan bagi Zat-Nya, yang mengikutinya dan mengikuti apa yang dengan sifat-sifat itu dinisbahkan pada Zat-Nya dan dengan wahdaniyyah-Nya tidak membutuhkan tambahan sifat-sifat ini. Sebab ketinggian dan kemuliaan Yang Wajib Ada itu bukanlah karena sifat-sifat idhafiyyah ini, melainkan karena keberadaan-Nya di dalam Zat-Nya yang darinya muncul sifat-sifat ini. Sifat hakiki-Nya tidak banyak, tidak terbilang, dan tidak ada perbedaan di dalamnya kecuali aspek penamaan.[40]

III. Penutup
Sebagai penutup saya kutip perkataannya Al Ghazali dalam bukunya Al-Maqasidul Asna,[41] yang membahas tentang Asma' Alhusna, bahwa "Ketuhanan" adalah sesuatu yang hanya dimiliki Allah, tidak dapat tergambar dalam bentuk benak, bahwa ada yang mengenalnya kecuali Allah atau yang sama dengan-Nya, dan karena tidak ada yang sama dengan-Nya, maka tidak ada yang mengenalnya kecuali Allah. Tidak ada yang mengenal Allah kecuali Allah Yang Maha Tinggi sendiri, karena itu Dia tidak menganugerahkan kepada hamba-Nya yang termulia (Muhammad saw) kecuali nama yang diselubungi dengan firman-Nya "Sabbihisma Rabbika al A'la", Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Demi Allah tidak ada yang mengetahui Allah – di dunia dan di akhirat- kecuali Allah. Karena itu –tulis Al-Ghazali; "Jika Anda bertanya apakah puncak pengetahuan orang-orang arif tentang Allah?" Saya menjawab –kata Al-Ghazali-, "Puncak pengetahuan orang-orang arif adalah ketidakmampuan mengenal-Nya". Sesuai dengan yang diisyaratkan Nabi Muhammad saw ; Saya –Ya Allah- tidak menjangkau pujian untuk-Mu dan mencakup sifat-sifat ketuhanan-Mu. Hanya Engkau sendiri yang mampu untuk itu" – H.R. Ahmad.

Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya..
Artikel "Filsafat KeTuhanan" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori Hukum IslamIlmu FilsafatKeIslaman. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2011/11/filsafat-ketuhanan.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Kamis, 24 November 2011, pukul 03.11. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Melon Bertuliskan LA ILAHA ILLALLAH



Melon Bertuliskan La ilaha illallah - Tercetak - lapadz La ilaha illallah - Motivasi Keimanan - Melon Bertuliskan La ilaha illallah Hebohkan Warga !


Wallahu alam, walau pada kenyataannya banyak orang yang menyaksikan langsung sebuah buah melon yang bertuliskan La ilaha illallah, tapi pemiliknya tetap yakin kalu tulisan itu asli bawaannya atau alami. Tapi antara benar dan tidaknya tetap saja Wallahu alam, kalupun iya pasti saja karena memang Allah maha segalanya, dan ada satupun hal yang bukan dari ciptaan-NYA. Apapun yang terjadi semuanya kuasa-NYA, kita atau pun akal pikiran kita tidak akan mungkin bisa menjangkau apapun yang Allah kuasai tentang rahasia-Nya, dan  
yang pasti iyah dan tidak, atau benar dan salahnya, semuanya mungkin.

Seorang pedagang buah di Surabaya tepatnya di Jl Gentengkali 4, Surabaya,terkejut ketika melihat sebutir melon dagangannya, lain dari yang lain. Pada melon yang ukurannya rata-rata itu terdapat motif aksara Arab dengan lafal mirip Laailaa haillallah. Ia menyadari ‘kelainan’ melon yang dikulaknya dari Banyuwangi itu, Kamis (14/10) sekitar pukul 09.00 WIB. Pemilik toko buah Saerah itu mengatakan, kiriman tersebut tiba pukul 07.00 WIB.



“Sekitar jam 09.00, saya pilih lalu saya ikat dengan tali rafia dan akan saya gantung. Saat itulah saya baru tahu,” ungkapnya. Warga Tambaksari itu mengaku heran. Tapi, ketika diamati lebih lama, dia baru yakin bila ada lafal tulisan arab di kulit melon itu. Buah itu pun batal digantung, melainkan dipamerkan di meja, sehingga bisa dilihat pengunjung toko buahnya.

”Banyak yang kaget melihat tulisan itu, lalu mengelus-elus tulisannya untuk membuktikan itu asli atau tempelan,” ungkap Suprijadi. Ada juga pengunjung yang menawar buah berdaging segar itu. Tapi, ia belum mau melepas. Ada orang yang menawar Rp 50.000 per kilogram, sehingga dengan beratnya yang 2,6 kilogram, melon itu berharga Rp 130.000.

Ketika ditanya, bagaimana bila melon itu ditawar Rp 1 juta atau lebih, Suprijadi mengaku, belum tahu apakah akan melepas atau tidak. ”Lihat nanti sajalah. Tapi, rencananya melon akan saya simpan untuk pamor atau pelaris,” ujarnya. Dengan tidak dijual, Suprijadi berencana bertanya ke petugas di Dinas Pertanian Surabaya, bagaimana cara mengawetkan buah melon itu. Dia mengaku ingin menyimpannya sebagai kenang-kenangan.

Sementara itu, dari pengamatan, motif mirip aksara Arab itu terbentuk dari lapisan kulit luar melon yang biasanya keriput berwarna abu-abu. Sementara kulit melon sendiri berwarna kuning kehijau-hijauan. Sedangkan aksara Arab itu terbentuk dari sekumpulan sulur-sulur kulit luar yang berwarna abu-abu.

Ada dugaan tulisan itu sengaja dibentuk. Suprijadi sendiri mengaku tidak tahu bagaimana tulisan itu ada. Dia hanya merasa bahwa itu adalah petunjuk untuk diri dan keluarganya agar lebih khusyuk beribadah. Tapi, dalam beberapa informasi yang berhasil dihimpun, pembentukan buah untuk tampil beda dengan bentuk normal bisa dilakukan secara rekayasa. Seperti di Kebun Raya Mekarsari, ada buah melon berbentuk kotak.

Melon kotak itu dibuat dengan menempatkan melon itu pada cetakan kotak sejak masih kecil. Kemudian alat kotak itu akan membentuk buah melon yang terus mengalami perkembangan. Namun, alat kotak itu bersifat elastis dan transparan, menekan membentuk buah agar kotak, tapi tidak menghambat pertumbuhannya. Sementara, di melon Suprijadi, bisa jadi sulur-sulur itu dibentuk dengan menorehkan aksara Arab itu sejak melon itu masih muda. Lalu aksara itu semakin menebal seiring dengan perkembangan melon.

Nah itu lah hal ajaib yang terjadi di daerah Surabaya. Memang, benar dan tidaknya Wallahualam, cuma kita meski ingat kalau segalanya mungkin atas kuasa-Nya. Semoga bermanfaat untuk anda semua, dan dapat menjadikan kajian atas tanda-tanda kebesaran-Nya yang pasti. Dan yang pasti, semoga bisa lebih meningkatkan lagi keimanan kita pada Dzat Ilahi Robbi, ALLAH SWT.

(Sumber: Harian Surya)

Iman Zenit ( http://jadilah.com).


Baca Selengkapnya..
Artikel "Melon Bertuliskan LA ILAHA ILLALLAH" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori KeIslaman. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2011/08/melon-bertuliskan-la-ilaha-illallah.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Kamis, 25 Agustus 2011, pukul 02.05. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :
 
Is Hosted by Blogger