100100 Voting: 999,879,658

Saudaraku, Kemanakah Engkau Yang Dahulu?

saudara
Nasehat kepada diri sendiri, teman-teman kami terkhusus kepada teman-teman lama kami. Semoga Allah senantiasa menjaga diri kami dan Antum semuanya

Alhamdulillah wa sholatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala aalhi wa shohbihi wa salam

Merupakan sebuah kenikmatan tatkala Allah subhaanahu wa ta’ala menunjuki seorang hamba untuk dapat mengenal Islam. Allah ta’ala berfirman :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (آل عمران )


“Sungguh Allah telah memberikan anugerah kepada orang-orang yang beriman, tatkala (Allah) mengutus seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari golongan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka (dari kesyirikan, kebid’ahan, dan akhlak buruk lainnya [Lihat Taisir Karimirrahman]), dan mengajarkan kepada mereka al kitab dan al hikmah, meskipun sebelumnya, mereka dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imran : 164).

Bahkan nikmat hidayah Islam merupakan nikmat terbesar yang diterima seorang manusia dari Allah. Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan:

فالمهتدي هو العامل بالحق المريد له وهي اعظم نعمة لله على العبد


“Orang yang mendapatkan hidayah adalah orang yang beramal dengan kebenaran, dia menginginkan hidayah tersebut ada pada dirinya, dan ini merupakan anugerah Allah yang paling besar kepada seorang hamba.” (Miftah Dar As Sa’adah, Asy Syamilah).

Hidayah Islam akan membimbing hamba mengetahui kedudukan dirinya di hadapan Allah ta’ala. Hidayah Islam akan memahamkan hamba akan hakikat keberadaan dirinya di dunia. Hidayah Islam akan membawa hamba untuk senantiasa taat dan tunduk kepada Rabbul ‘Alamin dan menjaga diri dari perbuatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya. Sungguh… beruntunglah orang-orang yang berjalan di atas bumi ini, dengan bimbingan dan naungan hidayah Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah Perintahkan Manusia Meminta Hidayah

Di setiap rakaat dalam sholat-sholat kita, bukankah Allah perintahkan kepada kita untuk membaca surat Al Fatihah??? Bukankah dalam salah satu ayat, Allah berfirman:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ


“(Ya Allah), berikanlah kepada kami hidayah menuju jalan yang lurus” (Al Fatihah : 6).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun adalah orang yang senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala memohong hidayah. Dari shahabat Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى


“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu hidayah, ketaqwaan, penjagaan diri, dan hati yang merasa cukup”(HR. Muslim, no. 2721).

Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya tentang pentingnya meminta hidayah. Dan beliau adalah beliau, yang telah diampuni seluruh dosa dan kesalahannya, dijamin oleh Allah ta’ala dengan jaminan surga. Lantas kita… ??? Di manakah kita dibandingkan dengan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akhi… Hargailah Nikmat yang Agung Ini

Tatkala Allah ta’ala melunakkan hati seorang hamba untuk dapat menerima al haq, yang ketika itu mayoritas manusia menolaknya, maka sungguh…inilah anugerah terbesar dari Allah kepada hamba. Tidaklah kenikmatan ini didapatkan oleh semua manusia, Allah (dengan segala hikmah dan pengetahuan-Nya) hanyalah menunjuki hamba tertentu saja diantara hamba-hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman:

فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ


“Dan sesungguhnya Allah menyesatkan orang-orang yang Dia kehendaki dan Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki.”

Namun terkadang banyak manusia lalai akan nikmat yang agung ini, lalai dan menyia-nyiakannya. Benih-benih hidayah yang dahulu pernah tumbuh dalam hatinya, benih hidayah yang dahulu seseorang bisa merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah karenanya, merasakan manisnya hidup di atas sunnah… Ada sebagian manusia menelantarkan kenikmatan ini, seakan-akan mereka adalah orang yang belum pernah mengenal hidayah, kembali menjadi awwam.

Sungguh sangat dikhawatirkan apa yang menimpa kaum Yahudi, menimpa pula kepada mereka. Allah ta’ala berfirman:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ


“Tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah akan memalingkan hati mereka (dari kebenaran). Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (As Shof : 5)

Saudaraku… Ayat ini berbicara tentang orang-orang Yahudi, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran, namun tidak mau mengikutinya. Merekalah orang yang dimurkai oleh Allah ‘azza wa jalla.

Syaikh As Sa’diy rahimahullahu mengatakan, “Salah satu puncak kelancangan dan kesesatan adalah tatkala seorang manusia mengetahui kebenaran, lantas meninggalkannya. Mereka berpaling dari kebenaran dengan maksud dan keinginan mereka. Maka Allah ta’ala akan semakin memalingkan hati mereka dari kebenaran, sebagai hukuman bagi mereka, atas kesesatan yang mereka pilih. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka, karena mereka tidaklah pantas untuk menerima kebaikan, tidak pantas bagi mereka melainkan kebinasaan. (Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 758).

Beliau melanjutkan, “Ayat ini, yaitu As Shof ayat 5, menunjukkan bahwa ketika Allah ta’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik, bukanlah berarti Allah dzolim kepada mereka. Tetapi, semua ini hanyalah disebabkan karena perbuatan mereka. Mereka sendirilah lah yang menutup pintu-pintu hidayah, setelah mereka mengilmuinya.”(Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 758)

Allah ta’ala telah berfirman :

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ


“Kami palingkan hati dan penglihatan mereka, sebagaimana pada awalnya mereka tidak beriman kepadanya (Al Quran), dan Kami biarkan mereka bimbang dalam kesesatan” (Al An’am : 110)

Akhi… Kemanakah Engkau yang Dahulu…???

Kita saksikan realita dengan mata kita, sebagaian saudara-saudara kita yang dahulu bersama kita mempelajari sunnah, yang dahulu sangat semangat mengamalkan sunnah, menggebu-gebu mendakwahkan sunnah, saat ini hanyut tertelan gelombang fitnah.

Jenggot yang dahulu menjadi kebanggaan, sekarang tinggallah menjadi kenangan. Pakaian syar’i yang dahulu engkau kenakan, celanamu yang dahulu di atas mata kaki, seiring berlalunya zaman, semakin memanjang, hingga menyapu jalanan.

Lupakah engkau, wahai saudaraku… bahwa kita dahulu pernah berlomba-lomba memenuhi seruan adzan? Lupakah engkau… bahwa kita dahulu sangat semangat menghadiri kajian-kajian? Bukankah engkau dahulu terhadap teman-teman perempuan selalu menjaga pandangan?

Saudariku, kemana jilbabmu yang engkau kenakan? Jilbabmu yang dahulu engkau banggakan, jilbab yang menutup sempurna, kini semakin mengecil, lantas menghilang. Saudaraku, kemanakah dirimu yang dahulu…?

Sungguh, kita saksikan saat ini, betapa ganasnya fitnah yang melanda orang-orang yang beriman. Fitnah yang menyerang kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا


“Bersegeralah dalam beramal ketika datangnya fitnah, fitnah yang bagaikan potongan gelapnya malam, seorang yang beriman di pagi hari, menjadi kafir di sore hari atau seorang yang beriman di sore hari, menjadi kafir di pagi harinya, dia menukar agamanya dengan sebagian dari perhiasan dunia.”(HR. Muslim, no 328).

Tidaklah selamat dari fitnah ini melainkan dia yang ditunjuki oleh Allah untuk tegar menapak jalan kebenaran. Fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Hanyalah kepada Allah, seorang hamba memohon hidayah. Allahu musta’an.

Allah subhaanahu wa ta’ala adalah Dzat yang Maha Membolak balikkan hati manusia. Orang yang dahulu sangat semangat menyerukan sunnah, saat ini telah berubah menjadi seorang yang membenci sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa :

“يا مقلب القلوب ! ثبت قلبي على دينك” . فقيل له في ذلك .فقال : إنه ليس آدمي إلا و قلبه بين إصبعين من أصابع الله ، فمن شاء أقام و من شاء أزاغ


“Ya Allah, Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu”, kemudian ada yang bertanya tentang doa tersebut. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya tidaklah anak Adam melainkan hatinya berada diantara dua jari dari jemari-jemari Allah. Siapa yang dikehendaki, Allah akan luruskan dia, dan siapa yang dikehendaki, Allah akan simpangkan dia.”(HR. Tirmidzi no. 3517, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini : Sanadnya Shahih).

Saudaraku…

Ini adalah sebatas nasehat …

Bagi kami…sebagai motivator supaya tegar berjalan melawan fitnah syubhat dan syahwat…

Bagi saudara-saudara kami… sebagai pengingat agar tetap istiqomah, hingga berjumpa Allah kelak di akhirat…

Terkhusus bagi saudara-saudara lama kami… yang dahulu kita pernah bersama…

Ini sebatas nasehat…

Karena agama tidaklah tegak melainkan dengan nasehat…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ad Dinnu An Nashihat”

Washolallahu ‘ala Nabiyina Muhammad…

***

Kami nukil artikel tersebut dari teman kami Al-Akhuna Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi hafidzahullah. Semoga Allah menjaga kami dan beliau dan memberikan keistiqomahan kepada kami dan beliau.
Baca Selengkapnya..
Artikel "Saudaraku, Kemanakah Engkau Yang Dahulu?" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori nasehatSahabat. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2010/05/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Kamis, 13 Mei 2010, pukul 00.18. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Buat Sahabat - Sahabatku

Buat Sahabat - Sahabatku

menjaga rahasia itu penting, bahkan pernah dengar ada sebuah hadist berkata " jika kita berhasil membuka rahasia (aib) seseorang, maka bersiap²lah Alloh akan membuka rahasia dirimu"
sekalian baca artikel di bawah ini ya.. smoga bermanfaat… ,

Secara umum, orang merasa senang dengan banyak teman. Manusia memang tidak bisa hidup sendiri, sehingga disebut sebagai makhluk sosial. Tetapi itu bukan berarti, seseorang boleh semaunya bergaul dengan sembarang orang menurut selera nafsunya. Sebab, teman adalah personifikasi diri. Manusia selalu memilih teman yang mirip dengannya dalam hobi, kecenderungan, pandangan, pemikiran. Karena itu, Islam memberi batasan-batasan yang jelas dalam soal pertemanan.

Memilih Teman Yang Baik

Teman memiliki pengaruh yang besar sekali. Rasulullah bersabda, “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Makna hadits di atas adalah seseorang akan berbicara dan ber-perilaku seperti kebiasaan kawannya. Karena itu beliau Shalallaahu alaihi wasalam mengingatkan agar kita cermat dalam memilih teman. Kita harus kenali kualitas beragama dan akhlak kawan kita. Bila ia seorang yang shalih, ia boleh kita temani. Sebaliknya, bila ia seorang yang buruk akhlaknya dan suka melanggar ajaran agama, kita harus menjauhinya.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Jangan berteman, kecuali dengan orang mukmin, dan jangan memakan makan-anmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Ahmad dihasankan oleh al-Albani) Termasuk dalam larangan di atas adalah berteman dengan pelaku dosa-dosa besar dan ahli maksiat, lebih-lebih berteman dengan orang-orang kafir dan munafik.

Khathabi berkata, “Yang dimaksud dengan jangan memakan makananmu, kecuali orang yang bertakwa adalah dengan cara mengundang mereka dalam suatu jamuan makan. Sebab jamuan makan bisa melahirkan rasa kasih sayang dan cinta di antara yang hadir”. Adapun makanan yang memang dibutuhkan oleh mereka, maka tidak apa-apa diberikan. Allah berfirman, artinya, “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8) . Dan yang ditawan bisa saja adalah orang-orang kafir.
Demikian juga dalam pergaulan yang sifatnya umum seperti bertetang-ga, jual beli dan sebagainya, maka hukumnya masuk dalam hukum mua-malah, di mana kita boleh bermuamalah dengan siapa saja, muslim maupun non muslim.


Cinta Karena Allah

Persahabatan yang paling agung adalah persahabatan yang dijalin di jalan Allah dan karena Allah, bukan untuk mendapatkan manfaat dunia, materi, jabatan atau sejenisnya. Persahabatan yang dijalin untuk saling mendapatkan keuntungan duniawi sifatnya sangat sementara. Bila keuntungan tersebut telah sirna, maka persahabatan pun putus.

Berbeda dengan persahabatan yang dijalin karena Allah, tidak ada tujuan apa pun dalam persahabatan mereka, selain untuk mendapatkan ridha Allah. Orang yang semacam inilah yang kelak pada Hari Kiamat akan mendapat janji Allah. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat berseru, ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku, pada hari yang tidak ada perlindungan, kecuali per-lindungan-Ku.” (HR. Muslim) Dari Mu’adz bin Jabalzia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Wajib untuk mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku dan yang saling berkunjung karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Ahmad).

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , diceritakan, “Dahulu ada seorang laki-laki yang berkunjung kepada saudara (temannya) di desa lain. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Ke mana anda hendak pergi? Saya akan mengunjungi teman saya di desa ini’, jawabnya, ‘Adakah suatu kenikmatan yang anda harap darinya?’ ‘Tidak ada, selain bahwa saya mencintainya karena Allah Azza wa Jalla’, jawabnya. Maka orang yang bertanya ini mengaku, “Sesungguhnya saya ini adalah utusan Allah kepadamu (untuk menyampaikan) bahwasanya Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai temanmu karena Dia.”

Ungkapkan Cinta Karena Allah

Anas Radhiallaahu anhu meriwayatkan, “Ada seorang laki-laki di sisi Nabi Shalallaahu alaihi wasalam. Tiba-tiba ada sahabat lain yang berlalu. Laki-laki tersebut lalu berkata, “Ya Rasulullah, sungguh saya mencintai orang itu (karena Allah)”. Maka Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bertanya “Apakah engkau telah memberitahukan kepadanya?” “Belum”, jawab laki-laki itu. Nabi bersabda, “Maka bangkit dan beritahukanlah padanya, niscaya akan mengokohkan kasih sayang di antara kalian.” Lalu ia bangkit dan memberitahukan, “Sungguh saya mencintai anda karena Allah.” Maka orang ini berkata, “Semoga Allah mencintaimu, yang engkau mencintaiku karena-Nya.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Al-Albani).

Hal yang harus diperhatikan oleh orang yang saling mencintai karena Allah adalah untuk terus melakukan evaluasi diri dari waktu ke waktu. Adakah sesuatu yang mengotori kecintaan tersebut dari berbagai kepentingan duniawi?

Lemah Lembut, Bermuka Manis dan Saling Memberi Hadiah

Paling tidak, saat bertemu dengan teman hendaknya kita selalu dalam keadaan wajah berseri-seri dan menyungging senyum. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Jangan sepelekan kebaikan sekecil apapun, meski hanya dengan menjum-pai saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

Dalam sebuah hadis riwayat Aisyah Radhiallaahu anha disebutkan, bahwasanya “Allah mencintai kelemah-lembutan dalam segala sesuatu.” (HR. al-Bukhari). Dalam hadis lain riwayat Muslim disebutkan “Bahwa Allah itu Maha Lemah-Lembut, senang kepada kelembut-an. Ia memberikan kepada kelembutan sesuatu yang tidak diberikan-Nya kepada kekerasan, juga tidak diberikan kepada selainnya.” Termasuk yang membantu langgengnya cinta dan kasih sayang adalah saling memberi hadiah di antara sesama teman. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Saling berjabat tanganlah kalian, niscaya akan hilang kedengkian. Saling memberi hadiah lah kalian, niscaya kalian saling mencintai dan hilang (dari kalian) kebencian.” (HR. Imam Malik).

Saling Memberi Nasihat

Dalam Islam, prinsip menolong teman adalah bukan berdasar permintaan dan keinginan hawa nafsu teman. Tetapi prinsip menolong teman adalah keinginan untuk menunjukkan dan memberi kebaikan, menjelaskan kebenaran dan tidak menipu serta berbasa-basi dengan mereka dalam urusan agama Allah. Termasuk di dalamnya adalah amar ma’ruf nahi mungkar, meskipun bertentangan dengan keinginan teman. Adapun mengikuti kemauan teman yang keliru dengan alasan solidaritas, atau berbasa-basi dengan mereka atas nama persahabatan, supaya mereka tidak lari dan meninggalkan kita, maka yang demikian ini bukanlah tuntunan Islam.

Berlapang Dada dan Berbaik Sangka

Salah satu sifat utama penebar kedamaian dan perekat ikatan persaudaraan adalah lapang dada. Orang yang berlapang dada adalah orang yang pandai memahami berbagai keadaan dan sikap orang lain, baik yang menyenangkan maupun yang menjengkelkan. Ia tidak membalas kejahatan dan kezhaliman dengan kejahatan dan kezhaliman yang sejenis, juga tidak iri dan dengki kepada orang lain. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Seorang mukmin itu tidak punya siasat untuk kejahatan dan selalu (berakhlak) mulia, sedang orang yang fajir (tukang maksiat) adalah orang yang bersiasat untuk kejahatan dan buruk akhlaknya.” (HR. HR. Tirmidzi, Al-Albani berkata “hasan”)
Karena itu Nabi Shalallaahu alaihi wasalam mengajarkan agar kita berdo’a dengan: “Dan lucutilah kedengkian dalam hati- ku.” (HR. Abu Daud, Al-Albani berkata ’shahih’)
Termasuk bumbu pergaulan dan persaudaraan adalah berbaik sangka kepada sesama teman, yaitu selalu berfikir positif dan memaknai setiap sikap dan ucapan orang lain dengan persepsi dan gambaran yang baik, tidak ditafsirkan negatif. Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, ,,, “Jauhilah oleh kalian berburuk sangka, karena buruk sangka adalah pembicaraan yang paling dusta” (HR.Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud dengan berburuk sangka di sini adalah dugaan yang tanpa dasar.

Menjaga Rahasia


Setiap orang punya rahasia. Biasa-nya, rahasia itu disampaikan kepada teman terdekat atau yang dipercayainya. Anas Radhiallaahu anhu pernah diberi tahu tentang suatu rahasia oleh Nabi Shalallaahu alaihi wasalam. Anas Radhiallaahu anhu berkata, ” Nabi Shalallaahu alaihi wasalam merahasiakan kepadaku suatu rahasia. Saya tidak menceritakan tentang rahasia itu kepada seorang pun setelah beliau (wafat). Ummu Sulaim pernah menanyakannya, tetapi aku tidak memberitahukannya.” (HR. Al-Bukhari). Teman dan saudara sejati adalah teman yang bisa menjaga rahasia temannya. Orang yang membeberkan rahasia temannya adalah seorang pengkhianat terhadap amanat. Berkhia-nat terhadap amanat adalah termasuk salah satu sifat orang munafik.

Penutup

Persahabatan yang dijalin karena kepentingan duniawi tidak mungkin bisa langgeng. Bila manfaat duniawi sudah tidak diperoleh biasanya mereka dengan sendirinya berpisah bahkan mungkin saling bermusuhan. Berbeda dengan persahabatan yang dijalin karena Allah, mereka akan menjadi saudara yang saling mengasihi dan saling membantu, dan persaudaraan itu tetap akan berlanjut hingga di negeri Akhirat. Allah berfirman, artinya, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

Ya Allah, anugerahilah kami hati yang bisa mencintai teman-teman kami hanya karena mengharap keridhaan-Mu. Amin. (Ibnu Umar)

(Sumber : Alsofwah.or.id)
Baca Selengkapnya..
Artikel "Buat Sahabat - Sahabatku" Di Posting oleh: Dewi dari Blog Berita Online, dalam kategori Sahabat. Melalui permalink https://dewi-fortune.blogspot.com/2009/11/buat-sahabat-sahabatku.html. Rating: 1010 Voting: 97,687, Tanggal Sabtu, 07 November 2009, pukul 00.36. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :
 
Is Hosted by Blogger